TURKI: Calon Erdogan Kalah Lagi di Pemilu Ulang Wali Kota Istanbul

Sumber: dw.com

Calon oposisi Ekrem Imamoglu kembali mengalahkan kandidat yang diusung Presiden Recep Tayyip Erdogan. Pemilihan wali kota Istanbul diulang setelah partai Erdogan AKP memrotes kekalahan tipis mereka.

Istanbul, Baranews.co – Pemilu ulang wali kota Istanbul hari Minggu (23/06) menjadi pukulan telak bagi Presiden Recep Tayyip Erdogan dan calon wali kota dari partainya AKP, mantan Perdana Menteri Binali Yildrim. Kalau dalam pemilu pertama Yildrim hanya kalah sekitar 17.000 suara, kali ini selisih kekalahannya mencapai hampir 800 ribu suara.

Ekrem Imamoglu dari Partai Rakyat Republik sekuler (CHP) mendapatkan 54,21 persen suara. Tiga bulan lalu, dia juga memenangkan pemilu wali kota tapi dengan selisih suara tipis.

Ketika itu Partai Presiden Erdogan AK mengajukan protes setelah Komisi Pemilu menyatakan kemenangan Imamoglu. Pengadilan kemudian memutuskan pembatalan hasil pemilu itu karena AK menuduh terjadi penyimpangan yang luas. Keputusan untuk melakukan pemilu ulang sempat dikritik di dalam dan luar negeri.

Namun kali ini kemenangan Imamoglu terlalu besar, sehingga sulit untuk diganggu-gugat.

“Di kota ini, hari ini, Anda telah memperbaiki demokrasi. Terima kasih Istanbul,” kata Imamoglu di hadapan pendukungnya di Istanbul.

“Kami datang untuk merangkul semua orang,” tambahnya. “Kami akan membangun demokrasi di kota ini, kami akan membangun keadilan. Di kota yang indah ini, saya berjanji, kami akan membangun masa depan.”

Setelah Binali Yildrim tampil di depan publik dan mengakui kekalahannya, Presiden Recep Tayyip Erdogan akhirnya lewat media sosial mengucapkan selamat kepada Imamoglu atas kemenangan mereka.

Türkei Istanbul-Wahlen | Feier der Anhänger Imamoglus (picture-alliance/AP Photo/L. Piarakis)Pendukung calon oposisi Ekrem Imamoglu merayakan kemenangan dalam pemilu ulang walikota Istanbul, 23.06.2019

Istanbul kota bergengsi

Erdogan pernah mengatakan, siapa yang memenangkan Istanbul akan memenangkan Turki. Dia sendiri pernah menjabat sebagai wali kota Turki, sebelum dikenal secara nasional dan akhirnya terpilih sebagai perdana menteri kemudian sebagai presiden.

AKP memiliki dukungan luas di kalangan konservatif Turki. Namun kesulitan ekonomi dan krisis keuangan membuat pemerintahan Erdogan makin mengencangkan kontrol untuk meredam protes. Banyak wartawan dan politisi kritis yang ditahan dan dipenjara.

Setelah keputusan Erdogan untuk membatalkan pemilihan Maret, nilai tukar mata uang Turki yang sudah jatuh pun kian anjlok. Banyak warga Turki mulai khawatir dengan masa depannya dan berpaling dari Erdogan yang semakin otoriter.

Ekrem Imamoglu berhasil merebut dukungan bahkan di distrik-distrik Istanbul yang dikenal sebagai basis kubu Erdogan, yang selama 25 tahun menguasai Istanbul.

“Hasil pemilihan ulang ini adalah salah satu tanda berakhirnya kediktatoran,” kata Gulcan Demirkaya, seorang ibu rumah tangga berusia 48 tahun di distrik Kagithane yang dulu menjadi basis AKP di Istanbul.

Setelah kemenangan oposisi dalam pemilu di Istanbul, pasar saham hari Senin (24/06) menunjukkan kebangkitan dan nilai tukar mata uang Lira menguat. [hp/ae (rtr, afp, dpa)]/dw.com/swh