Perempuan, Muda, dan Kecanduan Film Porno

Selama ini hampir tidak ada penelitian yang menyinggung tentang dampak pornografi terhadap otak perempuan. (Sumber: BBC Indonesia/BBC/ISTOCK)

Peringatan: Artikel ini berisi penjelasan yang bersifat seksual

Baranews.co – “Saya berusia 12 tahun saat pertama kali menyaksikan adegan hubungan seks beramai-ramai,” tutur Neelam Tailor yang berusia 24 tahun.

Dalam hal ini Neelam tak sendirian – sebuah penelitian yang dilakukan tahun 2016 menunjukkan, sekitar 53% anak berusia 11 hingga 16 tahun sudah pernah menyaksikan materi pornografi secara eksplisit di internet.

Namun, sangat sedikit yang mengetahui tentang bagaimana pornografi bisa mempengaruhi perempuan dan hampir tidak ada penelitian atau survei ilmiah tentang hal ini.

Bagi Neelam, sederhana saja, semua itu berawal dari rasa ingin tahu tentang seks.

Kisah Neelam

Neelam Tailor BBC THREE
Neelam Tailor mulai menonton film porno saat berusia 11 tahun.

“Saya cukup terkejut. Saat masih anak-anak, saya mulai menonton film romantis, yang adegannya berisi orang jatuh cinta dan hubungan seks-nya baik dan bersih. Sampai kemudian saya menonton….” tuturnya pelan tanpa menyelesaikan kalimat sambil mengangkat bahu.

Neelam hampir setiap hari menonton film porno saat ia berumur sekitar 11 dan 16 tahun.

Pada masa itu dia masuk ke kamar – di sana ada poster penyanyi KT Tunstall dan foto-foto temannya yang ditempelkan di dinding, buku-buku serta catatan lain bertebaran di lantai – kemudian menutup pintu dan menjelajahi situs-situs porno “apa saja mulai dari 10 menit hingga satu jam”.

“Saya rasa orang tua saya tidak pernah tahu,” katanya.

Namun, dengan cepat ia mengatasi rasa keterkejutannya: “Saya pikir pornografi membuat Anda tidak peka lagi. Saya benar-benar sampai pada titik di mana saya tidak lagi tercengang oleh banyak hal, sungguh – dan kemudian saya melihat hal-hal yang lebih kasar dan hal-hal lain menjadi normal.”

“Saya pikir saya baru saja melihatnya di film dan ingin tahu lebih banyak. Mungkin saya punya libido yang tinggi, atau saya baru saja memasuki masa puber, saya tidak tahu, tetapi saya mulai mencari film-film yang umumnya memiliki banyak unsur seks di dalamnya. ”

Selanjutnya dia menonton berbagai materi pornografi secara eksplisit.

“Saya pernah mendengar soal pornografi di sekolah, tapi saya belajar di sekolah khusus perempuan dan hal itu selalu dilihat sebagai ‘sesuatu yang dilakukan oleh anak laki-laki’.

“Hal itu memang menggelitik keingintahuan saya, namun saya juga merasa sangat malu, seperti melakukan sesuatu yang tidak wajar, yang gadis-gadis normal tidak akan melakukannya. ”

Neelam menjadi lebih berpengalaman dengan berbagai jenis video yang ada, seleranya pun mulai berkembang.

“Saya mulai mencari-cari film porno yang isinya tentang perempuan penurut, mungkin dipaksa, bahkan mungkin terlihat seperti ia dipaksa untuk melakukannya.”

“Atau saya juga mencari film porno yang isinya para pria yang lebih tua berhubungan dengan perempuan-perempuan yang lebih muda.

“Saya tidak tahu mengapa, tetapi pada usia yang sangat muda, seperti 13 tahun, saya tidak percaya saya benar-benar mengembangkan preferensi seksual saya sendiri – saya merasa preferensi seksual dipengaruhi oleh apa yang saya lihat. ”

Kisah Sarah

Keyboard dengan kunci pink yang bertuliskan "porno" BBC THREE
Pornografi berada di ujung jari Anda.

Pengalaman serupa datang dari Sarah, 25 tahun (bukan nama sebenarnya).

“Saya mulai menonton film porno sejak usia 13 atau 14 tahun; setidaknya dua kali seminggu, mungkin lebih. Rasanya saya merasa puas memenuhi sebuah kebutuhan.

