LIGA CHAMPIONS: Duel Pamungkas Para Penyintas

Ilustrasi (Sumber: gumtree.com)

Tottenham Hotspur dan Liverpool sudah teruji sebagai dua tim tangguh dan cerdik di Eropa saat ini. Mereka bakal beradu taktik dan emosi untuk mencatat sejarah yang lebih besar di Madrid.

Madrid, Baranews.co – Final Liga Champions di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Spanyol, Minggu (2/6/2019) pukul 02.00 WIB, akan mempertemukan dua klub identik. Tottenham Hotspur dan Liverpool sama-sama datang dari Inggris, memainkan sepak bola modern, dan terbukti sebagai penyintas yang tangguh menghadapi krisis.

Kedua tim layak disebut sebagai penyintas karena mereka mampu menyiasati kekurangan dan melangkahi tim-tim besar untuk mencapai final. Spurs, misalnya, mampu melibas Manchester City dan Ajax tanpa sang bomber Harry Kane. Sementara Liverpool bisa menggulung Barcelona 4-0 tanpa duo penyerang, Roberto Firmino dan Mohamed Salah.

Koresponden ESPN Musa Okwonga dalam artikelnya menyebut faktor yang mengantar Spurs dan Liverpool ke laga final adalah sistem dan filosofi yang mereka bangun. Keduanya menjadi tim yang tidak lagi bertumpu pada satu atau dua pemain bintang. Setiap pemain punya peran yang sama pentingnya dan menjadi satu dalam tim.

Spurs dan Liverpool bukan tim yang memiliki ketergantungan seperti yang dirasakan Barcelona terhadap Lionel Messi atau Real Madrid dan kini Juventus terhadap Cristiano Ronaldo. Ketika Kane absen, Son Heung-Min bisa menjadi mesin gol pengganti. Tidak ada pula yang menyangka jika Lucas Moura bisa mencetak tiga gol saat Spurs mengalahkan Ajax 3-2 pada laga kedua semifinal.

Pochettino sangat mengenal pemainnya, aset-asetnya

Di kubu Liverpool, Divock Origi membuat klub berjuluk “The Reds” itu tidak khawatir lagi ketika Firmino dan Salah absen pada laga kedua semifinal melawan Barcelona. Origi bisa mencetak dua gol ke gawang Barcelona pada malam yang sangat bersejarah itu.

Ketangguhan Spurs dan Liverpool tersebut membuktikan satu hal lagi yang tidak kalah penting, yaitu mereka sama-sama memiliki pelatih yang jenius, tidak mudah menyerah, punya banyak rencana, dan sangat memahami setiap pemainnya. Spurs punya Mauricio Pochettino dan Liverpool punya Juergen Klopp.

Saya tidak beruntung karena tidak pernah merasakan bermain di era kepelatihan Klopp

Penulis olahraga The Times, Matt Dickinson, bercerita bahwa Pochettino selalu mengamati perkembangan emosi setiap pemain setiap waktu. Pochettino selalu tiba di tempat latihan pukul 07.30 dan langsung duduk di sebuah sofa di kantin untuk mengamati para pemain.

Tidak mengherankan jika ia berani memainkan penyerang Fernando Llorente pada babak kedua saat melawan Ajax. Llorente yang kesulitan menemukan bentuk permainan terbaiknya justru bisa memberikan ruang bagi Moura untuk berpesta gol. Itu terjadi karena Pochettino sangat mengenal pemainnya, aset-asetnya.

Pendekatan personal juga menjadi kekuatan Klopp untuk membangun kepercayaan diri para pemainnya. Bahkan, sang legenda Liverpool, Steven Gerrard, sampai merasa cemburu. “Saya tidak beruntung karena tidak pernah merasakan bermain di era kepelatihan Klopp. Para pemain Liverpool saat ini membuat saya cemburu,” ujarnya seperti dilansir laman Liverpool (30/5/2019).

Saling menekan

Laga final pun menjanjikan laga yang atraktif karena Pochettino dan Klopp menganut paham permainan dengan pressing tinggi. Jeda waktu selama tiga pekan sudah cukup bagi kedua tim untuk menyiapkan stamina yang dibutuhkan untuk menerapkan gaya permainan yang melelahkan tersebut.

Laman Liverpool Echo memaparkan bahwa Spurs dan Liverpool sama-sama agresif dalam merebut bola. Namun, ada sedikit perbedaan dalam permainan menekan yang diterapkan Pochettino dan Klopp. Setelah agesif merebut bola, Spurs tidak buru-buru maju dan masih sempat mendistribusikan bola untuk merancang serangan. Sementara Liverpool cenderung bergerak cepat ke depan sesaat setelah mendapat bola dan memanfaatkan ketidaksiapan lawan dalam bertahan.

Emosi akan menjadi faktor penentu utama

Pochettino dan Klopp semakin mudah merancang taktik karena kedua striker mereka, Kane dan Firmino, sudah pulih dari cedera dan bisa tampil pada laga final ini. Kedua tim kini telah keluar dari “badai cedera” dan kembali ke formasi terbaiknya. “Menjadi kampiun di Eropa adalah mimpi setiap anak. Tidak ada motivasi yang lebih besar lagi dari ini,” ujar Kane ketika menjelaskan perasaannya bisa tampil di final kali ini seperti dilansir UEFA.

Kane menjadi bagian dari sejarah Spurs yang baru pertama kali ini tampil di final Liga Champions. Laga ini juga menjadi kesempatan bagi Pochettino untuk mempersembahkan trofi pertama kepada Spurs. Begitu pula dengan Klopp yang ingin membahagiakan Liverpool yang mendamba trofi.

“Semua orang berharap bakal terjadi perang taktik dalam laga nanti, tetapi emosi akan menjadi faktor penentu utama,” ujar Pochettino seperti dikutip Marca. Stadion Wanda Metropolitano bakal menjadi saksi penyintas yang sesungguhnya. (REUTERS)/HERPIN DEWANTO PUTRO/Kompas Cetak