Kemenangan Trump Bukan karena Kampanye yang Kontroversial

Ilustrasi: Hillary dan Trump (Sumber: theatlantic.com)

“Wah, kita bisa kedodoran, nih.” Itulah yang selalu dikeluhkan beberapa relawan pendukung Paslon Capres/Cawapres No 01 pada Pilpres 2019.

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Rupanya, mereka melihat kemenangan Donald Trump pada Pilpres AS tahun 2018 karena gaya kampanye Trump. Dalam setiap kesempatan kampanye Trump selalu memakai cara-cara yang kasar, al. mengejek pesaingnya dalam konteks perempuan, menyampaikan informasi yang tidak akurat, dll. Gaya ini disebut-sebut dicangkok mentah-mentah oleh salah satu capres pada Pilpres 2019.

Banyak yang mengatakan bahwa dengan menyampaikan informasi yang ngawur pun tidak masalah karena itu jadi pengingat bagi calon pemilih.

Maka, ketika Capres 02 Prabowo Subianto mengejek bahkan cenderung menghina (tampang) orang Boyolali, maka hasilnya justru terbalik. Di bilik suara orang Boyolali memang mengingat Prabowo, tapi sebagai orang yang pernah mengejek mereka. Hasilnya di 61 TPS (tempat pemungutan suara) suara untuk pasanan 02 Prabowo-Sandiaga nol (mediaindonesia.com, 18/4-2019).

[Baca juga: “Tampang Boyolali” Bisa Dianggap Cemoohan Berbau Marginal]

Langkah yang dilakukan oleh Trump sehingga dia menang bukan karena materi kampanyenya semata yang kontroversial, tapi karena lawannya adalah seorang perempuan. Sebuah studi yang dilakukan oleh perusahaan konsultan “Kantar Public” menunjukkan ” …. hanya kurang lebih separuh orang Amerika yang benar-benar merasa nyaman dengan ide wanita menjadi presiden.” (VOA Indonesia, 30/11-2018).

Merasa nyaman tentulah tidak otomatis bersedia memilih perempuan jadi presiden. Merasa nyaman bisa saja karena terpaksa mempunyai presiden perempuan karena mereka kalah dalam pemilihan presiden. Itu artinya ketika terjadi persaingan antara laki-laki (Trump) dengan perempuan (Hillary Clinton) dalam pilpres tahun 2016 Warga yang merasa nyaman dengan ide perempuan jadi presiden bisa jadi tidak memilih Hillary.

Lebih lajut dilaporkan bahwa biar pun 63 persen orang Amerika tidak mempersoalkan seorang wanita menjadi pemimpin perusahaan besar, namun hanya 52 persen yang merasa nyaman dengan skenario seorang perempuan menjadi presiden.

Jumlah 52 persen itu hanya pada tingkat skenario atau ide jika seorang perempuan jadi presiden. Tidak ada angka berapa persen warga Amerika yang setuju atau mau memilih perempuan sebagai presiden. Biar pun setuju dengan ide atau skenario perempuan jadi presiden tidak pula jadi pegangan bahwa mereka (baca: laki-laki) akan memilih perempuan dalam pemilihan presiden.

Rupanya, bagi laki-laki warga Amerika mereka cenderung cocok dengan pempimpin berdasarkan gender. Itu artinya mereka akan menjatuhkan pilihan kepada calon presiden laki-laki.

Sebaliknya, perempuan justru menilai kapasitas pemimpin dengan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Laporan tsb. menyebutkan 60 persen perempuan setuju perempuan sebagai panglima atau commander-in-chief,  dibandingkan dengan laki-laki yang hanya 45 persen setuju.

Bahkan sebelum Trump, warga AS yang kental dengan perbedaan kulit pun (rasis) justru memilih presiden yang berlainan warna kulit dengan mereka daripada dipimpin oleh seorang perempuan yang kulitnya sewarna dengan mereka.

Membabi-buta dengan materi kampanye copy-paste dari pidato capres sebuah negara tanpa memperhatikan kecenderungan warga dalam memilih pemimpin akhirnya jadi bumerang. * [kompasiana.com/infokespro] *