Setiap Hari 1 Juta Warga Dunia Tertular “Penyakit Kelamin”*

Ilustrasi (Sumber: refinery29.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Informasi yang dirilis WHO (Badan Kesehatan Sedunia PBB) (6/6-2019): “More than 1 million new curable sexually transmitted infections every day” jadi menarik karena infeksi, dalam hal ini empat jenis IMS, yaitu: klamidia, GO/gonorrhoea (kencing nanah), trikomoniasis, dan sifilis (raja singa) bisa dicegah dengan cara-cara yang riil.

IMS menular dari seseorang yang mengidap salah satu atau beberapa jenis IMS kepada orang lain, terutama melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom yang disebut sebagai hubungan seksual berisiko.

Hubungan seksual yang berisiko terjadi penularan IMS dan HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus adalah:

(a). Hubungan seksual di dalam dan di luar nikah dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom yang dilakukan dengan pasangan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari pasangan tsb. mengidap IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya, dan

(b) Hubungan seksual tanpa kondom dengan seseorang yang sering berganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK). PSK sendiri dikenal dua tipe, yaitu:

(1). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan, dan

(2). PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek online, dll.

Di Indonesia di sekitar lokasi tempat transaksi seks, sebelum reformasi ada lokalisasi pelacuran, laki-laki ‘hidung belang’ akan mencari obat antibiotik Supertetra dll. Ada mitos (anggapan yang salah) yang menyebutkan bahwa obat antibiotik bisa mencegah penularan IMS. Yang tidak masuk akal di Papua ada tokoh agama dan pejabat yang justru menolak memakai kondom dengan jargon: Seks Yes, Kondom No!

Maka, jangan heran kalau kemudian kasus HIV/AIDS merebak di Papua. Bahkan, belakangan pemerintah daerah di sana menjadikan sirkumsisi (sunat) pada laki-laki untuk mencegah penularan HIV/AIDS, termasuk IMS. Padahal, sunat menurukan risiko tertular IMS dan HIV/AIDS bukan mencegah penularan IMS dan HIV/AIDS.

[Baca juga: AIDS di Papua, (Pemakaian) Kondom Melorot Sunat Digenjot]

Rilis WHO menyebutkan kasus baru IMS terjadi pada warga pada rentang usia 15 -49 tahun. Pada rentang usia ini dorongan seksual sedang menggebu-gebu. Celakanya, informasi tentang risiko tertular IMS atau HIV/AIDS, bahkan bisa dua-duanya sekaligus, selalu dibalut dengan norma dan moral sehingga yang muncul hanya mitos bukan cara-cara yang konkret untuk melindungi diri agar tidak tertular IMS atau HIV/AIDS melalui hubungan seksual berisiko.

Sebelumnya “VOA Indonesia”, 30/8-2018,  melaporkan “Jumlah Penderita Penyakit Menular Seksual Capai Rekor Tertinggi di Amerika”. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, seperti dilansir kantor berita “AFP”, mengatakan bahwa tahun 2017 kasus “penyakit kelamin” mencapai rekor tertinggi. 2,3 juta kasus klamidia, gonore (kencing nanah) dan siflis (raja singa) dilaporkan terdeteksi pada warga Amerika sepanjang tahun 2017.

[Baca juga: “Penyakit Kelamin” Merebak di AS, Bagaimana dengan Indonesia?]

Ketika ada alat untuk mencegah penularan IMS dan HIV/AIDS yang murah-meriah dan mudah dibeli, ternyata banyak warga dunia yang memilih hubungan seksual berisiko dengan tidak memakai kondom. Bisa jadi banyak laki-laki yang termakan mitos bahwa risiko tertular IMS atau HIV/AIDS hanya melalui hubungan seksual dengan PSK langsung di lokalisasi pelacuran. Mereka melakukan hubungan seksual dengan PSK tidak langsung yang dalam prakteknya sama saja dengan PSK langsung.

[Baca juga: Tertular HIV karena Termakan Mitos “Cewek Bukan PSK”]

IMS yang dikenal luas adalah GO dan sifilis, padahal banyak jenis IMS yang ditularkan oleh pengidap IMS ke orang lain melalui hubungan seksual tanpa kondom di dala dan di luar nikah. Pada perempuan IMS tidak menunjukkan gejala yang khas dan tidak pula menimbulkan rasa sakit ketika buang air kecil.

[Baca juga: Kian Banyak “Penyakit Kelamin” yang Ditularkan di Bawah Selimut]

Dalam bulletin online yang diterbitkan WHO disebutkan penelitian menunjukkan bahwa di antara pria dan wanita yang berusia 15-49 tahun, pada tahun 2016 terdeteksi 127 juta kasus baru klamidia, 87 juta GO, 6,3 juta sifilis, dan 156 juta trikomoniasis. Dr Peter Salama, Executive Director for Universal Health Coverage and the Life-Course at WHO, mengatakan: “Ini adalah seruan untuk upaya terpadu untuk memastikan semua orang, di mana saja dapat mengakses layanan yang mereka butuhkan untuk mencegah dan mengobati penyakit yang melemahkan ini.”

Empat jenis IMS yang terdeteksi itu bisa diobati. Persoalannya adalah banyak malu ke dokter sehingga mereka membeli obat sendiri di penjual obat di pinggir jalan atau di kaki lima. Selain itu di Indonesia anak-anak dan remaja harus bersama orang tua jika berobat. Padahal, WHO menyebutkan kasus IMS sudah terdeteksi pada umur 15 tahun. Tentu saja remaja-remaja yang tertular IMS itu tidak akan pernah meminta bantuan orang tua mengantar ke dokter, Puskesmas, atau rumah sakit. Akibatnya, mereka pun membeli obat di pinggir jalan.

Infeksi IMS kian mencemaskan karena secara global pada tahun 2016 sekitar 200.000 kematian bayi saat persalinan dan setelah dilahirkan karena ibunya mengidap sifilis. *** [kompasiana.com/infokespro] *

* Pemakaian frasa ‘penyakit kelamin’ untuk memudahkan pembaca menangkap isi artikel. Istilah atau terminologi yang tepat adalah infeksi menular seksual (IMS), yang semula disebut sexually transmitted diseases (STDs) yang diindonesikan jadi penyakit menular seksual (PMS). Istilah ini diganti dengan sexually transmitted infections (STIs) atau infeksi menular seksual (IMS).