IRAN: Khawatir Tampil Solo, Otoritas Iran Deportasi Penyanyi Joss Stone

Sumber: dw.com

Penyanyi soul Inggris Joss Stone dideportasi dari Iran akhir Juni lalu. Kantor berita pemerintah “IRNA” (4/7) mengatakan, dia tidak punya dokumen perjalanan yang diperlukan.

Teheran, Baranews.co – Joss Stone bermaksud melakukan perjalanan ke Pulau Kish di selatan Iran hari Minggu (29/6) melalui Oman. Namun dia ditolak masuk otoritas setempat dan harus menginap semalam di bandara. Namun pihak Iran membantah artis Inggris itu ditahan, seperti yang dia klaim dalam video yang diposting di Instagram. Joss Stone hanya menghabiskan satu malam di bandara dan mengambil penerbangan berikutnya ke Uni Emirat Arab, kata Iran.

Lembaga penyiaran pemerintah, IRIB, mengutip pernyataan polisi yang mengatakan bahwa Joss Stone tidak memiliki dokumentasi yang diperlukan untuk memasuki negara itu ketika dia tiba denganpenerbangan dari Oman.

Turis asing tidak memerlukan visa masuk untuk melakukan perjalanan ke Kish, yang punya status khusus sebagai zona perdagangan. Tetapi Joss Stone ditahan tak lama setelah tiba di bandara Kish. Dia sendiri menduga karena otoritas Iran khawatir dia tampil secara spontan di depan publik.

Joss Stone Live Konzert Rock in Rio USA Las Vegas Nevada (Getty Images /E.Miller)Joss Stone ketika tampil di Las Vegas, Mei 2015

“Kami sadar tidak mungkin ada konser publik karena saya seorang perempuan, dan itu ilegal di negara ini,” tulis Joss Stone di Instagram.

Perempuan memang dilarang menyanyi solo di depan umum di Iran sejak revolusi Islam tahun 1979.

Sebelumnya Joss Stone sudah tampil di 199 tempat dalam rangka “Total World Tour” yang dia mulai lima tahun lalu. Seandainya tampil di Kish, itu akan menjadi penampilannya yang ke-200.

“Total World Tour” adalah proyek ambisius Joss Stone untuk bisa tampil di setiap negara yang ada di dunia. Dia sudah tampil antara lain di Libya, Sudan Selatan dan di Pyongyang.

Sekalipun menyesalkan deportasinya, Joss Stone menggambarkan para pejabat imigrasi Iran sebagai “orang-orang yang benar-benar baik, yang merasa buruk karena mereka tidak dapat mengesampingkan sistem.” Dia menulis, mereka menolaknya masuk “dengan berat hati”. [hp/vlz (afp, ap)]/dw.com/swh