3 Mahasiswa ITS Ciptakan Ini untuk Atasi Pencemaran Limbah Laundry

Tiga mahasiswa Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan Green Laundry. Mereka berupaya menyulap limbah laundry menjadi limbah yang aman dan layak buang.

Surabaya – Tiga mahasiswa Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan Green Laundry. Mereka berupaya menyulap limbah laundry menjadi limbah yang aman dan layak buang.

Menjamurnya jasa laundry di masyarakat membantu menghidupkan ekonomi masyarakat modern. Namun di sisi lain, usaha laundry juga menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Itu karena pelaku usaha seringkali mengalirkan limbahnya secara langsung ke badan sungai atau saluran air.

Menyadari hal itu, tiga mahasiswa Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyulap limbah laundry menjadi limbah yang aman dan layak buang. Ketiga mahasiswa itu yakni Alvin Romadhoni Putra Hidayat, Ahnaf dan Vina Rizky Andina. Mereka berkarya di bawah bimbingan Nurul Widiastuti SSi MSi PhD.

Ketua tim Alvin Romadhoni Putra Hidayat mengatakan, limbah laundry memiliki kandungan zat kimia. Yaitu surfaktan dan senyawa fosfat yang tinggi. Kedua zat ini berfungsi sebagai pengikat kotoran yang menempel pada pakaian.

Menurutnya, ketika dibuang ke air akan mengakibatkan pengurangan kadar oksigen dalam air. “Hal itu dapat mengancam keberlangsungan hidup biota air,” ujar Alvin, Kamis (4/7/2019).

Oleh karena itu, Alvin dan rekan-rekannya menciptakan ide Green Laundry. Mereka merampungkan material pengolahan limbah cucian tersebut berupa membran atau selaput tipis selama dua bulan.

Membran itu tersusun dari senyawa kimia titanium oksida yang di-doping dengan nitrogen yang berasal dari urea. Menurut Alvin, alasan dipilih urea karena tidak menimbulkan masalah limbah baru dalam proses pengolahan.

“Proses doping digunakan untuk mempengaruhi karakter material, sehingga lebih efektif dalam melakukan penyaringan”, imbuhnya.

Alvin menambahkan, aktivitas membran tersebut masih belum optimal ketika dilakukan pengujian. Sehingga ditambahkan senyawa kimia polimer yaitu polietilena glikol dan poliester sulfon.

“Berdasarkan studi literatur, kedua polimer ini membantu meningkatkan aktivitas penyaringan pada membran,” urainya.

Menurutnya, cara kerja membran ini cukup sederhana, di mana surfaktan dan senyawa fosfat yang terkandung dalam limbah ditahan oleh membran tersebut karena ukuran pori yang sangat kecil. “Di sinilah terjadi proses penyaringan, sehingga air limbah menjadi jernih, aman dan layak dibuang,” jelasnya.

Pernyataan tersebut dikatakan Alvin bukanlah tanpa alasan. Hasil penyaringan air limbah laundry tersebut dianalisis menggunakan alat refluks dan winkler dan terjadi penurunan kadar Kebutuhan Oksigen Kimia (COD) dan Kebutuhan Oksigen Hayati (BOD) sebesar 85 persen dan 83 persen.

Secara sederhana, semakin tinggi kadar COD dan BOD, maka semakin tinggi reaksi kimia dan bakteri menghabiskan oksigen di dalam air untuk menguraikan air limbah. “Banyaknya oksigen yang dihabiskan mengakibatkan kadar oksigen dalam air semakin sedikit,” lanjutnya.

Inovasi yang dikembangkan tim dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), diharapkan bisa lolos untuk ditunjukkan sebagai bentuk karya penelitian pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-32 pada Agustus mendatang. “Kami sangat bangga ketika kami berhasil menjadi perwakilan ITS serta mendapatkan medali emas kelak,” pungkas mahasiswa asal Surabaya itu. (detik.com/hp)