Studi: China dan India Dorong Konsumsi Minuman Beralkohol Dunia

Para peserta kompetisi minum bir dari akuarium di Hangzhou, Provinsi Zheijiang, China, 21 Juli 2018. (Sumber: VOA Indonesia/Reuters)

Konsumsi minuman beralkohol di dunia naik sebanyak 10 persen per orang dewasa pada 2017, dibandingkan 1990. Kenaikan tersebut sebagian besar didorong oleh kebiasaan minum yang makin meluas di China dan India, menurut para peneliti seperti dilansir oleh kantor berita AFP.

Dengan tren saat ini, konsumsi global per kapita akan naik sebanyak 7 persen dalam dasawarsa berikutnya, menurut para peneliti dalam hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal The Lancet.

Pada 2030, setelah dari jumlah orang dewasa di dunia akan mengonsumi minuman keras dan seperempatnya akan minum minuman keras hingga mabuk setidaknya sebulan sekali, menurut perkiraan yang mencakup 189 negara.

“Dunia tidak akan mencapai target global untuk mengurangi konsumsi minuman beralkohol yang merusak,” kata para penulis penelitian. Para pakar menyerukan lebih banyak upaya pencegahan agresif, seperti penerapan cukai tinggi dan pelarangan iklan minuman beralkohol.

Target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah mengurangi “penggunaan minuman beralkohol yang merusak” sebanyak 10 persen pada 2025.

Para penggemar anggur bersulang pada sebuah acara di Delhi Wine Club, New Delhi, India, 13 Februari 2006. (Foto: AP)
Para penggemar anggur bersulang pada sebuah acara di Delhi Wine Club, New Delhi, India, 13 Februari 2006. (Foto: AP)

Alkohol terkait dengan lebih dari 200 penyakit dan menyumbang lebih dari tiga juta kematian. Sebanyak 75 persen kematian akibat minuman beralkohol setiap tahunnya terjadi pada pria, menurut WHO.

Secara global, lebih dari 237 juta pria dan 46 juta perempuan menderita kelainan terkait alkohol dengan Eropa mencatat angka tertinggi (15 dan 3,5 persen masing-masing untuk laki-laki dan perempuan. Amerika Utara menyusul dengan masing-masing 11,5 dan 5 persen.

“Sebelum 1990, alkohol kebanyakan dikonsumsi oleh negara-negara berpenghasilan tinggi dengan tingkat konsumsi tertinggi tercatat di Eropa,” kata penulis utama, Jakob Manthey, seorang peneliti dari Institut Psikologi Klinis dan Psikoterapi di Dresden, Jerman.

“Namun pola ini telah sangat banyak berubah dengan pengurangan besar di seluruh Eropa Timur dan peningkatan pesat di beberapa negara penghasilan menengah, seperti China, India, dan Vietnam.

Pada 2017, angka konsumsi alkohol di Amerika Serikat agak turun, yaitu 15 dan 4,5 liter masing-masing untuk laki-laki dan perempuan. Konsumsi rata-rata sedikit di bawah 10 liter.

Di China, pria minum lebih dari 11 liter minuman beralkohol, biasanya bir atau minuman jenis spirits. Sedangkan perempuan mengkonsumsi tiga liter sehingga rata-rata konsumsi sedikit di atas 7 liter.

Seorang pekerja bangunan minum bir saat istirahat kerja di Beijing, China, 30 Juli 2004.
Seorang pekerja bangunan minum bir saat istirahat kerja di Beijing, China, 30 Juli 2004.

Angka konsumsi China masih di bawah konsumsi alkohol Amerika Serikat, namun melonjak lebih dari 70 persen dari angka konsumsi China pada 1990.

Pada 2030, kedua negara akan berganti posisi. Orang China dewasa diperkirakan akan mengonsumsi rata-rata lebih dari 10 liter, sedangkan konsumsi alkohol di AS akan turun sedikit menjadi 9,5 liter.

Sementara itu di India, 40 persen laki-laki dan 22 persen perempuan mengonsumsi alkohol. Rata-rata konsumsi minuman alkohol di India mencapai kurang dari 6 liter pada 2017.

Namun angka itu naik dua kali lipat dari konsumsi 1990 dan para pakar memperkirakan tambah kenaikan sebesar 50 persen pada 2030.

Secara global, konsumsi alkohol naik dari 5,9 liter alkohol murni per orang dewasa pada 1990, menjadi 6,5 liter pada 1997. Diperkirakan akan melonjak menjadi 7,6 liter pada 2030. Sebanyak 45 persen minuman alkohol yang dikonsumsi di dunia adalah spritis, 15 persen adalah bir dan 12 persen anggur.

Lebih dari seperempat kematian terkait alkohol pada 2016 adalah karena kecelakaan, kekerasan dan menyakiti diri sendiri. Seperlima kematian akibat masalah pencernaan, dan seperlima akibat masalah jantung dan pembuluh darah. [ft]/AFP/VOA Indonesia/swh