PSIKOLOGI: Menerima dan Berkomitmen

Ilustrasi (Sumber: Kompas)
Kristi Poerwandari (Sumber: Kompas/Arsip Pribadi)

Oleh: KRISTI POERWANDARI

Mengalami masalah adalah hal normal dan manusiawi. Semua orang pernah atau suatu saat akan mengalaminya. Kita tidak dapat secara sengaja membuang penderitaan psikis yang diakibatkannya, tetapi dapat mencegah makin membesarnya penderitaan itu.

Saya ingin memperkenalkan pembaca pada prinsip-prinsip pendekatan terapi psikologis yang disebut acceptance and commitment therapy (ACT).

Pembaca yang ingin lebih serius mempelajari pendekatan ACT untuk menolong diri sendiri ataupun mendampingi orang lain dapat membaca buku self-help dengan banyak tugas refleksi yang akan sangat membantu. Ditulis oleh Hayes dan Smith (2005), buku ini berjudul Get Out of Your Mind and into Your Life: The New Acceptance & Commitment Therapy.

Bukan perang

Steven Hayes, penggagas ACT, menekankan perlunya kita membedakan ”isi” dari ”penampakan” masalah. Berbeda dengan pemahaman kebanyakan orang selama ini, menerima rasa sakit justru merupakan langkah untuk dapat keluar dari penderitaan yang dialami.

Masalah yang kita hadapi seperti lawan dan menghadapinya dapat diumpamakan seperti sedang berperang menghadapi masalah. Misal, kita ”berperang” memaksa anak mengubah perilaku atau berperang untuk melupakan perkawinan yang gagal. Kita berjuang mati-matian melakukannya. Ternyata itu sangat sulit, yang muncul mungkin justru perasaan makin tidak berdaya, marah, dan terkhianati.

Yang diusulkan oleh Hayes adalah, bagaimana apabila kita tidak menuntut diri untuk sibuk berperang, tetapi menjalani saja secara sadar hidup kita saat ini (terlebih dulu)? Dalam keadaan demikian, perjuangan untuk mengubah anak atau keluar dari rasa sakit akibat perkawinan yang gagal masih tetap dilakukan, tetapi rasa tertekan dan tuntutan pada diri untuk ”harus menang” tidak lagi mendominasi.

Dengan cara seperti itu, rasa sakit malah tidak sedemikian parah dirasakan lagi dan perubahan positif justru terjadi.

Ide atau pemikiran untuk justru meninggalkan ”medan perang” daripada memaksa diri harus memenangi ”peperangan” mungkin terasa aneh atau asing. Untuk itu, kita harus banyak belajar cara bersikap yang secara mendasar berbeda dari biasanya.

Menerima

Bayangkan ada seseorang yang terperangkap masuk dalam lumpur yang mengisap (quicksand). Tidak ada tali atau batang pohon yang dapat digunakan untuk menolongnya. Yang dapat kita lakukan hanya berkomunikasi atau memberi arahan perilaku kepadanya.

Orang itu ketakutan. Kemungkinan terbesar yang akan dilakukannya adalah berusaha mati-matian untuk keluar. Ia menarik kakinya keluar, menendang ke sana kemari, tangannya juga bergerak panik. Yang dilakukannya itu justru membuatnya masuk lebih dalam ke lumpur.

”Eling”, atau sadar penuh (mindful), adalah suatu cara untuk mengamati dan menyadari pengalaman kita. Ini menjadi prasyarat penting untuk intervensi diri. Sebagian orang melatih diri untuk lebih eling dengan rutin melakukan meditasi.

Lainnya memilih untuk mencari waktu tenang sendiri, jauh dari ingar bingar kehidupan modern yang kompetitif dan menegangkan. Ada juga yang rutin melakukan refleksi.

”Penerimaan” dalam ACT didasarkan pada pemahaman bahwa berjuang keras keluar dari rasa sakit malah menguatkan rasa sakit itu, bahkan dapat membuatnya jadi makin menyakitkan. Gara-gara terlalu terfokus pada kesakitan itu, hidup sehari-hari dipinggirkan.

Mohon dipahami bahwa menerima bukan berarti bersikap pasif, nihilistik, dan mengorbankan diri sendiri. Yang dimaksud adalah menyadari dengan aktif apa yang sedang terjadi, menerima pengalaman itu dengan tenang.

Misalnya, apabila seseorang mengalami penghinaan dan penganiayaan, yang dimaksudkan bukanlah menerima atau menyetujui penganiayaan itu. Namun, maksudnya adalah menerima kenyataan adanya luka batin yang dirasakan serta ingatan-ingatan buruk dan rasa takut yang diakibatkan.

Kita berlatih menuliskan, misalnya ”Ingatan-ingatan yang selama ini selalu kuhindari adalah…”, ”Menghindari ingatan itu menyebabkan aku…”.

Penerimaan menghadirkan tahapan lebih lanjut, yakni ”kesediaan” (willingness). Kesediaan bukan berarti menginginkan. Bersedia berarti menerima kenyataan bahwa dirinya terluka, bahwa ia butuh waktu untuk memulihkan diri. Bukan berarti ia menginginkan hal tersebut. Bukan pula merasa terpaksa atau berpura-pura bersedia menerimanya.

Komitmen dan nilai hidup

Ketika kita sangat terfokus pada masalah, sering kita tidak memberikan perhatian pada aspek-aspek lain atau keseluruhan hidup kita secara utuh.

Setelah eling dan bersedia menerima, masuklah komponen terakhir terkait komitmen dan nilai hidup. Apakah hidup kita yang sekarang sudah seperti yang kita inginkan? Apakah hidup kita sekarang sudah terfokus pada apa yang menurut kita paling berarti?

Bayangkan kita mengemudikan bus ”hidup kita” dan penumpangnya adalah ingatan-ingatan, sensasi tubuh, emosi, pikiran-pikiran kita yang sudah terprogram, sejarah hidup kita.

Yang akan kita bawa karena kita anggap bermakna penting adalah nilai-nilai hidup kita. Mungkin kita sudah melakukan yang kita anggap penting itu, mungkin juga sedang mengusahakannya.

Untuk menemukan nilai-nilai terdalam yang kita pilih, bayangkan kita sudah dipanggil oleh Sang Pencipta, dan orang-orang sedang menghadiri pemakaman kita.

Ada anggota keluarga atau orang dekat yang diminta untuk memberi sambutan mengenai apa yang dikenangnya tentang kita: apa yang sangat kita pedulikan, apa yang telah kita perjuangkan. Apa yang ingin kita dengar dari mulutnya?

Pada akhirnya, yang dapat disimpulkan adalah, manusia tidak lepas dari masalah dan penderitaan akibat berbagai persoalan hidup. Untuk dapat melepaskannya, justru harus dengan sadar menerima.

Dengan bersedia menerima, kita dapat berlanjut untuk menemukan nilai hidup dan berkomitmen untuk menjalankan atau menghidupkannya. (Kompas Cetak).