PSIKOLOGI: Pertemanan Baru Suami

Ilustrasi (Sumber: Kompas)
Sawitri Supardi Sadarjoen (Sumber: Kompas/RON)

Oleh: SAWITRI SUPARDI SADARJOEN

Kasus: L (perempuan, 38 tahun) menjalin perkawinan dengan I (laki-laki, 43 tahun) selama hampir 10 tahun. L adalah pasangan seksual pertama bagi I. Sudah sekitar 2 tahun terakhir ini I menjalin pertemanan dengan M (perempuan, istri seseorang, berusia 40 tahun), rekan sesama kerja I di suatu perusahaan. I meyakinkan L bahwa pertemanan I dengan M adalah sekadar pertemanan biasa. Namun L merasakan perasaan kurang nyaman dengan cara pertemanan suaminya tersebut.

Apalagi L juga mempertanyakan tentang saat ciuman yang diberikan I kepada M yang tampak penuh gairah pada acara minum-minum santai antarkaryawan perusahaan di mana I dan M bekerja yang kebetulan juga menyertakan anggota keluarga. Beberapa kali L meminta kejelasan tentang relasinya dengan M tersebut, dan I selalu menyatakan bahwa L terlalu emosional yang berlebihan terhadap pertemanannya dengan M. Namun, pada kenyataan sebenarnya, I hampir selalu menghubungi M melalui telepon, joging bersama sebelum jam kantor, dan saling berkirim e-mail pada malam hari.

Setiap L mempertanyakan pertemanan I dengan M, I selalu meyakinkan L bahwa tidak terjadi hal-hal yang tidak baik dalam pertemanan tersebut. Namun, sebagai istri, intuisi L selalu merasakan kecurigaan oleh sifat pertemanan suaminya dengan M. Oleh karena membicarakan soal itu dengan I tidak menghasilkan jawaban yang menenangkan L, suatu hari L mengajak I dan M makan malam bersama untuk menjajaki permasalahan pertemanan I dengan M. Saat makan bersama pun tidak menghasilkan pernyataan keduanya yang bisa membuat hati L tenang.

Beberapa bulan sebelum L menghubungi saya, L bercerita bahwa ternyata atas inisiatif L, I setuju menghubungi konselor perkawinan lain. Saat itu L berharap akan mendapat solusi atas kegalauannya karena L merasa dengan kehadiran terapis perkawinan L dan I akan menemukan iklim relasi yang netral. L bisa memusatkan perhatian pada isu keintiman relasi suami-istri. Ternyata, proses terapi berjalan dalam suatu lingkaran yang tidak berujung pangkal.

Menurut saya, ketidakberhasilan konseling disebabkan oleh kenyataan bahwa apabila salah satu pasangan tidak mengakui adanya relasi intim yang menyertakan perselingkuhan beserta penyertaan emosi yang terlarut, apa pun yang diupayakan terapis tidak akan mendapat hasil yang memuaskan bagi kedua pasangan yang mengalami kegalauan oleh ”pertemanan” suami dengan M. Mengapa? Dalam proses konseling perkawinan dibutuhkan kerja sama yang konstruktif antarpasangan untuk bisa mendapatkan solusi yang tepat.

Kemudian L menghubungi saya dan menceritakan bahwa sebenarnya L bukanlah tipe pribadi yang cemburuan, posesif, dan insecure. Namun, L benar-benar merasakan masa yang penuh ketidaknyamanan perasaan oleh pertemanan suaminya dengan M. Ia ingin rasanya untuk segera memisahkan pertemanan tersebut, tetapi akhirnya terpikir juga oleh L, andai dipaksa dipisahkan, pasti pertemanan tersebut akan berlanjut lagi walaupun keduanya berada di tempat yang terpisah.

