Sejarawan Bela Mahfud MD Soal Basis Prabowo ‘Garis Keras’

Sejarawan Bela Mahfud MD soal Basis Prabowo 'Garis Keras' Sejarawan menilai sebagian masyarakat keliru menangkap maksud pernyataan Mahfud MD. (Sumber: CNN Indonesia/Andry Novelino)

Jakarta, Baranews.co – Sejarawan Universitas Padjadjaran Widyonugrahanto menilai Mahfud MD tak bermaksud menyatakan masyarakat Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan memiliki riwayat garis keras dalam artian radikal. Menurutnya, banyak pihak yang keliru menangkap maksud Mahfud.

“Maksud pak Mahfud itu bukan garis keras dalam artian radikal. Maksudnya adalah daerah yang memiliki pengaruh Islam yang sangat kuat dalam kehidupan sosial budayanya. Daerah-daerah itu memang kuat keislamannya,” tutur Anto saat dihubungi (30/4).

Anto memberi contoh soal masyarakat Aceh. Dia menjelaskan bahwa kerajaan Islam pertama di Indonesia berlokasi di Aceh.

ahkan, seluruh kerajaan yang pernah eksis di wilayah serambi Mekkah itu bercorak Islam. Dengan demikian, fondasi peradaban masyarakat Aceh itu terbangun dari pengaruh Islam yang sangat kuat.

Begitu pula dengan Sumatera Barat atau Minangkabau. Pengaruh Islam begitu kuat dalam sosial budaya masyarakat setempat. Ditambah lagi tokoh-tokoh kelompok Padri yang menyiarkan Islam.

“Keislamannya jadi lebih condong mirip wahabi daripada Islam Tradisional (aswaja) sehingga lebih cocok atau lebih bisa diterima Muhammadiyah di sana daripada NU,” tutur Anto.

Masyarakat wilayah Jawa Barat memiliki kecenderungan serupa. Pengaruh Islam cukup kuat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Hal itu dikarenakan kerajaan yang terakhir berlokasi di Cirebon. Tiada kerajaan lain di wilayah Jawa Barat.

“Sehingga pengaruh Islam sangat kuat menjadi fondasi peradaban masyarakatnya. Sebetulnya daerah asal pak Mahfud (Madura) juga daerah keras itu pengaruh Islam-nya,” kata Anto.

Kata Anto, kalau ada daerah yang pembangunan peradaban suku bangsanya dipengaruhi sangat kuat oleh Islam maka kehidupan sosial kultural masyarakatnya akan sangat kuat keislamannya.

Sebelumnya, Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD menyebut Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menang di daerah-daerah yang punya sejarah garis keras dalam hal agama. Pernyataan Mahfud itu terlihat dalam potongan rekaman video yang dibagikan di Twitter.

“Tetapi kalau dilihat sebarannya di beberapa provinsi yang agak panas pak Jokowi kalah. Dan itu diidentifikasi tempat-tempat kemenangan pak Prabowo itu diidentifikasi dulunya dianggap sebagai provinsi garis keras dalam hal agama. Misalnya Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan sebagainya. Sulawesi Selatan juga,” tutur Mahfud dalam video.

Pernyataan Mahfud menuai protes sejumlah kalangan. Terutama politikus pendukung paslon Prabowo Subianto – Sandiaga Uno yang berasal dari Aceh, Sumbar, Jabar, dan Sulsel.

Salah satunya adalah Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu. Dalam cuitannya Said meminta klarifikasi dari pernyataan Mahfud, terutama soal penyebutan Sulawesi Selatan sebagai daerah agama garis keras. (bmw/ugo)/cnnindonesia/swh