Dua Pilot AS Laporkan Insiden Hidung Pesawat Menukik Ketika Terbangkan Boeing 737 MAX 8

Maskapai di Amerika Utara seperti Southwest Airlines membela keamanan pesawat 737 MAX . (Sumber: ABC News/Flickr: Paul Thompson)

Pilot pesawat dari setidaknya dua penerbangan di AS telah melaporkan bahwa sistem otomatis tampaknya telah menyebabkan pesawat Boeing 737 MAX 8 yang mereka kemudikan menukik (tilt down) secara tiba-tiba.

Baranews.co – Berdasarkan sejumlah laporan yang diajukan tahun lalu dalam database yang disusun oleh NASA, kedua pilot itu mengatakan tidak lama setelah mengaktifkan sistem autopilot di pesawat mereka, hidung dari burung besi yang mereka awaki mengarah ke bawah dengan tajam.

Dalam kedua kasus mereka berhasil memulihkan dengan cepat kondisi itu setelah mematikan sistem autopilot, kata mereka.

Masalah seperti yang dijelaskan oleh kedua pilot ini, bagaimanapun, tidak muncul terkait dengan sistem anti-stall (pesawat kehilangan daya angkat) otomatis baru yang diduga berkontribusi terhadap kasus kecelakaan mematikan yang terjadi pada Oktober lalu di Indonesia.

Pesawat Boeing 737 MAX 8 tengah berada dipusaran kebijakan larangan terbang yang tampaknya semakin meluas – sejauh ini telah melibatkan lebih dari 40 negara – menyusul kecelakaan fatal kedua [yang melibatkan pesawat tersebut], kali ini di Ethiopia, dalam waktu kurang dari lima bulan.

Di AS, bagaimanapun, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) dan masing-masing operator terus mengizinkan pesawat tipe itu untuk terbang.

Selasa (12/3/2019) malam, Presiden AS Donald Trump mengatakan pesawat modern “terlalu rumit untuk terbang”, dan sebuah sumber Reuters menyatakan Presiden AS berbicara kepada CEO Boeing Dennis Muilenburg setelah mengungkapkan komentarnya.

American Airlines dan Southwest Airlines mengoperasikan pesawat 737 MAX 8, dan United Airlines menerbangkan versi yang sedikit lebih besar, MAX 9.

Ketiga operator menjamin keamanan pesawat MAX mereka pada hari ini Rabu (13/3/2019).

Tindak lanjut FAA

Laporan dari kedua pilot itu bersifat sukarela dan tidak secara terbuka mengungkapkan nama-nama pilot tersebut, maskapai penerbangan atau lokasi insiden.

Tidak jelas apakah insiden ini mengarah pada penindakan dalam bentuk apa pun oleh FAA atau maskapai dimana kedua pilot itu bekerja.

Dalam satu laporan, seorang kapten maskapai mengatakan bahwa segera setelah menempatkan pesawat pada mode autopilot, co-pilot mendapat peringatan pesawat ‘mengurangi ketinggian’ atau ‘descending’ yang diikuti oleh peringatan audio dari dalam kokpit, “don’t down’, don’t down”

Kapten segera mematikan mode autopilot dan melanjutkan upaya meningkatkan posisi pesawat ke ketinggian.

“Dengan kekuatiran terhadap isu hidung pesawat mengarah ke bawah pada MAX 8, kami sama-sama menganggap perlu untuk memberitahukan Anda,” tulis sang kapten.

Kapten menambahkan bahwa “perkiraan utama saya adalah fluktuasi kecepatan udara” karena sistem cuaca singkat yang membanjiri otomatisasi pesawat.

Masalah pada sistem peringatan Low Altitude

Pada penerbangan lain, co-pilot itu mengatakan bahwa beberapa detik setelah menggunakan mode autopilot, hidung pesawatnya mengarah ke bawah dan pesawat mulai turun pada ketinggian 1.200 hingga 1.500 kaki (365 hingga 457 meter) per menit.

Seperti pada penerbangan lainnya, sistem peringatan ketinggian pesawat yang rendah mengeluarkan peringatan audio.

Kapten memutus sistem autopilot dan pesawat mulai naik.

Pasca insiden kedua pilot sempat membahas kondisi ini, “tetapi tidak dapat memikirkan alasan apa pun mengapa pesawat yang mereka kendalikan terbang dengan sangat agresif”, kata co-pilot.

Informasi awal yang dikeluarkan oleh para penyelidik Indonesia menunjukkan bahwa mereka tengah menyelidiki kemungkinan peran teknologi anti-stall otomatis pada pesawat 737 MAX 8 sebagai faktor yang berkontribusi dalam kecelakaan Lion Air pada bulan Oktober lalu tak lama setelah tinggal landas dari Jakarta.

Data menunjukkan bahwa pilot mengalami kesulitan mengatasi perintah hidung pesawat mengarah ke bawah (nose-down) yang berulang dari pesawat sebelum menabrak Laut Jawa dan menewaskan 189 orang.

Namun, sistem anti-stall itu – yang dikenal dengan singkatan MCAS – hanya aktif jika sistem autopilot dimatikan, menurut dokumen yang Boeing bagikan kepada maskapai penerbangan dan FAA.

“Itu bukan berarti itu bukan masalah,” kata pilot American Airlines Dennis Tajer tentang insiden yang dilaporkan ke NASA, “tetapi itu bukan MCAS. Autopilot harus dimatikan untuk bisa mengaktfkan MCAS.”

Juru bicara American Airlines, Ross Feinstein mengatakan maskapai itu tidak menerima laporan dari pilot tentang masalah yang terjadi pada teknologi anti-stall. Southwest juga mengatakan hal yang sama.

Pemimpin serikat pekerja yang mewakili pilot United Airlines, beberapa di antaranya telah menerbangkan 14 unit pesawat seri Boeing 737 MAX milik maskapai United Airlines sejak Mei lalu, mengatakan bahwa maskapai ini telah mencatatkan 23.000 jam penerbangan dan tidak menemukan masalah performa atau masalah mekanis.

Kelompok ini yang merupakan bagian dari Asosiasi Pilot United Airline, memperingatkan terhadap kemungkinan sikap yang berlebihan terkait kecelakaan itu:

“Sangat penting bahwa pilot tidak berinteraksi dengan media dan menambah sensasi di sekitar insiden ini.”

Kekhawatiran tentang keselamatan MAX kembali mencuat pada hari Minggu (11/3/2019) ketika Ethiopian Airlines MAX 8 jatuh tak lama setelah lepas landas dari Addis Ababa, menewaskan semua 157 orang di dalamnya.

Jet itu menunjukkan kecepatan vertikal yang tidak stabil setelah lepas landas, kata situs pemantauan lalu lintas udara Flightradar24, dan pilot senior Ethiopia mengirimkan panggilan darurat.

Sementara beberapa maskapai penerbangan di Afrika memiliki catatan keselamatan yang tidak merata, Ethiopian Airlines telah mempertahankan reputasi yang baik.

Penyelidik akan menganalisis informasi dari kotak hitam pesawat itu dengan harapan dapat memahami apa yang menjadi penyebabkan kecelakaan itu. [ABC/wires/ABC News/swh).

Be the first to comment

Leave a Reply