Percayailah kata hatimu
Adalah perilaku yang tidak bijak apabila kita mengikuti kondisi emosi sambil terus-menerus memberikan reaksi berlebihan secara emosional pula. Agar L memperoleh cara bertindak yang tegas saat kondisi emosi begitu galau, L harus mendapatkan kunci bagi peluang bersikap tegas di antara kecemasan dan kegalauan yang dialami secara berlanjut tersebut.

Pada saat yang sama, L pun harus mendengar suara bahasa tubuhnya sendiri. Rasa cemburu dan amarahnya merupakan refleksi insting yang lebih baik daripada berkutat dengan rasa posesif dalam hati L akan kehadiran I. Walaupun I menolak dan tidak mengakui akan keberadaan relasi seksual dengan M dan mengabaikan perasaan romantisisme antara I dan M, tetapi adalah hal yang naif untuk memercayai penjelasan I tersebut.

Mungkin, apa pun yang terjadi antar I dan M pasti menyita banyak energi dari L. Mungkin saja I membohongi L dan dirinya sendiri. Bahkan, kalaupun hubungan I dan M masuk ke dalam situasi plateau terkait dengan masalah waktu dan peluang positif yang dihadapi, pastinya relasi tersebut akan berlanjut ke arah sesuatu yang lebih intim, di kemudian hari dan di mana pun mereka tinggal kelak. Energi mental L terkuras saat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam pertemanan I dengan M.

Dilema yang dihadapi L tidak memiliki solusi tunggal atau solusi yang jelas. Dan, ketahuilah bahwa setiap pasangan yang berbeda akan mengatasi permasalahan seperti itu dengan cara berbeda pula, apalagi jika permasalahan tersebut muncul dalam waktu yang berbeda pula. Dalam perkawinan saya sendiri dengan suami, memang sedini mungkin, saya merestui pertemanan suami dengan wanita lain dan bahkan saya bisa pergi bersama mereka walaupun pada dasarnya terkadang saya merasa terancam.

Semakin bertambahnya usia saya, saya ternyata akan serta-merta mengentakkan kaki saya sebagai protes, tentu saja saat saya merasa terancam oleh kedekatan suami dengan teman perempuannya. Sebagai penyertaan tambahan dari entakan kaki saya, saya akan terbuka mengenai kondisi kepekaan perasaan yang saya hayati pada saat tertentu.

Pada umumnya, para pasangan perkawinan dapat dipastikan bahwa pasangan yang memberi kebebasan individual bagi suaminya untuk menjalin pertemanan dengan perempuan lain pasti berharap tidak mengganggu relasi yang sehat dalam kebersamaannya dengan pasangan perkawinannya.

Pengalaman hidup L menjadi pengingat bahwa upaya seksual adalah suatu realitas dalam kehidupan manusia. Mengabaikan seseorang atau pasangan akan membuat mereka peka terhadap masalah seksual, terbebas dari daya tarik seksual di luar rumah tangga. Tidak ada perkawinan yang bebas dari perselingkuhan yang biasanya melalui pertemanan dan sering berakhir dengan peningkatan dan kedalaman berlebih terhadap jalinan pertemanan tersebut.

Dalam situasi ini, L sama sekali tidak membuat I bergerak mendekat kepada M, atau mencegah terjadi peluang kedekatan I terhadap M. Tetapi, L tentu saja sangat menderita secara emosional. L membutuhkan kemampuan untuk mengungkapnya secara verbal yang mungkin bisa mengarahkan kadar kejelasan guna cara meraih solusi yang tepat demi mempertahankan perkawinan dan melanjutkan serta menjaga percakapan antar-pasangan.

Memang ada beberapa kali L merasa ingin mengungkap hal-hal sebagai berikut: ”Saya tidak bisa bertahan dengan situasi ini! Akhirilah hubunganmu dengan M, atau saya akan mengurus perceraian!” Permasalahan yang akan muncul dengan terungkapnya reaksi yang bersifat ultimatum tersebut akan mengundang lebih banyak alasan dan kebohongan I terhadap L.

