PSIKOLOGI: Mengubah Kebiasaan Buruk

Ilustrasi (Sumber: Kompas)

Lebaran memang sudah berlalu, namun suasana puasa Ramadhan masih melekat dalam pikiran dan perilaku kita yang menjalaninya. Salah satu nilai ibadah yang diajarkan dan ditanamkan adalah pengendalian diri.

Oleh: AGUSTINE DWIPUTRI

Pengendalian diri ini berlaku baik terhadap kebutuhan dasar manusia maupun terhadap berbagai perilaku dan kebiasaan diri yang dipandang buruk. Akan lebih positif apabila kita dapat mengubah kebiasaan buruk seterusnya sehingga kita dapat menjadi manusia yang lebih baik.

ARSIP PRIBADI

Agustine Dwiputri

Pengertian

Mayo Oshin (2019) mengatakan bahwa kebiasaan buruk adalah pola perilaku negatif yang dianggap merusak kesehatan fisik atau mental seseorang dan sering dikaitkan dengan kurangnya kontrol diri. Contohnya menunda penyelesaian tugas, menghabiskan uang terlalu banyak, menggigit kuku, merokok, mengumpat dengan kata kasar, ataupun menggunakan gawai berlebihan.

Sebenarnya tidak mudah menentukan mana kebiasaan baik dan buruk karena berbeda antar-individu. Namun, ada beberapa kebiasaan umum yang bisa diterima dan tidak diterima oleh masyarakat. Secara sederhana, kebiasaan baik adalah kebiasaan yang membantu pengembangan diri Anda dan memberi rasa puas tanpa menyakiti diri sendiri dan sesama manusia.

Mengubah kebiasaan buruk

Menghilangkan suatu kebiasaan buruk bukanlah dengan menghentikannya, tetapi menggantinya dengan perilaku lain yang lebih baik (Bob Taibbi, 2017).

Sejalan dengan ini, Darius Foroux (2019) menemukan cara yang lebih efektif untuk mengubah hidup dengan mengganti berbagai kebiasaan kita. Agak berbeda dengan pandangan sebelumnya, Foroux mengatakan, semua perilaku yang tidak memberi hasil positif adalah kebiasaan buruk.

Terkadang, hal yang tidak kita lakukan justru merupakan kebiasaan buruk. Misalnya, saya menganggap kemalasan sebagai suatu kebiasaan buruk. Jika Anda terlalu malas untuk bangun dari tempat tidur di pagi hari, malas membersihkan rumah, atau berolahraga, Anda bukanlah orang yang tidak berharga. Anda hanya punya kebiasaan buruk yang harus Anda singkirkan.

Bukan berarti setiap orang memiliki ide yang sama tentang arti hidup. Akan tetapi, jika kita yakin bahwa tujuan hidup adalah agar menjadi berguna, kita perlu kebiasaan yang tepat untuk mendukungnya.

Sederhananya, apa pun yang mencegah Anda menjadi berguna adalah kebiasaan buruk. Kita semua tahu bahwa banyak perilaku kita yang buruk. Kebiasaan makan junk food, minum alkohol, mengeluh, menjelajahi media sosial terus-menerus, atau menyerang orang adalah hal-hal buruk.

Kebiasaan ini tidak memberikan hasil yang positif. Tidak ada yang merasa senang setelah melakukan hal-hal itu. Namun, kita cenderung mengulangnya, sulit sekali menghentikannya. Mari menyimak beberapa saran dari Foroux.

Nasihat disalahpahami

Kita cenderung membentuk kebiasaan ketika berfokus pada satu kebiasaan saja pada suatu waktu. Padahal, kita memiliki kemampuan untuk membentuk lebih dari satu kebiasaan sekaligus.

Kritik paling umum tentang gagasan ”membentuk satu kebiasaan pada suatu waktu” adalah bahwa dibutuhkan ”selamanya” untuk mengubah hidup Anda. Dalam beberapa hal, itu benar mengingat kadang diperlukan waktu berbulan-bulan untuk membentuk suatu kebiasaan. Mungkin juga perlu bertahun-tahun untuk membangun fondasi kebiasaan baik yang mendukung tujuan Anda.

Kita semua memang harus lebih sabar. Hal-hal yang baik akan datang pada waktunya. Hanya saja, banyak di antara kita yang menyerah sebelum kita benar-benar membentuk suatu kebiasaan baik. Jika kita menghentikan suatu kebiasaan yang baik, kita sering kembali ke perilaku lama kita dalam waktu singkat.

Pendekatan lebih ekstrem

Mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik bukanlah nasihat buruk. Masalahnya, kebanyakan dari kita hanya menerapkan saran itu pada satu kebiasaan pada satu waktu dan biasanya itu tidak berhasil.