“Saya ingat betapa cepatnya saya merasa kebal – 10 pria dan satu perempuan, pesta pora kumpulan tubuh yang menggeliat, para perempuan yang ditampar atau dihina – dan saya mengakses semua ini walau saya belum pernah berhubungan seks.”

“Saya masih menontonnya, meskipun tidak sering. Namun saya pikir setelah menontonya secara teratur selama lebih dari 10 tahun, saya sekarang merasa sulit untuk orgasme tanpa beberapa tingkat stimulasi yang lebih tinggi, seperti vibrator. Atau lebih banyak film porno,” kata Sarah.

Pornografi dan (otak) kaum pria

Logo XXX GETTY IMAGES
Banyak kajian yang ditulis para ilmuwan tentang kaitan antara tayangan pornografi dan fungsi otak.

Banyak kajian yang ditulis berbagai media dan para ilmuwan tentang kaitan antara menonton tayangan pornografi yang berlebihan dengan fungsi otak.

Pada tahun 2016, Angela Gregory, seorang terapis psikoseksual Inggris yang bekerja di layanan kesehatan Inggris, mengatakan kepada BBC bahwa pornografi yang mudah diakses menyebabkan jumlah pria yang dirujuk untuk perawatan disfungsi ereksi mengalami peningkatan.

Analisis lembaga pendidikan di Inggris menunjukkan, kasus-kasus impotensi pada awal tahun 2000-an berjumlah sekitar 2% hingga 5% tatkala koneksi internet baru diluncurkan. Kini, internet disalahkan karena persentase impotensi meningkat menjadi 30%.

Dan pornografi tidak melulu terkait dengan fungsi tubuh. Para peneliti di AS mengklaim bahwa pria yang terpapar pornografi di usia muda cenderung lebih setuju dengan pernyataan yang menegaskan dominasi pria, seperti “segala sesuatu cenderung lebih baik ketika pria bertanggung jawab” .

Dr Thaddeus Birchard adalah ahli terapi perilaku kognitif dan pendiri program pelatihan pertama di Inggris yang memberi saran kepada terapis tentang cara mengobati kecanduan seks.

“Dalam populasi, pornografi umumnya merupakan keasyikan seorang pria,” katanya. “Sebagian, itu turun ke ilmu saraf”.

“Perempuan, ketika mereka terangsang, menghasilkan tingkat oksitosin yang tinggi di otak. Itu berkaitan dengan pemeliharaan dan hubungan manusia.”

“Sebagai perbandingan, pria menghasilkan vasopresin tingkat tinggi, yang berkaitan dengan kegigihan dan fokus.”

“Ini adalah salah satu alasan mengapa pria bisa berjam-jam menghabiskan waktu berselancar di dunia maya: saking fokusnya mereka lupa dengan hal-hal di sekitar,” kata Birchard.

Menurutnya, pornografi bisa lebih menarik bagi pria karena “kebanyakan perempuan tidak tertarik pada bagian tubuh”.

Siapa saja yang mempelajari dampak pornografi terhadap otak perempuan?

Simbol laki-laki dan perempuan BBC THREE / ISTOCK
Kimia otak.

Sekitar 94% dari anak berusia 11 hingga 16 tahun yang telah mengakses materi pornografi melakukannya pada usia 14 tahun, dan angka itu termasuk remaja pria dan perempuan.

Ketika saya mulai meneliti artikel ini, saya berharap bisa menemukan sedikit informasi tentang dampak pornografi pada perempuan, karena perempuan yang menonton tayangan pornografi sedikit jumlahnya.

Seperti yang ditunjukkan oleh data pengguna situs porno terkenal – tapi saya tidak mengira sama sekali tidak menemukannya.

Saya istimewa (berkulit putih, cisgender – orang yang identitas pribadi dan jenis kelaminnya sesuai dengan jenis kelamin sejak lahir) namun, saya tidak menemukan penelitian yang mencerminkan pengalaman saya.

Jadi, apakah saya satu-satunya?

Saya mulai mencari orang lain yang seperti saya, yang menyaksikan tayangan pornografi pada umumnya, untuk melihat apakah itu berdampak pada mereka.

Dalam penelitian terbaru terhadap 1.000 anak berusia 18 hingga 25 tahun, yang dilakukan untuk BBC Three, 47% perempuan telah menonton film porno pada bulan lalu dan 14% perempuan yang disurvei merasa bahwa pada suatu titik, mereka mungkin kecanduan pornografi. .

