Depresi, 14 Caleg Berobat ke Padepokan Maung Bodas di Ciamis

Ilustrasi stres dan gangguan kecemasan (Sumber: kompas.com/tuaindeed)

Ciamis, Baranews.co – Sebanyak 14 calon legislatif (calon legislatif) berkonsultasi dan menjalani pengobatan di Padepokan Maung Bodas, Kampung Cisema, Desa/Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, hingga Kamis siang (25/4/2019).

Caleg yang mengalami depresi karena perolehan suaranya tidak signifikan tersebut berasal dari wilayah Kota Banjar, Ciamis, Kuningan, Cilacap, bahkan Bogor.

“Ada juga yang ngobrol-ngobrol, konsultasi, minta pandangan,” kata Pimpinan Padepokan Maung Bodas, Ujang Ano Lodaya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis.

Awalnya, kata dia, padepokannya menangani rehabilitasi ketergantungan narkotika dan rehabilitasi gangguan jiwa. Pasca pemilu, dibuka pengobatan untuk caleg yang depresi.

“Pengobatannya gratis. Sejak (padepokan) berdiri, kami bebaskan biaya pengobatan. Kami juga komitmen merahasiakan identitas dan parpol (asal caleg),” ucap Ujang Ano yang akrab disapa Wak Ano ini.

Penyebab caleg depresi, menurut dia, seputar kalah di pemilu, atau perolehan suaranya tidak banyak. Depresi yang dialami para caleg mulai sulit diajak bicara, kerap ngomong sendiri, hingga bentur-benturkan kepala.

“Macam-macam,” sebutnya. Metode dan proses pemulihan caleg depresi, jelas Wak Ano, dengan cara relaksasi, refleksi, rukyah, dzikir dan doa.

Metoda relaksasi, kata dia, bagaimana melayani dengan cara memuliakan orang yang sedang ada masalah tersebut.

“Dibawa enjoy, santai, dibawa suasana sejuk. Simpul-simpul saraf direfleksi,” katanya.

Lamanya penyembuhan, lanjut Wak Ano, bervariatif. Mulai 2-3 jam hingga sehari semalam.

“Rata-rata yang masih dalam tahapan depresi, datang ke sininya sejak awal, pemulihan biasanya 2 sampai 3 jam selesai,” jelas dia.

Menurut Wak Ano, jika pasien datang lebih awal untuk berobat, maka lebih mudah diproteksi. Yang berbahaya, katanya, saat sang caleg masih terus berjuang mengumpulkan data karena proses penghitungan oleh KPU belum final.

“Sadar sejak dini lebih baik. Enggak terlalu parah. (Yang berobat) Pasca hasil akhir (diumumkan KPU) itu, itu yang fatal,” katanya. (Kontributor Pangandaran, Candra Nugraha/kompas.com/bh).