Saat mendengar ancaman perceraian, biasanya pasangan yang tidak setia akan merasa dikendalikan, dan akan justru semakin mendekat kepada orang ketiga tersebut. Ternyata, ancaman-ancaman tidak menjamin kesetiaan atau kepercayaan yang hakiki. Ancaman perceraian tidak ada gunanya bagi perbaikan relasi suami-istri, apalagi jika berangkat dari posisi kemarahan serta jarak emosional.

Hal yang lebih penting adalah tetaplah bertahan pada hubungan yang terjalin, lanjutkanlah konversasi tentang persoalan yang dihadapi bukan oleh karena kemarahan yang dirasakan, apalagi dengan cara menjaga jarak emosional dengan pasangan.

Yang paling tepat dilakukan adalah tetap bertahan dalam koneksi dengan pasangan dan melanjutkan percakapan terkait dengan permasalahan yang dihadapi tanpa menjaga jarak atau menyalahkan perilaku pasangan yang tidak setia. Cara tersebut menjadi cara yang paling tepat walaupun melalui jalan yang sulit ditempuh.

Karena relasi dengan pasangan memiliki sejarah yang bermakna, di belakang hari L ingin sekali melakukan segala sesuatu yang mampu ia lakukan demi terselamatkannya keluarga yang telah terbina selama hampir 10 tahun. L ingin mengakhiri permasalahannya dengan cara yang solid karena mengetahui bahwa L telah menjalankan perannya dalam ikatan perkawinan dengan I dari sisi yang terbaik. Untuk itu, saya memberikan dukungan yang kuat agar L memusatkan perhatian pada perkawinannya dan mencoba sebaik mungkin untuk merawatnya walaupun dari sisi I, L merasa dijauhkan secara emosional serta diabaikan oleh I.

Selanjutnya, saya menyarankan agar L mengambil sisi akomodatif dengan posisi menerima. Dengan demikian, L benar-benar berupaya mengambil jalan terbaik bagi keutuhan perkawinannya.

Pada saat yang sama, saya membantu L untuk tetap mempertahankan lini komunikasi terbuka dengan I sehingga materi utama dalam relasi I dengan M tidak terasa terendahkan bagi I. Dalam pada itu, L secara berlanjut mengutarakan keprihatinannya serta rasa sakitnya dan menanyakan tentang pertemanan I dengan M serta pengalaman I tentang perkawinannya dengan L.

Dalam situasi seperti itu, L sangat memerlukan kekuatan diri dalam pengendalian emosinya sehingga apa yang diungkapkan akan terasa mantap dan jelas. Selama waktu sulit tersebut, L membutuhkan upaya untuk menjaga kesejahteraan mentalnya sendiri. Untuk itu, saya menyarankan beberapa hal sebagai berikut:

1. L harus mencari dukungan moral dari lingkungan pergaulannya. L tidak perlu merasa malu oleh kondisi perkawinannya saat ini karena semakin L menyembunyikannya terhadap lingkungan, semakin tegang perasaan L, dan membuat dirinya pun semakin malu pada lingkungan pergaulannya.

L harus bicara dengan teman yang tepercaya atau keluarga yang tepercaya karena situasi yang dihadapi sangat sulit. Sementara itu, L pun harus menjaga relasi dengan terapis agar memperoleh masukan yang membuatnya merasa menjadi lebih baik.

2. L harus memiliki aktivitas fisik yang kreatif dan bisa membuatnya menjadi lebih sehat secara fisik, misalnya yoga, berdansa, berjalan-jalan, dan mengunjungi aktivitas budaya yang akan membuatnya lebih hidup dalam upaya memperbaiki perkawinannya.

Aktivitas tersebut di atas akan membuat L menjadi lebih tenang dan terhindar dari kecemasan berlanjut. Dengan sikap positif tersebut, peluang L untuk membuat I kembali dalam kehidupan berkeluarga dan melepas pertemanan yang tidak sehat tersebut di atas. Semoga (Kompas Cetak)