PEMAIN BINTANG: Sang Maestro Masih Penasaran

Kapten tim nasional Argentina Lionel Messi berjalan menuju tengah lapangan di saat para pemain tim nasional Brasil merayakan gol yang dicetak oleh Gabriel Jesus pada laga semifinal Copa America di Stadion Mineirao, Belo Horizonte, Brasil, Rabu (3/7/2019) pagi WIB. Brasil menang 2-0 dan melaju ke final. (Sumber: Kompas/AFP/NELSON ALMEIDA)

Bintang Argentina Lionel Messi kembali merasakan pengalaman yang sama di Stadion Mineirao, Belo Horizonte, Brasil, Rabu (3/7/2019) pagi waktu Indonesia. Ia dan rekan-rekannya mengakhiri laga sambil tertunduk lesu. Ia pun harus kembali menjalankan tugas berat untuk meyakinkan publik Argentina bahwa mereka masih punya masa depan cerah.

Stadion Mineirao rupanya tidak lagi membawa kesialan bagi Brasil seperti ketika Brasil pernah digilas Jerman 1-7 pada laga semifinal Piala Dunia 2014. Di stadion itu, Brasil justru bisa mengalahkan Argentina 2-0 pada laga semifinal Copa America 2019, Rabu kemarin. Hasil ini memaksa Messi kembali ke masa penantian.

Sejak tampil bersama tim nasional Argentina pada Piala Dunia Jerman 2006, Messi sampai saat ini belum berhasil mempersembahkan trofi di kompetisi mayor dan membuat negerinya sendiri bangga. Tugasnya di timnas seolah begitu berat, tidak semudah seperti yang ia lakukan bersama klubnya, Barcelona. Bersama Barcelona, Messi bisa mempersembahkan 10 gelar juara Liga Spanyol dan empat trofi Liga Champions.

Kegagalan di timnas itu sempat membuat Messi menyerah. Usai dikalahkan Chile pada final Copa America Centenario 2016 di Amerika Serikat, Messi menyatakan ingin pensiun dari timnas. Namun, ia kemudian meralat keputusannya itu dan kembali tampil berseragam putih-biru.

Masalah yang muncul kemudian masih sama, Messi belum bisa menjadi pahlawan bagi negerinya. Ia gagal membuat Argentina sebagai tim yang menakutkan di ajang Piala Dunia Rusia 2018 dan kini mereka harus tunduk terhadap rival utamanya di Amerika Selatan.

Meski demikian, ada perbedaan yang terjadi pada diri Messi kali ini. Kepada para wartawan yang mewawancarainya di area mixed zone di Stadion Mineirao, Messi mengungkapkan sinyal bahwa ia belum menyerah. “Ya, entahlah. Saya merasa sangat nyaman di tim ini. Argentina memiliki tim yang masih bisa terus berkembang dan kalau saya diminta untuk membantu, saya akan datang,” katanya seperti dikutip Ole.

REUTERS/UESLEI MARCELINO

Lionel Messi tertunduk kecewa setelah timnya, Argentina, kalah 0-2 dari Brasil pada laga semifinal Copa America di Stadion Mineirao, Belo Horizonte, Brasil, Rabu (3/7/2019) waktu Indonesia. Messi yang meraih segalanya bersama Barcelona belum bisa membawa timnas Argentina berjaya di kejuaraan besar, seperti Piala Dunia dan Copa America.

Usia Messi kini 32 tahun dan ia masih bisa menunjukkan penampilan terbaiknya. Tahun depan, ketika ia berusia 33 tahun, Argentina akan menjadi tuan rumah Copa America 2020 bersama Kolombia dan janggal jika Messi tidak ada. Lalu pada 2022, ketika berusia 35, masih mungkin bagi Messi untuk tampil di piala dunia terakhirnya.

Optimisme yang ia ungkapkan itu punya alasan yang kuat. Sejak tampil buruk pada laga pertama di ajang Copa America kali ini, Argentina mampu belajar dan memperbaiki kesalahannya. Meski kalah dari Brasil pada babak semifinal, mereka tetap kalah secara terhormat karena mampu memberikan perlawanan. Bahkan, laga kontra Brasil itu merupakan laga terbaik Messi di turnamen tersebut.

Pelatih Brasil Tite sampai menyebut Messi sebagai makhluk dari planet lain yang harus dilumpuhkan. “Keputusan saya untuk memainkan Roberto Firmino, Philippe Coutinho, Arthur, dan Casemiro sangat penting untuk mengendalikan permainan dan mencegah si makhluk dari planet lain itu menguasai permainan,” ujarnya.

Sebuah awal

Messi kali tidak kali ini tidak menyerah karena melihat Argentina baru saja memulai sebuah awal yang menjanjikan untuk penampilan mereka pada kompetisi berikutnya. Argentina memiliki banyak talenta dan terus berkembang dari segi taktik. Mereka bisa melupakan kegagalan ini dan menganggap Copa America 2019 sebagai wahana penting bagi tim untuk mematangkan diri.

Selama mengikuti Copa America 2019, pelatih Argentina Lionel Scaloni pun masih terus bereksperimen dengan merotasi pemain di setiap laga. Hanya pada dua laga terakhir ia menggunakan susunan pemain yang sama.

Namun, ketika ditanya mengenai masa depan Scaloni, Messi tidak memberi pujian dan juga kritikan. Scaloni masih berstatus pelatih sementara dan masih sangat mungkin diganti. Bagaimanapun juga, pelatih yang tepat bisa membuat masa penantian Messi untuk mendapatkan trofi akan cepat berakhir. “Ini adalah awal dari sebuah masa depan. Tim harus terus bisa berkembang,” ujar Messi. (AP/AFP)/HERPIN DEWANTO PUTRO/Kompas Cetak