LIGA CHAMPIONS: Sisi Lembut “The Reds”

Penyerang Liverpool Mohamed Salah dikerubungi rekan-rekannya, mengangkat trofi Liga Champions yang diraih setelah mengalahkan Tottenham Hotspur 2-0 pada laga final di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Spanyol, Minggu (2/6/2019) dini hari WIB. (Sumber: Kompas/AFP/PAUL ELLIS)

Liverpool menggunakan pendekatan yang berbeda ketika meraih trofi Liga Champions yang keenam. Gaya pragmatis pun diterapkan untuk membuat Tottenham Hotspur frustrasi.

Madrid, Baranews.co – Liverpool di tangan manajer Juergen Klopp memiliki salah satu daya tarik yang membuat banyak orang jatuh cinta, yaitu gaya bermain yang atraktif. Mereka kerap tampil garang dengan permainan menekan dan pergerakan yang cepat. Namun, mereka bisa sejenak memperlihatkan sisi lembutnya di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Minggu (2/6/2019) dini hari WIB.

Tidak ada lagi gaya bermain ala “heavy metal” yang ditampilkan secara penuh saat menghadapi Tottenham Hotspur dalam laga final Liga Champions malam itu. “The Reds”, julukan Liverpool, cenderung bermain aman dan tampil lebih kalem demi menaklukkan Spurs 2-0 dan mengangkat trofi Liga Champions yang keenam.

Liverpool tidak lagi agresif seperti saat mengalahkan Barcelona 4-0 di Anfield pada laga kedua semifinal. Waktu itu Liverpool memang membutuhkan minimal empat gol tanpa balas untuk bisa melangkah ke babak final sehingga mereka perlu tampil agresif. Laga semifinal itu pun bagi banyak orang jauh lebih berkualitas, enak ditonton, dan layak dianggap sebagai laga final yang sebenarnya.

Namun, Klopp merasakan resiko yang sangat besar apabila mereka kembali bermain atraktif dan menghibur saat menghadapi Spurs. Apalagi ketika Liverpool sudah unggul 1-0 melalui tendangan penalti Mohamed Salah pada menit pertama. Setelah penalti tersebut, The Reds memperlambat tempo dan membiarkan Spurs menguasai bola hingga 64 persen.

Spurs juga lebih banyak menyerang dengan melakukan delapan tembakan tepat ke gawang, sedangkan Liverpool hanya tiga tembakan. Serangan Spurs menjadi sia-sia karena Liverpool memiliki kiper seperti Alisson Becker yang tampil memukau. Bek Virgil van Dijk turut menghambat aliran bola Spurs di area pertahanan The Reds.

Sementara striker Roberto Firmino yang kembali dimainkan Liverpool setelah pulih dari cedera, tampak belum siap. Striker asal Brasil itu bahkan tidak mampu menembak. Kontribusi terbesarnya adalah keluar lapangan dan memberikan kesempatan kepada Divock Origi untuk tampil dan mencetak gol kedua Liverpool. Absennya Firmino juga menjadi berkah bagi Origi yang sempat mencetak dua gol ke gawang Barcelona pada laga kedua semifinal.

Lebih pragmatis

“Kualitas laga final ini jelek dan Spurs sangat frustrasi karena mereka merasa bisa tampil lebih bagus,” ujar eks manajer Manchester United, Jose Mourinho, seperti dikutip Skysport. Menurut Mourinho, Liverpool malam itu tampil sangat pragmatis. Para gelandangnya pun tidak terhubung baik dengan para penyerang.

Mantan bek Liverpool Mark Lawrenson dalam kolomnya di BBC menilai Liverpool dan Klopp sudah melakukan hal yang benar. “Jika anda telah kalah dalam enam laga final sebelumnya, saya pun dapat memahami mengapa Klopp tidak terganggu dengan kritik mengenai penampilan mereka pada final kali ini,” tulis Lawrenson.

Pendapat Lawrenson mengacu kepada masa lalu Klopp yang selalu tidak beruntung ketika berada di laga final. Tiga dari enam laga final sebelum laga kontra Spurs, merupakan kegagalan Klopp di ajang kompetisi Eropa. Dua final Liga Champions (bersama Borussia Dortmund dan Liverpool), serta final Liga Europa (bersama Liverpool).

“Laga final ini bukanlah laga terbaik atau laga untuk mempromosikan sepak bola Inggris. Namun, Liverpool tidak peduli,” tambah eks penyerang sayap Liverpool Steve McManaman.

Klopp dan Liverpool tidak peduli dengan permainan yang lembek itu karena mereka mendapatkan kesempatan terbaik di depan Spurs untuk menutup musim ini dengan kenangan manis. Mereka sudah menanti trofi itu sejak tahun 2005 dan trofi tersebut sekaligus bisa mengobati kekecewaan Liverpool yang gagal meraih gelar juara Liga Inggris musim ini.

Ketika wasit meniup peluit tanda laga berakhir, hilang sudah semua tekanan yang dirasakan Liverpool. Sang kapten Jordan Henderson dan Klopp saling berpelukan sambil menangis. Henderson kemudian melanjutkan tangis bahagiannya di pelukan sang ayah, Brian. Para fans Liverpool pun berpesta sampai pagi.

Sementara Klopp sudah memiliki amunisi untuk menjawab keraguan banyak orang mengenai kemampuannya mempersembahkan trofi untuk Liverpool. Ketika diwawancara stasiun televisi Via Sport, pelatih asal Jerman itu dengan genit menyanyikan lagu milik grup musik  Salt N Pepa berjudul “Let’s Talk About Sex” yang sudah ia plesetkan menjadi “Let’s Talk About Six”.

Klopp tak peduli komentar miring tentangnya ketika ia sudah bisa memberikan trofi Liga Champions keenam untuk Liverpool. “Sepertinya ini sebuah awal. Klub ini selalu menjadi pemenang,” ujarnya seperti dikutip UEFA.

Liverpool sudah kembali bisa menaklukkan Eropa, tetapi masih punya pekerjaan rumah untuk bisa merebut kembali gelar di level domestik. Mereka kini menjadi klub ketiga yang paling banyak menjuarai Liga Champions setelah Real Madrid (13 kali) dan AC Milan (tujuh kali). Namun, mereka sudah 29 tahun menanti trofi Liga Inggris.

Begitu pula dengan Spurs. Kekalahan pada debut final mereka ini bukan akhir dari segalanya. “Ini tentang mencoba, percaya, membangun tim, dan saya harap (laga final) ini akan kami rasakan lagi secepatnya,” ujar manajer Spurs Mauricio Pochettino yang memberi sinyal akan tetap bertahan di klub tersebut. (AFP/REUTERS)/HERPIN DEWANTO PUTRO/Kompas Cetak