Namun, selama berbulan-bulan dan berminggu-minggu, pakar demi pakar terus memberi saya respons yang sama: perempuan tidak menggunakan pornografi secara kompulsif.

Atau jika mereka melakukannya, itu tidak banyak mempengaruhi mereka, namun para perempuan yang saya ajak bicara menceritakan kisah yang berbeda.

Apa kata perempuan tentang dampak pornografi terhadap mereka?

Perempuan menyaksikan tayangan pornografi. GETTY IMAGES
Pornografi adalah tingkat stimulasi yang sama sekali tidak wajar, terutama jika Anda memiliki 10 tab terbuka.”

Neelam berhenti menonton film porno ketika ia berusia 16 tahun, justru karena berdampak terhadap fisiknya.

“Saat pertama kali melakukan hubungan seksual dengan pacar, saya menyadari bahwa pada dasarnya saya tidak bisa terangsang dengan hubungan seks yang sebenarnya,” kata Neelam.

“Saya pikir pornografi adalah tingkat stimulasi yang sama sekali tidak alami, terutama jika Anda punya 10 tab terbuka – pasangan manusia apa yang bisa meniru itu?

“Memperhatikan perbedaan fisik ketika saya menonton film porno dan ketika saya melakukan hubungan seks yang sebenarnya. Saya menjadi sangat ketakutan. Saya seperti, ‘Apakah saya harus pergi ke toilet dan menonton film porno sebelum saya berhubungan seks hanya supaya saya dapat terangsang dengan baik?

Sejak saat itu ia berhenti menonton film porno. “Saya rasa saya tidak bisa mengatakan saya ‘kecanduan’ karena saya hanya berhenti dan tidak ingin memulai lagi.”

Hannah yang berusia 28 tahun, setuju bahwa menonton banyak film porno dapat menurunkan sensitivitas, tetapi ia juga merasa mendapat manfaat dari pengaruh film porno itu.

“Saya seorang lesbian, dan saya mulai tertarik pada perempuan dari sekitar usia delapan atau sembilan tahun.

“Itu benar-benar membuat saya merasa lebih baik,” kata Hannah. “Saat saya berumur 12 tahun saya sudah mulai merasakan gairah seksual.”

“Untuk melihat bahwa Anda bisa mengekspresikan seksualitas Anda dengan perempuan lain itu hebat. Saya pikir untuk alasan itu, pornografi bisa menjadi positif karena jika Anda belum pernah melihat orang seperti Anda, atau siapa pun yang suka dengan apa yang Anda sukai, maka Anda bisa merasa terisolasi. ”

Tetapi pada akhirnya Hannah menjadi kecewa dengan pornografi: “Kebanyakan film-film porno lesbian pada dasarnya adalah fantasi laki-laki normal tentang bagaimana seharusnya dua perempuan yang berhubungan seks. Dan itu membuat orang-orang seperti saya menjadi semacam fetish.”

“Saya bahkan lebih jauh mengatakan bahwa, bagi lesbian, pornografi telah menjadikan kita target kebencian,” kata Hannah.

“Laki-laki menjadi agresif di bar, meminta untuk mengawasi saya dan pacar saya bercumbu. Bahkan perempuan lain – perempuan normal – memperlakukanmu seolah-olah Anda semacam eksperimen untuk mereka, bukannya individu dengan perasaan dan keinginanmu sendiri.”

Pornografi, praktik seksualdan rasa malu

Pornografi BBC THREE/ISTOCK
Pornografi dan rasa malu terkadang berjalan beriringan.

Dr Leila Frodsham adalah konsultan ginekolog dan juru bicara Institute of Psychosexual Medicine.

“Saya sudah merawat orang selama 20 tahun, dan belum pernah menemukan seorang perempuan yang mengatakan bahwa ia memiliki ‘masalah’ dengan pornografi,” katanya kepada saya.

“Ada beberapa studi – satu hanya melibatkan 48 orang dan sama sekali tidak menunjukkan perbedaan dalam gairah perempuan.

“Yang lain, dari 200 perempuan di Timur Tengah, tidak menunjukkan perbedaan dalam frekuensi hubungan seks, tetapi tampaknya ada efek pada libido dan gairah, yang mereka gambarkan sebagai ‘kebosanan terhadap seks’. ”

Frodsham juga mengatakan bahwa pornografi bisa menjelaskan perubahan dalam praktik seksual.

