Indonesia Open: Sisakan Ganda Putra, Mampukah Indonesia Saingi China dan Jepang di Tahun-tahun Mendatang?

Pebulu tangkis ganda putri Indonesia, Apriyani Rahayu (kanan) dan Greysia Polii, kalah dalam babak kedua Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (18/7). (Sumber: BBC News Indonesia/ANTARA/SIGID KURNIAWAN)

Dalam waktu hampir satu dekade belakangan, performa para pebulu tangkis Indonesia jauh di belakang tim China dan Jepang. Meski unggul di nomor ganda putra, prestasi tunggal dan ganda putri Indonesia yang rendah, menahan Indonesia pada posisinya.

Oleh: 

Jakarta, Baranews.co – Hal ini dibuktikan pada turnamen terkini. Seusai babak perempat final Indonesia Open 2019 (19/07), Indonesia hanya memiliki dua wakil di nomor ganda putra, yakni Marcus Fernaldi dan Kevin Sanjaya serta Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan.

Seluruh tunggal putra, tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran berguguran sejak babak 16 besar.

badminton

Kondisi ini sesuai dengan data Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF). Setelah prestasinya anjlok sekitar tahun 2015, badminton Indonesia mencatatkan peningkatan pencapaian pada nomor ganda putra dan tunggal putra, yang bahkan menyalip dominasi China dan Jepang.

badminton

Sektor ganda putra diperkuat Marcus Fernaldi dan Kevin Sanjaya atau yang akrab disapa duo “Minions”, ujar pengamat bulu tangkis dan wartawan senior, Broto Happy.

Marcus dan Kevin telah bertengger di posisi puncak dunia selama kurang lebih dua tahun.

Minions ANTARA
Sektor ganda putra diperkuat dengan adanya Marcus Fernaldi dan Kevin Sanjaya atau yang akrab disapa “Minions”.

Pasangan ganda putra yang lebih senior dan juara All England 2019, Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan, juga masih bertengger di 10 besar dunia.

Pada kategori ini, pencapaian Indonesia semakin trengginas melalui sokongan Fajar Alfian dan Muhammad Rian.

“Hadirnya pemain-pemain ganda yang berkualitas bisa menjaga prestasi Indonesia,” ujar Broto.

badminton

Selain itu, kata Broto, kategori tunggal putra kedatangan bakat-bakat baru, seperti Jonathan Christie, juara Asian Games 2018; dan Anthony Ginting, juara China Open 2018.

Putri Indonesia jauh di bawah China dan Jepang

Di sisi lain, meski menunjukkan perbaikan, nomor tunggal dan ganda putri masih jauh berada di bawah China dan Jepang.

badminton

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) PP Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Achmad Budiharto, salah satu penyebab rendahnya prestasi tim putri dibanding tim putra adalah karena jumlah pebulu tangkis perempuan yang lebih sedikit.

“Ibarat piramida, kalau sources-nya banyak, seleksinya juga akan semakin ketat, sehingga munculnya (pemain berkualitas) semakin banyak,” kata Achmad.

susi GETTY IMAGES
Susi Susanti disebut sebagai salah satu legenda bulu tangkis Indonesia.

“Makin banyak pemain bagus, persaingan semakin bagus, sehingga waktu naik ke level dunia pun mereka punya peluang yang lebih baik.”

Menurut pengamatannya, profesi sebagai atlet bulu tangkis masih belum menarik untuk kalangan perempuan.

“Ini PR. Kenapa ada beberapa daerah yang mengadakan turnamen khusus perempuan? Itu supaya membangkitkan animo masyarakat supaya semakin banyak orang tua yang mau mendorong putri-putrinya untuk bermain bulu tangkis,” imbuhnya.

Kendala lainnya, ujar Ahmad, adalah mencari bakat-bakat istimewa seperti yang dimiliki Susi Susanti.

badminton ANTARA FOTO
Gregoria Mariska Tunjung, salah satu pemain tunggal putri andalan Indonesia.

PBSI telah memanggil mantan pelatih Jepang, Rionny Mainaky, untuk melatih dan mendongkrak prestasi tim tunggal putri.

Rionny adalah mantan pebulu tangkis Indonesia, yang juga saudara kandung pebulu tangkis Rexy dan Richard Mainaky.

“Kita harap kehadiran Rionny bisa membuat suasana lebih segar dengan terobosan sistem pelatihan…Di Jepang salah satu kuncinya membuat pemainnya punya daya tahan, konsistensi, dan persistensi yang tinggi sekali. Itu yang dicoba digali, caranya apa, metode latihannya seperti apa,” paparnya.

Belum ada ganti ‘Butet-Owi’

Untuk partai ganda campuran, selepas pensiunnya Liliana Natsir—yang sebelumnya berpasangan dengan Tontowi Ahmad—Indonesia belum memiliki pemain unggulan lain.

