Kapolri: Pelaku Kerusuhan 21-22 Mei Dipasok dari Berbagai Daerah

Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mengatakan pelaku dalam peristiwa kerusuhan 21-22 Mei lalu didatangkan dari berbagai daerah. “Ada kelompok dari Lampung, Banten, dan Aceh. Nanti akan diungkap siapa yang mengundang mereka ke sini dan siapa yang membiayai,” ujar dia ujar dia, Kamis 6 Juni, pekan lalu

Baranews.co – Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mengatakan pelaku dalam peristiwa kerusuhan 21-22 Mei lalu didatangkan dari berbagai daerah. “Ada kelompok dari Lampung, Banten, dan Aceh. Nanti akan diungkap siapa yang mengundang mereka ke sini dan siapa yang membiayai,” ujar dia ujar dia, Kamis 6 Juni, pekan lalu

Saat ini kepolisian masih menahan 441 orang yang diduga sebagai pelaku kerusuhan. Aparat sedang memetakan siapa saja aktor yang terlibat dalam kerusuhan

Aksi massa memprotes penghitungan suara pemilihan presiden oleh Komisi Pemilihan Umum di Jakarta pada bulan lalu berujung ricuh. Awalnya, aksi pada 21 Mei berlangsung damai. Para peserta aksi juga mulai meninggalkan lokasi selepas melakukan salat tarawih berjemaah. Namun beberapa jam kemudian muncul kelompok massa yang memantik kericuhan dan selanjutnya dihalau polisi.

Kerusuhan berlanjut hingga 22 Mei. Massa menyerang aparat hingga membakar sejumlah kendaraan. Sementara itu, tim gabungan pengamanan yang terdiri atas personel Tentara Nasional Indonesia dan kepolisian berupaya membubarkan massa sehingga bentrokan terjadi.

Akibat kerusuhan itu, ratusan orang terluka dan delapan orang lainnya tewas. Sebagian korban meninggal akibat tertembak peluru tajam. Padahal, sebelumnya Tito telah menegaskan bahwa aparat keamanan yang bertugas tidak dibekali peluru tajam. Kini kepolisian masih menyelidiki siapa pelaku penembakan tersebut.

Tito Karnavian menegaksan kepolisian telah memilah-milah kelompok massa yang melakukan aksi damai dan kelompok yang melakukan kerusuhan. “Kami sudah bisa membedakan antara aksi damai dalam bentuk ibadah, buka puasa, dan tarawih, dengan aksi yang memang sengaja anarkis, rusuh, menyerang petugas. Ini ada dua segmen berbeda,” ujar dia. (tempo.co/hp)