Ia mengklaim bahwa, di tempat ia bekerja, melihat jumlah orang yang terkena penyakit seks menular di daerah wajah dan mata meningkat – bukan di alat kelamin – dan menghubungkannya dengan pornografi.

“Sekitar 20 tahun yang lalu, kami sangat jarang melihat kasus-kasus seperti ini. Tetapi sekarang mereka meningkat, dan itu karena ‘money shot‘ (istilah untuk seorang pria berejakulasi di wajah perempuan),” katanya.

Ia pragmatis tentang apa arti kurangnya literatur klinis: “Sangat menarik bahwa kita melihat peningkatan rujukan ini (untuk masalah seksual) pada pria dan bukan pada perempuan. Namun, mereka semua terpapar pornografi sejak usia dini. ”

“Saya tidak berpikir ada banyak penelitian di bidang itu, dan setiap kali tidak ada banyak penelitian, Anda harus berpikir sendiri, apakah itu karena perempuan mengalami masalah fisik atau psikologis, tetapi tidak melihat dokter mereka?”

“Apakah mereka merasa malu untuk membicarakan masalah ini? Atau karena mereka sebenarnya tidak memiliki banyak masalah?”

Cerita Erica

Erica Garza BBC THREE/ERICA GARZA
Erica Garza mencari klinik untuk mengobati kecanduan seksnya.

Penulis Amerika, Erica Garza, yang kini berusia 36 tahun, menceritakan dirinya mulai menonton film porno “softcore” atau halus pada usia 12 tahun di TV saat larut malam (saat itu tahun 1994 dan internet belum berkembang pesat).

“Saya menderita skoliosis dan harus memakai penyangga punggung ke sekolah,” jelasnya. “Saya dirisak dan merasa terisolasi, dan menggunakan pornografi dan masturbasi sebagai pelarian dan merasa baik.”

Namun, seperti Neelam, ia melakukannya dengan sembunyi-sembunyi karena merasa malu.

“Saya tidak tahu persis dari mana asalnya, tetapi ada beberapa hal yang muncul di benak saya. Saya belajar di sekolah Katolik khusus perempuan dan seks dianggap sebagai sesuatu yang terjadi antara laki-laki dan perempuan yang saling mencintai.” untuk satu alasan saja: prokreasi. ”

Erica mengatakan bahwa, seks “tidak ada hubungannya dengan homoseksualitas atau biseksualitas – dan saya selalu biseksual. Saya tidak melihat ada sesuatu yang membuat saya buruk dalam cerita saya. Jadi apa yang ada di kepala saya adalah cara yang ‘tepat’ untuk memiliki hasrat seksual “.

Juga, hanya karena menjadi seorang perempuan- perempuan sering tidak berbicara tentang apa membuatnya bergairah, mereka mungkin disebut pelacur atau kata-kata mengerikan lainnya. Dan dalam proses perasaan malu tentang keinginan kita itulah saya pikir kita mengembangkan kebiasaan kompulsif . ”

Erica tidak menonton film porno setiap hari, tetapi mengatakan itu berdampak pada kehidupan dan hubungannya.

“Itu adalah sesuatu yang membuat saya stres atau khawatir. Tetapi itu benar-benar menarik saya menjauh dari kegiatan lain. Saya mulai mengasingkan diri saya sendiri, merasa tidak enak tentang diri saya, saya pikir ada sesuatu yang salah dengan diri saya. Saya menoleh ke dalam. ”

Pada tahun 2014 ia menulis sebuah artikel di majalah Salon tentang keputusannya untuk mencari klinik yang bisa mengobati kecanduan seks.

“Saya terus mencari, mengklik situs-situs film hubungan seks massal, akhirnya saya menemukannya. Salah satu yang memberi saya sensasi kegembiraan yang menggelitik, memacu jantung, membangkitkan keringat. Video yang saya tonton sudah cukup lama, sekitar tahun 90-an, tapi itu sempurna. Lebih dari 500 pria. ”

“Saya menontonnya sekali, dua kali, kemudian tiga kali dan menyimpannya untuk ditonton lagi. Namun setelah saya menyingkirkan komputer saya, saya merasakan sesuatu yang berbeda dari saat sebelum orgasme. Saya merasa sakit. ”

“Itu memengaruhi saya dalam banyak hal,” kata Erica kepada saya. “Itu membuat saya tertarik pada beberapa jenis skenario seksual yang mungkin tidak saya pikirkan sebelumnya.”