Pada Olimpiade 2016 lalu, Liliana yang akrab disapa ‘Butet’ ini berhasil meraih medali emas.

Tontowi kini berpasangan dengan Winny Oktavina Kandow.

Liliana berharap Praveen Jordan-Melati Daeva Oktaviati dan Hafiz Faizal-Gloria Emanuelle Widjaja dapat menjadi penerusnya.

fgdf

Hal ini beralasan karena, menurutnya, Praveen dan Melati adalah menjadi pasangan ganda campuran Indonesia dengan peringkat tertinggi di BWF.

“Dia harus bisa menjadi pemimpin karena Melati lebih junior. Praveen sudah menjadi juara All England, lebih berpengalaman,” ucapnya.

BADMINTON ANTARA FOTO
Praveen dan Melati kini menjadi pasangan ganda campuran Indonesia dengan peringkat tertinggi di BWF.

Ia menyebut menggantikan posisinya mungkin butuh waktu.

“Butuh proses, butuh waktu, butuh sabar untuk mereka bisa menggantikan posisi Owi (Tontowi)/Butet. Posisi saya dan Owi nggak gampang. Beban selalu di kita, target juara selalu di kita,” ujar Liliana.

Bagaimana bisa lepas dari dominasi China dan Jepang?

Sejak bulu tangkis didemonstrasikan pada Olimpiade 1972, semakin banyak negara yang berusaha untuk menjadi unggulan dalam olahraga tersebut, kata Ahmad.

“Itu advanced sekali, cepat sekali berkembang negara-negara yang dulu tidak berminat (pada bulu tangkis) berlomba-lomba menekuni bulu tangkis,” ujarnya.

Contohnya, kata Ahmad, pada era Rudi Hartono yang berkarier dekade 1960-an hingga 1980-an, pemain China belum menonjol.

Lambat laun, pemain berkualitas dari Chinaserta Jepang makin bermunculan, dan itu memperketat peta persaingan, ujarnya.

badminton

Mampukah Indonesia kembali meraih kejayaan?

Lalu, mampukah Indonesia kembali ke kejayaan seperti masa lalu?

“Sulit untuk mengatakan karena persaingan di luarnya itu berbeda. Kita nggak bisa apple to apple,” ujarnya.

Pengamat Broto Happy menyebut, prestasi bulu tangkis suatu negara lebih mirip seperti cara kerja roda— kadang di bawah, kadang di atas.

Hal itu, dalam pandangannya, sangat dipengaruhi oleh performa negara lain.

Lee Chong Wei AFP/GETTY IMAGES
Lee memenangi All England pada 2017 lalu. Sepanjang kariernya, dia mencetak 705 kemenangan dan 69 gelar juara.

Dicontohkan Broto, Lee Chong Wei bertahan di posisi puncak selama bertahun-tahun, karena ‘musuh bebuyutannya’, seperti Taufik Hidayat dan pemain Denmark Peter Gade, sudah pensiun.

Begitu Lee Chong Wei sakit, lanjutnya, laju performa tim Malaysia pun stagnan.

“Begitu pula dengan Minions. Pemain-pemain top dunia lagi turun saat ada Minions,” ujar Broto.

Sementara itu, tren menunjukkan generasi muda pemain bulu tangkis kini mulai mendominasi.

badminton

“Mungkin karena persaingannya lebih ketat mau nggak mau mereka berusaha lebih cepat ‘matang’,” ujar pengamat badminton, Broto Happy.

badminton

Apa target Indonesia ke depan menuju Olimpiade?

PBSI menargetkan satu medali emas pada Olimpiade 2020 tahun depan dari nomor ganda putra.

Menjelang Olimpiade, Sekjen PBSI, Achmad Budiharto, mengatakan tim akan fokus meraih peringkat yang baik untuk lolos pada kualifikasi Olimpiade, yang kini tengah berjalan.

“Paling tidak, pasangan ganda ada di delapan besar dunia. Kalau tunggal ada di 16 besar dunia,” ujarnya.

“Itu yang dikejar pemain-pemain kita,” katanya.

badminton GETTY IMAGES
Indonesia meraih satu emas dari partai ganda campuran pada Olimpiade 2016 lalu

Sementara itu, Broto mengimbau tim Indonesia semakin selektif dalam memilih turnamen yang akan diikuti agar performa para atlet maksimal.

Ia juga menekankan pentingnya sport science (sains olahraga), yaitu ilmu yang bisa diterapkan untuk mengoptimalkan hasil olahraga.

Salah satu unsurnya adalah analisis pertandingan, di mana kata Broto, para atlet harus diajak untuk menganalisis video pertandingan.

Hal itu, katanya, sangat penting untuk memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing pemain. (BBC News Indonesia)/swh

Naskah: Callistasia Wijaya, Grafis: Davies Surya, Olah Data: Leben Asa.