Jejak Jokowi Daki Gunung Kerinci Ketika Kuliah di UGM

Sumber: Ristu Hanafi/detikom

Sleman, Baranews.co – Buku ‘Jokowi Travelling Story – Kerinci 1983’ dilaunching di warung Kopi Gajah, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (11/4/2019) malam. Buku ini mengulas perjalanan Presiden RI, Joko Widodo ketika mendaki Gunung Kerinci saat masih berstatus mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1983.

Buku terbitan Maneka setebal 114 halaman ini ditulis oleh Rifqi Hasibuan dan Iqbal Aji Daryono, bersama tim Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan UGM dan tim Ekspedisi Kerinci 1983.

Hadir dalam launching, penulis Iqbal Aji Daryono, penerbit Maneka, Edi Suprapto dan tiga teman mendaki Jokowi di Ekspedisi Kerinci.

“Buku ini dalam konteks Pak Jokowi atau Mas Joko panggilan waktu itu, memberi bukti tak terbantahkan bahwa memang beliau alumni UGM, khususnya anggota Mapala Silvagama,” kata Iqbal.

Pengumpulan bahan penulisan buku berdasarkan dua data, yakni dokumen foto serta penuturan para pelaku pendakian melalui sesi diskusi kelompok untuk menjelaskan latar belakang dokumentasi foto.

“Narasumber ingatannya tajam semua, detail semua ceritanya, dokumen lengkap. Tapi justru yang jadi sedikit kendala adalah karakter Pak Jokowi sendiri yang pendiam, pendengar, jadi cerita visual saja yang muncul, peristiwa obrolan tidak banyak. Tapi proses pendakian, dari Yogya-Jakarta, Jakarta sampai Padang, naik Plawangan sampai puncak, lalu turun kawah, Mas Joko waktu itu memang terlibat secara aktif dan memang bergabung bersama tim pendakian Kerinci 1983,” urainya.

Diakuinya, alasan penulisan buku ini yang utama adalah menyambut ulang tahun Silvagama. Proses penulisan buku berlangsung selama 12 hari.

“Dan kebetulan memang ada banyak sekali cerita Pak Jokowi di situ yang bisa diambil untuk mengenal lebih dekat masa muda beliau, dan memberikan pelurusan informasi yang ngawur di tengah masyarakat,” jelasnya.

Ketua Tim Mapala Silvagama tahun 1983, Robertus Sugito membenarkan Jokowi waktu itu merupakan salah satu anggota Mapala Silvagama.

“Dan beliau ini adalah orang pertama yang sampai puncak, nomor satu, duluan sampai puncak. Walau beliau, maaf saja, postur tubuhnya kurang meyakinkan,” kenangnya.

Isi buku ‘Jokowi Travelling Story Kerinci 1983’ terdiri dari empat bagian, bagian I mengulas Silvagama, Kerinci, Jokowi, bagian II Menuju Kerinci, bagian III Mendaki Kerinci dan bagian IV Mengingat Jokowi Muda.

Buku JokowiBuku Jokowi Foto: Ristu Hanafi/detikom

Ada cerita menarik yang tertulis di halaman 24 dengan judul Dikira Maling Sapi. Isinya menceritakan peristiwa pada akhir Januari 1983 atau dua pekan menjelang Ekspedisi Kerinci, kala Jokowi bersama sahabat dekatnya, Jambrung Sasono melakukan persiapan fisik dengan mendaki Telomoyo, gunung berapi kecil dengan ketinggian puncak 1.894 mdpl, atau kurang dari separuh puncak Kerinci. Lokasinya berada di Ambarawa.

Sesampai di desa terakhir di kaki gunung selepas Maghrib, warga setempat sempat mengira Jokowi dan Jambrung adalah maling sapi. Bukan tanpa alasan, desa setempat memang sedang banyak disatroni maling sapi. Kepala desa setempat bahkan menahan kartu mahasiswa keduanya sebelum diizinkan mendaki pada pagi hari.

Singkat cerita, pada 18 Februari 1983 pagi, 14 pendaki Mapala Silvagama akhirnya sampai di puncak Kerinci. Mereka adalah Jokowi, Robertus Sugito yang saat itu menjabat Ketua Mapala Silvagama, penggagas ide pendakian sekaligus pemimpin ekspedisi Damianus Jaka Santosa, Bambang Supriyambodo, Harwo, serta Sigit Hardwinarto, Arif Hidayat dan Erwansyah, ketiganya aktivis HMI. Juga Sri Hardono, Edy Pramudjo, Arif Mulia Nasution, Hudi Wardoyo, Johan Utama Perbatasari dan Totok Suripto.

Jokowi sendiri mendaftar anggota Mapala Silvagama pada 26 Maret 1981, saat dia belum genap setahun sebagai mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM.

Perjuangan Jokowi bersama temannya sampai puncak salah satu gunung aktif di Indonesia tak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai persiapan dilakukan.

Mulai dari berburu dukungan dana, berbekal proposal Observasi Gunung Kerinci, tim Mapala Silvagama akhirnya mendapatkan bantuan dana dari Dinas Kehutanan Sumatera Barat sebesar Rp 640 ribu yang dikirimkan wesel pos. Serta bantuan dari perusahaan Gudang Garam sebesar Rp 150 ribu. Dan sebagai dana cadangan, tiap pendaki wajib membawa uang saku Rp 25 ribu.

Sebagai gambaran, saat itu uang Rp 200 bisa untuk makan nasi ayam. Dan uang Rp 625 ribu bisa untuk membeli motor Honda Super Cup baru.

Buku ini juga mengulas perjalanan tim Ekspedisi Kerinci saat berangkat dari Yogya menuju Padang. Di antaranya cerita gagal naik pesawat Hercules untuk menuju Padang karena salah jadwal hingga dicegat begal saat naik bus di jalur lintas Sumatera. (bgk/bgs)/Ristu Hanafi – detikNews/bh