HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL 2019: Ketika Perempuan Akar Rumput Bertandang ke Istana Kepresidenan

Presiden Joko Widodo foto bersama perempuan akar rumput dari seluruh provinsi di Tanah Air, Rabu (6/3/2019), di depan Istana Merdeka, Jakarta. (Sumber: KOMPAS/SONYA HELLEN SINOMBOR)

Senang, deg-degan, gelisah, dan tidak bisa tidur semalaman menanti datangnya pagi hari. Semua perasaan itu dialami para ibu dari kalangan akar rumput ketika menerima undangan dari Istana Kepresidenan untuk menghadiri acara ”Silaturahim Presiden Joko Widodo dengan Perempuan Arus Bawah”, Rabu (6/3/2019), di Istana Negara, Jakarta.

Hari itu, sekitar 500 ibu dan perempuan serta pendamping komunitas perempuan dari daerah-daerah di Tanah Air hadir di Istana Negara, bertatap muka, berdialog, dan bersalaman dengan Presiden Joko Widodo.

”Bahagia, bangga. Seperti mimpi bisa bertemu dengan Presiden Jokowi yang berbaur dengan masyarakat biasa seperti saya, ibu rumah tangga, dari desa pinggiran Gunung Rinjani,” ujar Saraiyah (47), ibu rumah tangga dari Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Hingga acara selesai, Saraiyah, yang juga Ketua Sekolah Perempuan di Desa Sukadana, masih tidak percaya bahwa pada acara itu dirinya bertemu langsung dengan Presiden Jokowi. Apalagi, dia salah satu dari empat perempuan yang dipanggil Presiden Jokowi berdialog langsung dengan Presiden Jokowi.

Saat ditanya Presiden apa yang dilakukannya di daerahnya, Saraiyah pun menceritakan bahwa dirinya satu-satunya perempuan yang duduk di Majelis Krama Desa (MKD) Sukadana. Selama ini MKD, yang tugasnya menyelesaikan sengketa yang ada di masyarakat secara adat, diisi laki-laki serta terdiri dari tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Pengalaman yang tak terlupakan juga dialami Nurlina (28), perempuan nelayan dari Pulau Sabangko di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Sehari sebelumnya, Selasa (5/3/2019), Lina berangkat ke Makassar dilanjutkan terbang ke Jakarta.

”Saya kayak bermimpi ke Istana Negara dan bertemu langsung dengan Presiden Jokowi. Ini pertama kali saya ke istana dan bersalaman Presiden. Bahagia sekali,” ujar Lina saat pulang ke Pulau Sabangko, tak henti-hentinya menceritakan pengalamannya di istana kepada keluarga.

Saya kayak bermimpi ke Istana Negara dan bertemu langsung dengan Presiden Jokowi. Ini pertama kali saya ke istana dan bersalaman dengan Presiden. Bahagia sekali.

Tak hanya Saraiyah dan Lina, ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di Jakarta pun sangat senang diundang ke Istana Kepresidenan. Meski tinggal di Jakarta, bertandang ke istana, apalagi bertemu langsung Presiden, itu jauh dari pikiran mereka.

Karena itu, ketika mendapat undangan dari istana, Sri Mulyati dari Sekolah Perempuan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, mengaku tak bisa tidur karena tak sabar menunggu datangnya pagi.

”Saya  sampai terkagum-kagum melihat Bapak Presiden kita saat menanggapi aspirasi perempuan arus bawah. Itu loh yang Presiden bilang mau membantu pasar emak-emak di Papua, sampai mau bantu modal usaha emak-emak di Papua,” ujarnya berharap bantuan modal usaha juga diberikan kepada ibu-ibu di Jakarta.

Sambutan Presiden Jokowi yang hangat kepada perempuan-perempuan akar rumput tentu saja meninggalkan kesan mendalam di hati para ibu-ibu. Apalagi, setelah selesai acara di Istana Negara, Presiden Jokowi mengajak semua undangan foto bersama di depan Istana Merdeka.

