Pilpres 2019: Peran kompleks China Dalam Masa Depan Indonesia

Presiden China, Xi Jinping, bertandang ke Istana Negara di Jakarta, pada 2013 lalu. (Sumber: BBC Indonesia/GETTY IMAGES)

Siapa pun pemenang pilpres nanti, ia dibebani peran rumit untuk menjaga hubungan dengan China.

Baranews.co – China berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, akan tetapi semakin banyak pemilih yang tak menyukai perannya tersebut.

Ekonomi Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta orang, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia per tahun rata-rata di angka 5%.

Menurut riset PwC, pada tahun 2050 mendatang, Indonesia diprediksi menjadi ekonomi keempat terbesar di dunia, di bawah China, India dan Amerika Serikat.

Namun demikian, para pengamat kerap mengatakan bahwa Indonesia mengalami stagnasi karena terkendala kekurangan investasi dalam bidang infrastruktur selama beberapa dekade, serta digerogoti korupsi dan keruwetan birokrasi.

Maka, bagi 193 juta pemilih yang akan menentukan pilihan mereka 17 April mendatang, pertumbuhan ekonomi menjadi isu penting dalam pemilu kali ini.

Namun pertumbuhan ekonomi tersebut tak akan berkembang tanpa investasi yang signifikan di bidang infrastruktur, yang mengganggu perdagangan dan merintangi potensi negeri.

Beralih ke China

China telah tertarik untuk mengembangkan proyek-proyek infrastruktur di Indonesia, sehingga Indonesia ditambahkan ke daftar negara-negara penerima investasi China dalam skema Belt and Road Initiative atau jalur sutera modern.

“Biasanya, sumber investasi internasional terbesar di Indonesia berasal dari Jepang dan Korea,” ujar Tom Lembong, kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.

“Saya menyadari bahwa selama lima tahun terakhir China melesat dari investor internasional ke-13 di Indonesia menjadi, bisa dikatakan, nomor satu saat ini.”

Ruas jalan tol dibangun dari Jakarta menuju Lido, Sukabumi, November 2017 GETTY IMAGES
Pembangunan infrastruktur berperan penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan

Meskipun belum ada proyek jalur sutera modern yang resmi dibangun di Indonesia, China telah mengalahkan Jepang dalam penggarapan sejumlah proyek infrastruktur besar di tanah air.

Akan tetapi setidaknya satu dari banyak proyek tersebut dihinggapi kontroversi.

Pembangunan kereta cepat rute Jakarta-Bandung merupakan sebuah proyek senilai US$5,9 miliar (Rp83,2 triliun) yang dibangun oleh konsorsium China dan sejumlah perusahaan Indonesia. Menurut laporan, setidaknya 75% pendanaan proyek tersebut disokong oleh Bank Pembangunan China.

Setelah selesai nanti, kereta tersebut akan menjadi proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara, yang menghubungkan ibu kota Jakarta dengan salah satu kota terbesar di Indonesia, Bandung.

Akan tetapi, proyek itu tertunda akibat masalah akuisisi lahan. Selain itu, sejumlah pihak juga mengkritik tujuan dibangunnya kereta cepat ke Bandung, mengingat masih tersedianya pilihan moda transportasi yang lebih murah, termasuk bus dan kereta biasa.

kereta AFP/GETTY IMAGES
Proyek kereta cepat sokongan China yang menghubungkan Jakarta dan Bandung tidak kunjung terealisasi.

Investasi China menjadi sebuah isu yang diperdebatkan dalam pemilu kali ini, karena capres petahana, Joko Widodo, terus mendekati Beijing untuk berinvestasi dalam bidang infrastruktur di Indonesia.

Sebagian alasannya karena tak ada negara lain yang memiliki kekuatan finansial yang setara dengan China, dan sebagian lainnya karena Indonesia merupakan sebuah kawasan rumit untuk berinvestasi sehingga kebanyakan investor asing tidak tergerak untuk melakukannya.

Di sisi lain, Tom Lembong menyatakan bahwa banyak investor asing yang tertarik pada Indonesia, dan bersedia menyanggupi sejumlah persyaratan. Ia juga mengatakan bahwa agar investasi China dapat optimal di Indonesia, hal itu harus dikelola dengan baik.

“Saya rasa kebanyakan negara yang saya tahu berharap dapat bekerja sama dengan China untuk terus menyesuaikan dan mengembangkan investasi agar semakin tidak kontroversial seiring waktu,” ungkapnya, membandingkan investasi China dengan Jepang di seluruh dunia pada tahun ’80 dan ’90-an.

“Kini investasi Jepang di seluruh dunia telah diterima dengan baik dan sama sekali tidak kontroversial. Percaya atau tidak, saya percaya bahwa kita tengah menuju situasi di mana kita dapat menyelesaikan segala persoalan yang ada.”

Calon presiden petahana Joko Widodo REUTERS
Presiden Joko Widodo dianggap sejumlah pihak terlalu lunak terhadap China

Pada saat yang sama, investasi China menjadi momok yang digunakan capres Prabowo Subianto untuk menjatuhkan sosok Jokowi.

Prabowo menuduh Jokowi bersikap terlalu lunak terhadap China, dan mengizinkan jutaan pekerja Tiongkok bekerja dalam proyek-proyek yang didanai China. Prabowo mengatakan jika ia terpilih sebagai presiden, ia akan meninjau kembali semua proyek China yang ada di Indonesia.

Pernyataan itu diamini banyak warga Indoensia, yang semakin waspada akan pengaruh China di dalam negeri.

Sudah sejak lama ada rasa kebencian mendalam terhadap warga Indonesia keturunan Tionghoa yang terkadang memuncak menjadi aksi kekerasan, yang sebagiannya didorong oleh kecemburuan terhadap kondisi ekonomi warga Tionghoa Indonesia yang dianggap lebih makmur dibandingkan warga Indonesia dari etnis Melayu.

Meskipun banyak pengusaha besar Indonesia berasal dari keturunan Tionghoa, pada kenyataannya, sebagian besar komunitas tersebut berasal dari warga kelas menengah Indonesia, yang sama-sama berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti warga lainnya.

Seorang petugas mempersiapkan surat suara untuk pemilu serentak mendatang GETTY IMAGES
192 juta warga Indonesia akan menentukan pilihan politik mereka tanggal 17 April mendatang

Sentimen anti-China itu juga diperburuk oleh apa yang banyak orang Indonesia anggap sebagai hegemoni China di bidang ekonomi dan politik yang semakin melampaui batas.

Dalam laporan terakhir Pew Research Center, angka yang menunjukkan rasa suka warga Indonesia terhadap China semakin lama semakin turun. Pada tahun 2018, 53% responden memandang baik China, turun dari 66% pada tahun 2014, saat pemilu sebelumnya berlangsung.

Akan tetapi, siapa pun yang memenangkan pertarungan politik 17 April mendatang kemungkinan besar akan tetap bergantung pada China untuk mencapai angka pertumbuhan ekonomi yang dapat menopang pertumbuhan populasi Indonesia.

Nyatanya, keberhasilan Indonesia di masa depan bergantung pada bagaimana Indonesia menjalankan hubungannya dengan China, terlepas dari apa pun yang dikatakan para capres kepada pemilihnya. (BBC News Indonesia/swh).