“Seperti diperlakukan secara kasar di tempat tidur, diajak bicara dengan cara yang merendahkan. Saya juga menonton banyak adegan seks antara pria yang jauh lebih tua dengan para perempuan, jadi sayamengharapkan dan menginginkan perilaku agresif dari pria.”

“Itu juga membuat saya berpikir tentang tubuh seperti apa yang seharusnya saya miliki. Saya menjadi terobsesi dengan menghilangkan semua bulu di tubuh saya karena itulah yang saya lihat di layar.”

Apakah pornografi mengubah apa yang Anda cari dalam kehidupan seks Anda?

Laptop BBC THREE/ISTOCK
Pilihan yang ditawarkan sepertinya tidak ada habisnya.

Selama bertahun-tahun, Neelam juga mempertanyakan seberapa besar pengaruh film pornografi yang sudah ia tonton sejak dini telah membentuk hasrat seksualnya.

“Perlahan-lahan, dengan melihat bagaimana perempuan kulit putih diperlakukan dalam film porno, saya mulai menginternalisasi gagasan bahwa saya adalah sesuatu yang ‘disukai’ oleh orang-orang, fetish, dan bukan sebagai seorang perempuan.

“Saya juga mencari dinamika kekuatan yang saya saksikan – seperti, setelah bertahun-tahun mengamati lelaki yang lebih tua dan perempuan yang lebih muda, ketika saya berusia 17, 18, 19 tahun, saya mulai aktif mencoba berkencan dengan lelaki yang lebih tua.

“Itu adalah sebuah kebetulan. Saya tidak akan pernah tahu yang mana yang lebih dulu – apakah saya memiliki selera bawaan, atau apakah film porno yang menciptakannya. ”

Ini adalah pertanyaan yang banyak diajukan para perempuan kepada diri mereka sendiri, dan pertanyaan yang sering saya tanyakan.

Ketika saya masih muda, saya punya ide bahwa ketika berhubungan seks, saya harus benar-benar pasif – bahwa seks adalah sesuatu yang harus dilakukan kepada saya.

Apakah kepasifan itu selalu ada, atau apakah saya mempelajarinya dari film porno?

‘Saya tidak percaya siapa pun, terutama gadis muda, harus mendapatkan pendidikan seksual dari film porno’

Dalam analisis terhadap lebih dari 300 adegan porno di tahun 2010, sebanyak 88% ditemukan agresi fisik.

Menurut penelitian yang sama, sebagian besar pelaku adalah laki-laki, target mereka adalah perempuan, dan respons yang paling umum terhadap agresi adalah menunjukkan kesenangan atau merespons secara netral.

Lainnya, penelitian serupa telah meyakinkan tentang efek agresif pornografi terhadap laki-laki – beberapa diantaranya menemukan kaitan antara mengonsumsi film porno dan kekerasan menjadi kecil.

Tetapi ada informasi yang lebih sedikit tentang bagaimana hal itu dapat mempengaruhi perempuan.

“Bagaimanapun, saya pikir sekolah-sekolah harus lebih proaktif dalam mendidik anak-anak tentang seks,” kata Neelam.

“Saya pikir masalah seks dan pornografi masih dianggap tabu di berbagai sekolah, tetapi sekolahlah atau pornografi yang mendidik mereka. Dan saya tidak percaya siapa pun, khususnya gadis remaja, harus mendapatkan pendidikan seksual dari pornografi.”

Para perempuan lainnya menonton film porno bukan untuk merangsang, tetapi sebagai pelarian dari stres atau trauma.

Penulis Jessica Valentish menulis sebuah memoar tentang pengalamannya yang kecanduan seks, dan menggambarkan bagaimana ia menonton film porno sebagai mekanisme untuk menyesuaikan saat menulis buku dan mengeruk pengalaman yang menyakitkan.

Seperti yang dijelaskan oleh Dr. Birchard: “Bagi siapa pun yang menggunakannya dengan cara itu – secara kompulsif – ini bukan tentang seks. Ini tentang membius kondisi yang sulit untuk dikelola. Ini bisa berupa kecemasan, stres, depresi. Ini bisa menjadi kesepian.”

“Baik itu laki-laki atau perempuan, jika fungsi perilaku seksual itu kompulsif, maka itu adalah pelarian.”

