Para Perempuan Pendobrak Tabu di Perfilman China

Pada 2009, Wei menerbitkan buku berisi wawancara dengan 27 sutradara perempuan China dan Jepang, selain juga beberapa jurnal akademik tentang perempuan China di film. (Sumber: BBC Indonesia/GETTY IMAGES)

Kisah-kisah tersembunyi para perempuan pembuat film luar biasa dari Jepang dan China kini muncul ke permukaan. Harriet Constable menuliskan kenapa sekarang mereka baru terlihat.

Oleh: 

Baranews.co – Menurut sutradara film Louisa Wei, ada banyak yang berubah dalam 18 tahun terakhir.

Pada 2001, saat menyadari bahwa para perempuan pionir film China berulangkali hilang dari buku sejarah, Wei memutuskan untuk menulis ulang narasinya.

“Hanya ada sedikit informasi tentang sutradara perempuan. Saya tahu mereka ada, tapi saat orang mempelajari atau membaca tentang mereka, para sutradara perempuan ini seolah hilang,” katanya.

Pada 2009, Wei menerbitkan buku berisi wawancara dengan 27 sutradara perempuan China dan Jepang, selain juga beberapa jurnal akademik tentang perempuan China di film.

Dia mendokumentasikan karya sutradara perempuan seperti Tazuko Sakane, yang lahir pada 1904 di Jepang, dan pada 1936 menulis, “Saya ingin menampilkan sosok perempuan yang sebenarnya, melihatnya dari dunia perempuan.”

Dia juga menulis tentang Chen Bo’er, aktris dan mungkin satu-satunya perempuan China yang bekerja sebagai sutradara dan produser pada 1940an; Tanaka Kinuyo, yang menghasilkan debut penyutradaraannya pada 1953; selain juga Dong Kena dan Wang Shaoyan, yang keduanya banyak membuat film pada 1960an dan 1970an.

“[Saya harus] menulis ulang semua sejarah film,” katanya.

Perempuan sutradara film pertama China, Esther Eng (tengah) menyutradarai Lady from the Blue Lagoon pada 1947.                         ATAS IZIN S LOUISA WEI
Perempuan sutradara film pertama China, Esther Eng (tengah) menyutradarai Lady from the Blue Lagoon pada 1947.

Masalahnya cuma satu; publik tidak tertarik dengan penelitian Wei. “Buku itu tak berdampak apa-apa, belum ada yang berminat membaca buku itu,” katanya ke BBC Culture.

Meski perkembangannya lambat, namun ternyata usaha Wei tak sia-sia. Saat mengajar kelas film sebagai seorang profesor di City University di Hong Kong, Wei mulai menyadari bahwa ada semakin banyak murid perempuan di kelasnya setiap tahun, dan mereka ingin tahu siapa saja perempuan-perempuan yang ada sebelum mereka.

Sutradara perempuan muda mulai membaca dan membagikan karyanya.

Momentum pun semakin terbangun. Wei diundang untuk berbicara di depan umum tentang penelitiannya.

“Tahun lalu saya [memberika] pidato, ada sekitar 300 orang di dalam ruang, penuh, dan judulnya adalah, ‘Sutradara Perempuan China sejak 1916’. Tak terbayangkan!” katanya sambil tertawa dan menggelengkan kepala tak percaya.

Pakar film mulai menggunakan penelitian Wei untuk memperbarui pengetahuan mereka akan sejarah film secara global.

Salah satu karyanya yag paling penting sebagai sutradara adalah dokumenter berjudul Golden Gate Girls, yang merayakan karya Esther Eng, perempuan sutradara film pertama di China yang penting pada 1930an dan 1940an di China dan Hollywood.

“Saya memutarnya [Golden Gate Girls] di Paris pada Desember [2018], seorang peneliti film yang telah mendalami ini seumur hidupnya mendatangi saya sesudah pemutaran dan mengatakan bahwa dia begitu tersentuh — dia tidak tahu soal Eng,” katanya.

Pada Hari Perempuan Internasional 2019, kisah-kisah tentang sutradara perempuan China yang sebelumnya tak terungkap banyak dibagikan di WeChat.                         HARRIET CONSTABLE
ada Hari Perempuan Internasional 2019, kisah-kisah tentang sutradara perempuan China yang sebelumnya tak terungkap banyak dibagikan di WeChat.

Eng bukan hanya terlupakan oleh sejarah di Barat. Pada awal penelitiannya, Wei mengatakan, “Saya mencari di arsip film Hong Kong dan menemukan nama Esther Eng, dia [disebut] pahlawan nasional pada 1937 — saya menemukan artikel yang membenarkannya. Tapi hanya itu yang saya temukan!”