Jika Anda minum soda setiap hari dan makan makanan yang tidak sehat, apa yang akan terjadi jika Anda berhenti minum? Jika Anda mencoba menggantinya dengan terus makan permen, keripik kentang, atau burger, dalam waktu tidak lama kemudian Anda akan berpikir, ”Soda pasti akan terasa enak dengan burger ini”.

Jika Anda kecanduan mengonsumsi berita di media sosial dan menonton acara televisi, Anda tidak bisa ”hanya” menyingkirkan aplikasi media sosial di ponsel Anda, lalu hanya menonton film di salah satu program televisi. Sebelum Anda menyadarinya, Anda akan meng-install ulang aplikasi tersebut dengan satu klik saja. Artinya, dengan mudah Anda akan kembali pada kebiasaan lama.

Jangan menggunakan cara itu. Sebaliknya, berkomitmenlah untuk berubah. Jika Anda benar-benar ingin menghentikan kebiasaan buruk Anda, bersikaplah ekstrem pada diri sendiri. Jadi, Anda harus menganggapnya lebih serius karena hidup kita adalah masalah serius. Kita perlu mengingat bahwa jika Anda ingin menghentikan berbagai kebiasaan buruk, hentikan semuanya pada saat yang sama.

Perlu gaya hidup yang berbeda

Semuanya bermuara pada satu pertanyaan. Seberapa serius Anda menjalani kehidupan yang bertujuan? Umumnya, kembali pada berbagai kebiasaan buruk terjadi karena suatu alasan.

Hidup itu sulit, kita mengalami kemunduran, stres, dan sakit hati sepanjang waktu. Reaksi alami kita adalah melepaskan diri dari tantangan tersebut. Kita kemudian berkata: ”Aku perlu bersantai dengan secangkir kopi di sofa”. Nah, di sini sebenarnya kita menipu diri sendiri.

Kita tengah berusaha melepaskan diri dari keputusasaan hidup. Di dalam diri, kita merasa kesepian dan kosong, lalu mencoba mengisinya dengan omong kosong.

Omong kosong itu berbeda untuk setiap orang. Saya mungkin membuka sekantong keripik kentang dan menonton film, Anda mungkin menelepon teman-teman sepanjang malam, dan yang lain mungkin membeli gawai terbaru.

Akan tetapi, jika kita ingin memberikan kontribusi dan membuat diri kita berguna di masa kehidupan yang singkat ini, kita sama-sama membutuhkan gaya hidup yang berbeda.

Kita perlu menjaga tubuh dan pikiran kita. Kita perlu tidur nyenyak, makan sehat, berolahraga, membaca buku, merenungkan hidup kita, dan yang terpenting: jadilah seseorang yang dapat diandalkan orang lain. Kita tidak dapat melakukan hal ini dengan berbagai kebiasaan buruk.

Apa berikutnya?

Pikirkan tentang seberapa serius Anda menjalani kehidupan yang bermakna. Kemudian, kenali berbagai kebiasaan tidak produktif yang menghambat Anda. Setelah Anda mengidentifikasi kebiasaan itu, putuskan untuk menghentikan semuanya dan putuskan hal itu sekarang juga.

Anda tidak perlu membentuk hanya satu kebiasaan pada suatu waktu. Jika Anda menghentikan semua kebiasaan buruk Anda, Anda memiliki kemampuan mental untuk membentuk lebih dari satu kebiasaan sekaligus. Hanya ada satu keterbatasan: fokus pada satu kebiasaan per area kehidupan Anda. Pembagian area tersebut adalah karier, kesehatan, belajar, uang, dan hubungan dengan orang lain.

Untuk karier, Anda mungkin ingin tiba di kantor lebih awal setiap hari. Untuk kesehatan, Anda bisa berlari setiap hari. Untuk belajar, Anda dapat menghabiskan satu jam sehari mempelajari keterampilan baru. Untuk hubungan interpersonal, Anda bisa mempraktikkan perilaku menolong. Untuk uang, Anda dapat menghemat 20 persen dari penghasilan Anda.

Anda dapat melakukan semuanya dalam satu waktu tertentu. Hanya, peluang kesuksesan Anda akan berkurang ketika Anda mencoba untuk mengambil terlalu banyak.

Dapatkah Anda belajar banyak keterampilan secara bersamaan? Dapatkah Anda menyimpan uang untuk masa pensiun Anda dan membeli mobil baru? Mungkin dapat, tetapi Anda akan jauh lebih sukses jika melakukan satu hal pada satu waktu. Selamat mencoba. Mohon maaf lahir batin. (Kompas Cetak)