Andi Widjajanto: Jokowi Lebih Paham TNI daripada Prabowo

Capres nomor urut 01 Joko Widodo mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat itu mengangkat tema Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan Internasional. (Sumber: kompas.com/ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A)

Jakarta, Baranews.co – Ketua tim relawan Jokowi Cakra 19 Andi Widjajanto menilai, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo lebih memahami substansi permasalahan di bidang pertahanan dan keamanan dibanding calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto.

Hal tersebut disampaikan Andi menanggapi debat capres putaran keempat kemarin malam.

“Jokowi lebih paham TNI daripada Prabowo,” kata Andi dia dalam keterangan tertulis (31/3/2019).

Andi berpendapat, Jokowi bisa menjelaskan dengan rinci tentang gelar baru TNI seperti Kogab, Divisi 3, Koops AU 3, dan Armada 3.

Selain itu, capres petahana juga mampu menjelaskan tentang gelar satuan terpadu TNI di Natuna, Morotai, Saumlaki, Biak.

Mantan gubernur DKI Jakarta itu juga mampu menjelaskan paradigma investasi pertahanan yang mengubah belanja militer untuk pembelian senjata menjadi alokasi anggaran untuk membangun industri pertahanan.

“Ini menunjukkan Jokowi memiliki visi dan komitmen untuk menguatkan TNI untuk menghadapi Perang Teknologi-Perang Siber masa depan. Sementara, Prabowo cenderung tidak percaya teknologi,” kata Andi yang juga pengamat pertahanan ini.

Andi juga menilai Prabowo tidak paham intelijen strategis. Intelijen strategis, kata Andi, merumuskan Perkiraan Keadaan (Kirka) dan membuat beberapa skenario ke depan yang dijadikan salah satu pertimbangan untuk membuat kebijakan oleh presiden.

Kirka ini ditulis dibahas secara rutin di Rakor Intel di Kemhan dan TNI yang dilakukan setiap awal tahun untuk membantu perumusan kebijakan di tahun itu.

“Sebagai mantan perwira yang lama bertugas di Kopassandha, aneh banget kalau Prabowo tidak paham fungsi intelijen strategis,” ujar Andi.

Sebelumnya, dalam debat keempat dengan tema keamanan dan pertahanan, Jokowi memaparkan telah menerapkan gelar pasukan di empat titik di Indonesia.

“Penting sekali gelar pasukan yang terintegrasi, artinya kita tidak jawasentris, kita perintahkan untuk membagun divisi di Gowa, divisi di Biak dan Sorong. Titik pinggir semua terjaga, radar maritim kita radar udara kita sudah mengetahui wilayah kita 100 persen,” ungkap Jokowi.

Sementara, Prabowo menyatakan sektor pertahanan Indonesia masih lemah karena negara tidak memiliki uang. Karena itu, menurut dia, menambah anggaran di sektor pertahanan sangatlah penting. Namun dengan catatan yaitu menghentikan kebocoran anggaran dan korupsi. (Ihsanuddin/kompas.com/bh).