LIGA EUROPA: ”Fantastic Four” Arsenal

Penyerang Arsenal, Pierre-Emerick Aubameyang, melepaskan tendangan dalam hadangan pemain Napoli, Nikola Maksimovic, pada laga pertama perempat final Liga Europa di Stadion Emirates, London, Inggris, Jumat (12/4/2019) dini hari WIB. Arsenal menang 2-0 pada laga itu. (Sumber: Kompas/AP PHOTO/KIRSTY WIGGLESWORTH)

London, Baranews.co – Manajer Unai Emery agaknya telah menemukan racikan tepat untuk memaksimalkan agresi sekaligus pertahanan Arsenal. Racikan yang dikemas dalam formasi 3-4-3 itu membuat fantastic four ala Arsenal kembali hidup ketika membekap Napoli, 2-0, di perempat final Liga Europa, Jumat (12/4/2019) waktu Indonesia.

Seperti halnya klub tetangga Tottenham Hotspur, Arsenal memiliki fantastic four alias empat pemain fantastis versi mereka sendiri. Keempatnya adalah Mesut Oezil, Aaron Ramsey, Pierre-Emerick Aubameyang, dan Alexandre Lacazette. Sayang, hampir sepanjang musim ini, keempatnya sulit bersama alias tampil bareng di satu laga sejak menit pertama.

Lacazette, misalnya, tidak jarang menjadi pengganti Aubameyang ataupun sebaliknya, seperti saat Arsenal dibekap Everton 0-1, Minggu (7/4/2019) di Goodison Park. Adapun Oezil bernasib lebih parah. Status ”jenderal lapangan tengah” yang melekat padanya pernah dilucuti Emery. Ia pun kerap menjadi ”penonton” di bangku cadangan tim pada paruh pertama musim ini.

Kebingungan Emery bisa dimaklumi. Lacazette dan Aubameyang memiliki karakter bermain nyaris serupa, yaitu penyerang tengah. Keduanya pun bak rival di tim untuk memperebutkan posisi sebagai ujung tombak serangan. Pertanyaan lantas sering dilontarkan, apakah keduanya bisa tampil bersama dan akur di satu line up alias susunan pemain?

Emery memang beberapa kali bereksperimen dengan memainkan Lacazette di posisi penyerang sayap kiri, adapun Aubamayeng di tengah, untuk menduetkan kedua pemain itu. Namun, kebijakan tersebut mengorbankan dua pemain lain, Oezil atau Ramsey. Keduanya sulit tampil bersama jika Emery memaksakan taktik favoritnya, yaitu 4-3-3 atau 4-2-3-1.

Taktik itu juga terbukti gagal menyelesaikan masalah rapuhnya lini pertahanan ”The Gunners” yang diwariskan dari eks manajernya, Arsene Wenger. Terbukti, Arsenal dibekap Manchester City, Liverpool, dan Tottenham Hotspur ketika mempertahankan taktik usang itu di paruh pertama musim ini.

Perubahan mulai terlihat saat Arsenal menjamu rival abadinya, Manchester United, di Liga Inggris, Maret lalu. Menghadapi MU—yang tengah terbang tinggi dan belum pernah kalah di Liga Inggris bersama manajer anyarnya, Ole Gunnar Solskjaer—Arsenal berevolusi. Emery menanggalkan formasi 4-3-3 dan bereksperimen dengan pola barunya, 3-4-3.

AFP/BEN STANSALL
Gelandang Arsenal, Aaron Ramsey (kedua dari kanan), dan rekan-rekan setimnya merayakan keberhasilannya mencetak gol ke gawang Napoli pada laga pertama perempat final Liga Europa di Stadion Emirates, London, Inggris, Jumat (12/4/2019) waktu Indonesia. Arsenal menang 2-0.

Taktik pragmatis sekaligus agresif itu terbukti ampuh. Pertahanan Arsenal mendadak bak tembok beton yang diisi tiga bek sekaligus dua bek sayap yang sangat dinamis membantu pertahanan ataupun serangan. Kelebihan lainnya, formasi itu mampu mengakomodasi fantastic four Arsenal. Aubameyang dan Lacazette diduetkan sebagai striker kembar, Oezil kembali menempati posisi penting sebagai trequartista, dan Ramsey menjadi dinamo serangan.

Ketika formasi 3-4-3 serta fantastic four itu dimainkan berbarengan, Arsenal selalu menang dan tidak pernah kebobolan. Mereka sebelumnya juga menggilas Stade De Rainnes, 3-0, di babak 16 besar Liga Europa dengan pendekatan serupa. Terakhir, mereka juga menang meyakinkan, 2-0, atas Napoli di kompetisi antarklub Eropa itu.

Taktik tersebut jitu merusak pertahanan rapi klub Italia itu. Napoli, yang ditangani pelatih berpengalaman Carlo Ancelotti, kebingungan membendung agresivitas The Gunners. Barisan pemain bertahan Napoli sering terfokus pada ”trisula”Arsenal, yaitu Aubameyang, Lacazette, dan Oezil, sehingga kerap lupa mengawal pergerakan dari para pemain lini kedua, yaitu Ramsey dan Lucas Torreira. Keduanya menyumbang dua gol Arsenal di laga itu.

Menabung gol

Arsenal memang sangat bernafsu menyerang di laga ini. Mereka sadar, tampil di kandang menjadi kesempatan berharga untuk ”menabung” gol sebagai modal menatap laga kedua di Italia. Arsenal pun memiliki lima peluang emas lain, termasuk tendangan satu sentuhan Ramsey di menit ke-80 yang nyaris berujung gol.

Tak ayal, Emery gembira bercampur kecewa dengan hasil kemenangan 2-0 itu. Di satu sisi, ia sedikit khawatir dengan laga kedua menyusul buruknya rekor tandang Arsenal pada musim ini. Mereka selalu kalah di empat laga tandang terakhir, termasuk di Liga Europa dari Bate Borisov dan Rennais. ”Jadi, peluang kami (lolos ke semifinal) masih 50-50. Biasanya, Napoli tampil kuat di kandangnya,” ujar Emery.

Michael Cox, jurnalis sepak bola di ESPN, mengakui, buruknya rekor tandang The Gunners sangat mengkhawatirkan. Namun, ia optimistis Arsenal bisa lolos di Italia. Syaratnya, di markas Napoli, mereka harus tampil sama agresif dan menyerangnya seperti saat di Emirates guna mencari setidaknya gol tandang. Jika Arsenal mampu mencuri satu gol, Napoli harus menang setidaknya 4-1.

”Kami harus bermain dengan intensitas tinggi. (Skor kemenangan) 3-0 mungkin saja mustahil. Untuk (skor) 2-0 masih ada peluang walaupun kecil,” tutur Pelatih Napoli Carlo Ancelotti. (AFP)/YULVIANUS HARJONO/Kompas Cetak