DEMO HASIL PEMILU – IPW: Ada 3 Donatur Kericuhan, Salah Satunya Tokoh Partai

Ilustrasi: Anggota Brimob menolong rekannya yang cedera setelah terkena lemparan batu yg dilakukan oleh para perusuh di depan Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5/2019). (Sumber: KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO)

Jakarta, Baranews.co – Indonesia Police Watch atau IPW menyebut ada tiga penyandang dana kericuhan yang terjadi di sejumlah daerah di DKI Jakarta, 21-22 Mei 2019. Salah satunya seorang pengusaha yang juga tokoh partai keagamaan berinisial HM. Terkait hal itu, polisi enggan berkomentar banyak, dan menyatakan kasus masih didalami oleh Kepolisian.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas, Jumat (31/5/2019), Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane meminta Polri memeriksa HM, pengusaha yang juga tokoh partai keagamaan. HM diduga menjadi penyandang dana kericuhan di sejumlah daerah di Jakarta, 21-22 Mei di Jakarta.

Aksi demonstrasi yang berawal dari respons terhadap penetapan hasil Pemilu Presiden 2019 itu, berakhir ricuh. Polisi menetapkan 420 perusuh sebagai tersangka.

Tidak hanya HM, Neta memperoleh informasi ada dua orang lain yang diduga ikut mendanai aksi itu. “Polisi sepertinya sudah mendapatkan dua alat bukti tentang keterlibatan HM,” katanya.

Dari informasi yang diperoleh IPW, HM memberikan uang sebesar Rp 150 juta kepada seseorang berinisial K yang disebutnya berpangkat brigadir jenderal.

K kemudian memberikan uang ini kepada HK, salah seorang tersangka rencana pembunuhan empat pejabat negara. HM juga memberi uang sebesar Rp 55 juta kepada TJ, tersangka lainnya. Total ada enam tersangka yang ditahan polisi. “HK dan TJ merupakan desersi TNI yang sudah beberapa kali terlibat kejahatan di Ibu Kota,” katanya.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Ilustrasi: Petugas medis membawa perusuh yang terluka ke ambulans saat kericuhan terjadi di Jalan KS Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019).

Dari data yang diperoleh, Neta melanjutkan, baru HM yang diketahui polisi sebagai penyandang dana pembunuhan pejabat dalam kericuhan 21-22 Mei itu. Neta bahkan menyebut kalau polisi sudah memiliki dua alat bukti mengenai keterlibatan HM.

Sementara dua terduga donatur lainnya, menurut Neta, masih didalami jajaran kepolisian.

Mereka bertiga diduga mendatangkan massa perusuh dari Surabaya dengan menggunakan pesawat. Perusuh itu menginap di sejumlah hotel di Jl Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Sebagian perusuh ini ditangkap aparat Kepolisian Daerah Metro Jaya. Selain itu, massa perusuh juga didatangkan dari Tangerang, Tangerang Selatan, dan sekitar Tanah Abang.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Ilustrasi: Para anggota Brimob Polri yang berjaga di depan Kantor Badan Pemenangan Pemilu, Jakarta, menerima bunga dari komunitas Spartan Nusantara, Minggu (26/5/2019). Aksi itu menjadi salah satu wujud apresiasi masyarakat kepada Polri bersama TNI yang telah menjaga stabilitas keamanan dalam beberapa hari terakhir pasca penetapan hasil rekapitulasi nasional Pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum.

IPW berharap Polri bekerja cepat untuk memburu para penyandang dana kerusuhan. Untuk mengungkap jaringan kerusuhan 22 Mei ini, lanjut Neta, Polri perlu memeriksa sejumlah saksi, terutama para tokoh politik yang sempat hadir di unjuk rasa di depan Badan Pengawas Pemilu.

“Polri perlu bekerja cepat membongkar jaringan perusuh 22 Mei ini agar gerakan mereka bisa dipagar betis dan tidak memiliki peluang lagi dalam melakukan kerusuhan baru pasca pengumuman hasil sidang di Mahkamah Konstitusi maupun saat pelantikan presiden hasil Pemilu 2019,” katanya.

Terkait informasi dari IPW tersebut, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Muhammad Iqbal enggan berkomentar banyak.

Dia hanya mengatakan penanganan kasus kericuhan 21-22 Mei masih berproses. “Penyidik terus mendalami siapa pun yang melakukan pidana,” katanya. (INSAN ALFAJRI)/Kompas Cetak