Pemerintah Inggris akan mengeluarkan larangan untuk menonton film porno bagi mereka yang berusia di bawah 18 tahun, tujuannya adalah untuk mengatasi beberapa masalah yang muncul dari anak-anak yang mengakses materi hardcore.

Sebagai bagian dari apa yang disebut “larangan porno”, pengguna harus memasukkan data dokumen resmi (seperti nomor paspor), atau membeli PortesCard dari agen koran, untuk membuktikan usia mereka.

Tapi, sampai sekarang, belum ada kabar tentang kapan inisiatif itu akan diluncurkan.

Seperti yang dikatakan juru bicara pemerintah kepada BBC Three: “Ini adalah langkah terdepan di dunia untuk melindungi anak-anak kita dari konten orang dewasa, yang saat ini terlalu mudah diakses secara online.

Pemerintah, dan BBFC (Dewan Klasifikasi Film Inggris) sebagai regulator, telah mengambil waktu untuk mendapatkan hak ini dan kami akan segera mengumumkan tanggal dimulainya. ”

Menonton film porno tanpa rasa bersalah

Gambar bibir GETTY IMAGES
Erica berpendapat bagi sebagian orang “tidak ada yang salah dengan menonton film porno”

“Tidak ada yang salah dengan menonton film porno,” kata Erica. “Seperti minum anggur, beberapa orang bisa minum segelas. Yang lain mungkin minum sebotol.”

Ia kemudian menuangkan pengalamannya dengan menulis sebuah buku yang berjudul Getting Off, yang mendorong perempuan dari seluruh dunia untuk berhubungan dengannya.

“Saya pikir itu memalukan jika kita menyelidikinya. Itulah yang membuat perempuan terjebak dalam pengalaman mereka sendiri. Saya belum menemukan banyak cerita seperti kisah saya, yang mungkin mengapa artikel saya menjadi viral, karena begitu banyak orang tidak membicarakannya. ”

“Tapi begitu saya menceritakan kisah saya ke luar sana, saya mendengar dari banyak perempuan dari berbagai kalangan usia. Mulai dari seorang gadis berusia 14 tahun di Singapura hingga perempuan berusia 45 tahun di midwest Amerika.

“Dan mereka mengatakan hal yang mirip dengan para pria , bahwa mereka merasa di luar kendali; mereka perlu belajar bagaimana menggunakan hal ini secara rasional. ”

“Itu hanya menunjukkan kepada saya bahwa tidak ada begitu banyak perbedaan antara laki-laki dan perempuan, satu-satunya perbedaan besar adalah bahwa kaum perempuan tidak membicarakannya.”

Lantas Neelam pun berubah pikiran: “Saya mencoba menonton film porno lagi beberapa tahun yang lalu, hanya untuk melihat bagaimana saya bereaksi, tetapi saya tidak menikmatinya. Semuanya sudah lewat.”

Hannah masih menonton sesekali, tetapi ia sangat selektif dengan film yang ia saksikan.

“Saya kira saya sama sekali tidak terwakili dalam film porno pada umumnya, jadi saya mencari pembuat film dalam lingkup kecil – mereka memang ada – atau mencari video yang dibuat sendiri oleh para pasangan. Bagi saya itu lebih realistis untuk membangkitkan gairah.”

“Saya tidak akan pernah menghakimi siapa pun atas film porno apa yang mereka tonton, tetapi saya pikir kita harus mencoba dan membuat beberapa konten yang lebih representatif.”

“Saya seorang lesbian berkulit putih dan tidak dapat menemukan siapa pun terlihat atau bertindak seperti saya, saya takut memikirkan bagaimana perasaan kelompok yang lebih terpinggirkan,” kata Hannah.

Secara pribadi, saya setuju dengan Erica – tidak ada yang salah dengan menonton film porno.

Tetapi menghabiskan begitu banyak waktu berbicara dengan begitu banyak perempuan tentang pengalaman mereka, telah membuka mata saya pada kenyataan bahwa kita sangat membutuhkan materi yang lebih beragam – menunjukkan berbagai jenis tubuh dan keintiman yang nyata.

Anda tahu, pornografi yang menyenangkan dan meneguhkan kehidupan, yang membuat seks tampak kurang seperti acara yang bertahan lama dan lebih seperti kesenangan.

Seberapa sulitkah itu? (BBC News Indonesia/swh).


* Sebagian nama di atas sudah diubah.