PSIKOLOGI: Pengkhianatan terhadap Diri Sendiri

Ilustrasi (Sumber: Kompas)
Sawitri Supardi Sadarjoen (Sumber: Kompas/RON)

Oleh: SAWITRI SUPARDI SADARJOEN

Perlu pemahaman akurat tentang makna otentik dari penerimaan diri sebagai sosok lelaki dan sosok perempuan dalam perilaku yang ditampilkan. Ini akan menghindarkan kedua insan dari peluang terjebak dalam pengkhianatan terhadap diri sendiri.

Apabila perempuan ditetapkan dalam posisi akomodatif dalam ikatan perkawinan, ia akan menderita batin. Derita itu mendorongnya untuk mencari konselor. Pertanyaan yang umumnya dia sampaikan adalah ”Apakah perkawinan menjadi sesuatu yang harus dilakukan?”

Sosok perempuan

Pada umumnya perempuan yang datang pada konselor akan bertanya dengan kecenderungan seperti contoh berikut, ”Apa yang salah dalam diri saya?“ Dengan demikian, tidak terungkap pertanyaan, ”Apa yang salah dalam inter-relasi saya dengan pasangan saya?“

Pada umumnya perempuan luput mempertanyakan, ”Apakah mereka memiliki makna spesifik sebagai sosok perempuan.” Sebab, umumnya perempuan akan otomatis mengerjakan segala hal yang sesuai dengan tuntutan peran budaya sebagai perempuan.

Ini berpijak pada ungkapan bahwa para perempuan akan mengikuti segala yang diajarkan budayanya. Pada era modern pun para perempuan berperilaku sebagai karikatur femininitas yang ditetapkan oleh budaya setempat.

Padahal, sikap diam dan langsung mengikuti tuntutan peran perempuan dalam budaya setempat justru menjadi fakta pengkhianatan diri. Ini menyebabkan perempuan tidak mampu meraih kepuasan diri.

Sosok perempuan, kecuali dituntut untuk berperan sebagai pencipta situasi damai dalam keluarga, selalu harus mampu mengakomodasi kebutuhan dan keinginan sekeliling. Andai terjadi konflik dalam latar belakang keluarga pun, sosok perempuan diharapkan tetap melaksanakan peran sebagai pencipta kedamaian.

Akibatnya, harga yang harus dipertaruhkan untuk memenuhi tuntutan budaya tersebut menjadi sangat mahal. Itu karena apabila perempuan kehilangan kesempatan mengungkap perasaan yang otentik dalam dirinya dan berusaha bertahan sesuai tuntutan budaya, ia menjadi rentan terhadap tekanan psikis.

Bentuknya bisa berupa gangguan keseimbangan mental yang mendasari berkembangnya gejala depresi, ansietas, sakit kepala, kemarahan yang kronis, galau, dan selalu merasa menghadapi kehidupan yang pahit.

Terkadang gejala itu muncul sebagai refleksi kondisi yang berangkat dari dimensi ”a-sadar”, yaitu makna otentik dari penghayatan emosi, termasuk harapan pribadi perempuan tersebut terhadap masa depannya. Kondisi inilah yang dipahami sebagai pengkhianatan terhadap diri pada sosok perempuan akibat tuntutan peran budaya.

Para perempuan seyogianya mendengar dan mencermati gejala yang menggambarkan otentisitas penghayatan emosinya tersebut. Harapannya, perempuan mampu melakukan reorientasi diri pada kehidupan berkeluarga secara lebih kompromistis sesuai dengan keberadaan makna otentik sebagai sosok perempuan.

Sosok lelaki

Sosok lelaki pada dasarnya cenderung melakukan aktivasi yang pelan tetapi pasti. Ia mengakomodasi hal-hal yang kurang berkenan di hatinya. Namun, sering kali lelaki justru merasa kurang tenaga untuk memanfaatkan kata hati yang otentik saat mendefinisikan makna menjadi lelaki. Pengabaian suara otentik tersebut tanpa disadari merupakan bentuk pengkhianatan terhadap diri sendiri.

Konsekuensi mencari bukti kelelakian tersebut sebagian besar diatasi melalui cara yang lebih keras dan agresif. Bahkan, mereka mempertontonkan pengendalian yang kokoh terhadap luapan aspek emosional dalam relasi sosialnya.

Itu karena lelaki pada umumnya tidak akan membiarkan dirinya dipengaruhi atau bahkan diarahkan oleh pasangan sekalipun. Kondisi tersebut merupakan respons kelelakian untuk menghindari ketidakberdayaan, yakni melalui gaya percakapan yang jelas, kuat, dan mengarah pada penyelesaian masalah yang dihadapi. Bagaimanakah akibat dari pengkhianatan diri oleh sebab pengabaian makna otentik kelelakian tersebut?

Kasus K

K (37) adalah suami L (35). Mereka telah menjalani perkawinan selama empat tahun. L adalah sosok perempuan yang mudah bergaul dan cukup dominan. Sementara K adalah sosok lelaki pendiam dan baru bicara apabila ditanya, cenderung pasif.

Untuk kondisi K tersebut, L menyalahkan pola asuh yang diterapkan ibu K, yakni S (60). S terlalu memanjakan K di satu sisi, tetapi juga mendominasinya. K merasa tertekan dan tidak mampu mengenali isi penghayatan otentiknya, bahkan cenderung menjadi terlampau patuh kepada ibunya.

Kekecewaan L terhadap S (ibu mertuanya) sering membuat mereka bertengkar. S sering meminta uang kepada anaknya, tetapi L tidak memberi karena kebutuhan keluarga yang tidak memungkinkan.

Menghadapi dua perempuan tersebut, K merasa tidak berdaya, bahkan lumpuh secara mental. Pada saat yang sama, S menyarankan K dan keluarga untuk pindah satu kota dengan S agar K dapat selalu membantu S saat kekurangan biaya hidup. Namun, L menolak ajakan mertuanya. Tujuannya agar tetap mereka tetap berjarak. L malah meminta K mencari pekerjaan baru agar memperoleh gaji lebih tinggi.

Di antara kedua perempuan yang menuntutnya, ternyata membuat K tidak mampu menjelaskan apa yang ia yakini dan posisi di mana K harus berdiri. Pemikiran untuk mengabaikan ibu atau istrinya merupakan hal yang tidak mampu K toleransi meskipun ia merasa harus memilih salah satu.

Akhirnya K mengatasi masalah tersebut dengan mengatakan ”ya” atau ”tidak” kepada keduanya. Namun, sikap itu dia ambil dengan memilih cara berperilaku yang tidak terbuka bahkan tidak jujur.

Apa yang K lakukan? Setiap pagi dengan pakaian rapi ia pergi dari rumah seolah mencari kerja, tetapi sebenarnya K ke pinggiran kota dan pulang sore hari, layaknya seorang yang pulang kerja. Mengetahui perilaku K tersebut, L marah sekali dan semakin menuduh S, tidak mendidik K dengan baik.

Ketegangan relasi semakin tinggi dan akhirnya L memutuskan meninggalkan K. Itu membuat K kehilangan kepercayaan diri secara berlanjut. Perilaku tidak terbuka, bahkan tidak jujur, merupakan ekses dari pengkhianatan terhadap diri sendiri. (Kompas Cetak).