Setelah bertahun-tahun kerja dengan peneliti, sejarawan dan wartawan untuk membongkar karier Eng yang luar biasa untuk dokumenter tersebut. Pada satu titik, tim bahkan harus menyelamatkan ratusan foto kehidupan Eng dari tempat sampah di San Francisco.

Mereka menemukan bahwa Eng telah keliling dunia dan membahas topik tabu di masa saat kebanyakan perempuan tak punya pekerjaan sama sekali. Dia menyutradarai sembilan film panjang di AS dan Hong Kong, termasuk National Heroine, film tentang pilot perempuan yang berjuang demi negaranya.

Kini, Wei dengan bangga memamerkan majalah Life Magazine edisi Maret 2019 yang menampilkan laporan panjang akan Wei dan karyanya yang merayakan Esther Eng.

Wei sangat senang dengan ini, bukan hanya karena karya perempuan sutradara jadi diliput, tapi karena majalah tersebut adalah majalah China. Informasi begitu ketat disensor di negara itu, dan membagikan kisah Eng menjadi suatu hal yang menantang.

Sutradara Louisa Wei menyunting film barunya — dengan latar poster Esther Eng.                         HARRIET CONSTABLE
                            Sutradara Louisa Wei menyunting film barunya — dengan latar poster Esther Eng.

Menurut Wei, ada perubahan dalam pola pikir. Pada 8 Maret 2019, Hari Perempuan Internasional, artikel yang dibagikan di media sosial terbesar China, WeChat, berjudul ‘Film China Tak Akan Lengkap Tanpa 100 Sutradara Perempuan’, ’60 Sutradara Perempuan Independen China’ (Wei disebut di dalamnya), dan ‘100 Film Terbaik Sepanjang Sejarah yang Dibuat Perempuan’.

Ini adalah fenomena baru: “Ini tak pernah terjadi sebelumnya! [Hari Perempuan Internasional] biasanya hanya akan soal berterima kasih pada perempuan untuk melakukan tugas mereka di rumah tapi tidak seperti ini, merayakan sutradara perempuan,” kata Wei.

Semua kejadian ini — percakapan di WeChat, jumlah murid perempuan dalam kelas film, ketertarikan media akan Esther Eng — menandai sebuah tren yang jelas, sebuah keinginan akan informasi yang lebih banyak tentang perempuan di film dan penerimaan yang semakin luas akan sutradara perempuan .

Penghormatan

Apa yang mendorong minat dunia yang tiba-tiba akan sutradara perempuan China? Wei meyakini bahwa inisiatif feminis yang menyapu dunia dalam beberapa tahun terakhir seperti #MeToo bisa menjadi jawabannya.

“#MeToo membuat orang fokus…sekarang jika saya bilang ‘saya seorang feminis’, orang akan lebih paham [apa yang dimaksud]. Isu-isu perempuan menyebar di WeChat,” katanya.

Di China, ada semakin banyak festival film yang menghormati sutradara perempuan, dan ini membantu mengubah percakapan.

Salah satu contohnya adalah Festival Film Perempuan China, acara setahun dua kali yang diselenggarakan di Beijing dan Hong Kong, dan pertama diadakan pada 2013.

Tujuannya adalah untuk menyoroti sutradara perempuan di seluruh dunia dan memicu diskusi di China dan Hong Kong tentang hak perempuan.

Festival 2019 yang bertempat di Hong Kong berlangsung pada Maret, dan menampilkan film Ava, sebuah film karya sutradara Iran-Kanada Sadaf Foroughi tentang perempuan muda yang menjadi dewasa di Iran, dan #FemalePleasure, dokumenter tentang lima perempuan di komunitas patriarkal yang memecah kebisuan mengenai bagaimana mereka diperlakukan dengan salah.

Sutradara baru Sharon Yeung ingin membuat film tentang 'pengalaman perempuan'.                         HARRIET CONSTABLE
                            Sutradara baru Sharon Yeung ingin membuat film tentang ‘pengalaman perempuan’.

Festival-festival seperti ini menarik bagi sutradara muda seperti Nicola Fan. Film seni hampir tak ada ada di Hong Kong dan tanpa festival seperti ini akan sulit untuk mengakses jenis film tersebut.