”Saya senang sekali bisa masuk Istana Presiden dan berfoto bersama. Suatu hal yang sangat saya impikan sejak lama akhirnya kesampaian juga. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga,” ungkap Siti Nurjanah dari Rawajati, Jakarta Selatan.

Hampir semua ibu yang hadir di Istana baru pertama kali menginjakkan kaki di kompleks Istana Kepresidenan. Masing-masing punya kesan dan cerita saat menghadiri acara tersebut. Saking senangnya mendapat undangan bertemu Presiden, takut bangun kesiangan dan terlambat ke istana, beberapa ibu memilih tidak tidur. Ada yang sejak subuh sudah berangkat ke Istana, sampai-sampai lupa sarapan.

”Tadi hampir jatuh waktu antre  mau masuk Istana karena kepala kliyengan (pusing). Tapi, begitu masuk duduk dan melihat serta mendengarkan pidato Bapak Presiden Jokowi, hilang rasa sakit kepala saya dan kok tiba-tiba jadi seger luar biasa pokoknya,” ujar Ning Setyani dari Bidaracina, Jatinegara, Jakarta Timur.

Ada juga seorang ibu bercerita, saking inginnya bersalaman dan foto dengan Presiden Jokowi, dia sampai lupa bahwa kakinya sakit. Bersama ratusan ibu-ibu lain, dia berebutan mendekati Presiden Jokowi dan foto bersama.  Ada juga ibu-ibu yang tidak mau melepaskan genggaman saat berjabat tangan dengan Presiden.

Cerita di atas hanya bagian kecil dari cerita para ibu akar rumput yang hadir di Istana Negara, yang jumlahnya hampir sekitar 500 orang.  Acara yang mengusung tema ”Bersama Memperkuat Bangsa” adalah bagian dari Peringatan Hari Perempuan Internasional 2019.

KOMPAS/SONYA HELLEN SINOMBOR

Presiden Joko Widodo foto bersama perempuan dari Papua, Rabu (6/3/2019), di teras Istana Merdeka, Jakarta, seusai acara Silaturahim Presiden dengan Perempuan Arus Bawah di Istana Negara.

Hari bersejarah

Bagi para perempuan akar rumput, hari tersebut adalah hari bersejarah. Selain untuk pertama kalinya perempuan akar rumput dari daerah-daerah diundang ke istana, hari itu juga merupakan momentum bersejarah karena bertepatan dengan momen Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret.

KOMPAS/SONYA HELLEN SINOMBOR

Presiden Jokowi bersalaman dengan para ibu dari banyak daerah usai acara Silaturahim Presiden dengan Perempuan Arus Bawah, Rabu (6/3/2019), di Istana Negara, kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Pada acara itu, Presiden Jokowi didampingi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise. Hadir juga Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dan Menteri BUMN Rini Soemarno.

”Menurut saya, ini sejarah baru karena Presiden Joko Widodo mengakui kerja-kerja dan dedikasi perempuan dari kalangan arus bawah,” ujar Misiyah, Direktur Institut Lingkaran Pendidikan Alternatif Perempuan (Kapal Perempuan).

Menurut saya, ini sejarah baru karena Presiden Joko Widodo mengakui kerja-kerja dan dedikasi perempuan dari kalangan arus bawah.

Apalagi, saat dialog di Istana Negara tersebut, Presiden merespons langsung dan mencarikan jalan keluar masalah-masalah yang dihadapi perempuan, terutama terkait kemandirian ekonomi, kesehatan, penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, partisipasi, dan masalah lain yang dialami perempuan pinggiran.

Menurut Misiyah, hal itu menandakan bahwa pemerintah mengakui pentingnya keterlibatan perempuan dalam membangun dan menentukan kemajuan bangsa. (SONYA HELLEN SINOMBOR/Kompas Cetak).

Be the first to comment

Leave a Reply