Rwanda Peringati 25 Tahun Genosida: “Yang Pernah Terjadi, Tidak Boleh Terulang”

Sumber: dw.com

“Apa yang terjadi di sini tidak akan pernah terjadi lagi,” kata Presiden Paul Kagame. Peringatan 25 tahun genosida ditandai dengan penyalaan lilin di stadion, mengenang lebih 800.000 korban tewas.

Baranews.co -Ribuan warga Rwanda, beserta Presiden Paul Kagame dan Ibu Negara Jeannette Kagame, menandai peringatan 25 tahun genosida negara itu pada 1994 dengan sebuah upacara hening hari Minggu (7/4).

Paul Kagames dan istri meletakkan karangan bunga di lahan pemakaman massal, tempat sekitar 250.000 korban dikuburkan.

“Pada tahun 1994, tidak ada harapan, hanya ada kegelapan. Hari ini, cahaya memancar dari tempat ini … Bagaimana itu terjadi? Rwanda menjadi satu keluarga lagi,” kata Presiden Kagame.

Ruanda 25. Jahrestag Völkermord | Zeremonie in Kigali (Getty Images/AFP/Y. Chiba)

Presiden Rwanda Paul Kagame (kedua dari kiri), menyalakan api upacara peringatan, didampingi Ketua Uni Afrika Moussa Faki (kiri) dan ibu negara Jeanette (kedua dari kanan) dan pimpinan Uni Eropa Jean-Claude Juncker (kanan)

Dia menambahkan, “rakyat kami menanggung beban yang sangat besar ini hanya dengan sedikit atau tanpa keluhan. Ini telah membuat kami lebih baik, dan lebih bersatu daripada sebelumnya.”

“Tidak akan pernah terjadi lagi.”

Selanjutnya Presiden Paul Kagame memimpin upacara lilin di Stadion Nasional Kigali. Tahun 1994, banyak  warga Tutsi mencari perlindungan dari kekerasan di stadion ini, di bawah perlindungan pasukan PBB.

Embedded video

Kwibuka Rwanda@KwibukaRwanda
President Paul Kagame has lit the flame of Remembrance assisted by a generation of 25 years at the @Kigali_Memorial. The flame will burn for the next 100 days for the 25th commemoration of the 1994 Genocide Against the Tutsi. #Kwibuk25
4:25 PM – Apr 7, 2019

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker, para pemimpin Afrika, Kanada dan Uni Afrika yang mengahdiri acara tersebut juga turut ambil bagian dalam upacara peringatan tersebut.

“Saya begitu tergerak dan kehilangan kata-kata pada peringatan tragedi ini,” kata Juncker. “Waktu tidak akan pernah bisa menghapus masa-masa tergelap dalam sejarah kita. Adalah tugas kita untuk mengingat.”

View image on Twitter

Jean-Claude Juncker

@JunckerEU
I am moved beyond words at this memorial to tragedy. It serves as a bleak warning of the worst humanity is capable of. But through the darkest of days, I remain in awe at the power of regeneration, of this country, and of humankind. #Kwibuka25
4:31 PM – Apr 7, 2019 · Rwanda

100 hari kekerasan

Pada 6 April 1994, sebuah pesawat yang membawa Presiden Juvenal Habyarimana dari etnis Hutu, ditembak jatuh. Etnis Tutsi dituduh melakukan pembunuhan itu. Peristiwa ini memicu aksi kekerasan ekstremis Hutu yang membantai warga Tutsu, didukung oleh tentara, polisi, dan milisi. Aksi kekerasan dan pembantaian berlangsung selama 100 hari dan menewaskan lebih 800.000 orang.

Presiden Paul Kagame memerintah Rwanda sejak genosida berakhir. Dia mulai mengarahkan kebijakan negara menuju pemulihan ekonomi dan rekonsiliasi nasional. Namun kalangan aktivis hak asasi menuduh Kagame memerintah secara otoriter dan gagal mengajukan para pelaku pelaku kejahatan kemanusiaan ke pengadilan.

Presiden Kagame menuduh pemerintah yang dipimpin Hutu tahun 1994 sengaja menembak jatuh pesawat pendahulunya. Dia juga mengatakan pemerintah Prancis yang saat itu punya pasukan yang ditempatkan di Rwanda hanya menutup mata ketika aksi pembunuhan dan pembantaian massal meluas. [hp/ts  (afp, rtr, ap)/dw.com/swh].