Saat berbicara setelah Festival Film Perempuan China di Hong Kong pada Maret, Fan mengatakan, “Festival Film Perempuan China menarik karena membawa dokumenter kaya [buatan perempuan] ke Hong Kong dan China. Festival ini memaparkan penonton ke film seperti Ava yang tak biasa — Anda jarang melihat jenis film seperti ini di box office. Hong Kong tertarik pada film-film besar seperti Avengers atau superhero lain. Saya tak akan tahu [tentang film seperti Ava] tanpa festival.”

Namun, terlepas dari berbagai kemajuan signifikan akan sutradara perempuan yang terjadi di China dan Hong Kong, masih ada tantangan besar.

Teknologi memang memungkinkan pembuatan film jadi lebih mudah dan lebih murah, tapi tanpa sinema film art atau pendanaan publik, tetap saja sutradara baru sulit untuk muncul.

Sutradara baru Sharon Yeung mengatakan, “Kini banyak dari kami yang mengangkat kamera dan merekam apa saja, tapi tetap saya saya terkejut betapa kecilnya penghasilan [kami]…Pendatang baru tetap kesulitan. Film-film masih dibuat oleh para veteran. Marvel, superhero, anggaran besar — itu tetap yang dicari orang-orang.”

Gerakan #MeToo mungkin meningkatkan pemahaman orang, tapi jalannya masih panjang di China dan Hong Kong.

Salah satu korban pertama yang mengungkapkan kisah #MeToo dan menjadi viral, Vera Lui, atlet 23 tahun, dikecam oleh publik, setelah dia menceritakan bahwa dia mengalami kekerasan seksual oleh mantan pelatihnya. Banyak perempuan yang kembali takut untuk berbicara.

Sutradara perempuan semakin mendapat pengakuan— majalah China Life Magazine menampilkan Esther Eng dan wawancara dengan sutradara Louisa Wei.                        HARRIET CONSTABLE
Sutradara perempuan semakin mendapat pengakuan— majalah China Life Magazine menampilkan Esther Eng dan wawancara dengan sutradara Louisa Wei.

Li Dan, pendiri Festival Film Perempuan China, meyakini bahwa film adalah cara terpenting untuk menjangkau warga China dan mendorong debat di masyarakat akan isu-isu seperti ini.

“[Di China] kami tak bisa menyebarkan informasi jika tidak melalui media arus utama atau media besar, semuanya dikendalikan atau disensor oleh pemerintah,” katanya. “Tapi film….adalah cara terbaik untuk [membuat] isu sosial masuk ke arus utama.”

Terlepas dari tantangan yang masih ada, Fan meyakini bahwa ini adalah saat yang penting bagi perempuan untuk berada di film, dia menunjukkan buktinya adalah film blockbuster besar yang menampilkan tokoh utama perempuan dan disutradarai oleh perempuan: “Selama ini, selalu saja Batman, Superman; selalu man, laki-laki. Maka sangat membanggakan melihat film seperti Wonder Woman yang datang dari Hollywood, ini membantu penonton untuk menuntut keragaman cerita,” katanya.

Tiga dari 10 film terlaku di China pada 2018 disutradarai oleh perempuan (di Hollywood, ke-10nya disutradarai oleh laki-laki), dan perempuan melakukan perubahan.

Sutradara Angie Chen telah, secara pribadi, menantang stigma yang dihadapi perempuan dalam film yang dibuatnya.

“Saat saya mulai bekerja [di bidang film] perempuan di bagian produksi dibilang mereka tak boleh duduk di kotak kamera karena mereka akan membawa nasib buruk pada film. Saat saya [menyutradarai] film pertama saya, saya sengaja duduk di atas kotak kamera. Tak ada yang berani bilang apa-apa — saya sutradaranya!” kata Chen.

Sutradara China Angie Chen telang menantang stigma yang dihadapi perempuan dalam film.                        HARRIET CONSTABLE
                     Sutradara China Angie Chen telang menantang stigma yang dihadapi perempuan dalam film.

Untuk masa depan, satu-satunya yang tak berubah secara drastis adalah mimpi sutradara muda di China dan Hong Kong, yang menggemakan keinginan sutradara perempuan pada 1930an.

Seperti sutradara Jepang, Tazuko Sakane pada 1936, Sharon Yeung juga ingin menggunakan pandangannya dalam membuat film, “Saya ingin membuat film tentang pengalaman perempuan,” katanya.

“Sangat menarik bahwa ada semakin banyak film tentang itu, dan saya tak sabar untuk membuat lebih banyak, terutama dari sudut pandang Timur. Belum banyak didalami, selama ini kita menonton film yang dibuat pria, dan kini kita akan melihat semua perspektif baru ini.” (BBC News Indonesia/swh).