Trump akan Minta Tambahan 8,6 Miliar Dolar AS dari Kongres untuk Bangun Tembok Perbatasan

Ilustrasi: Presiden AS Donald Trump berbicara kepada media saat meninjau prototipe tembok perbatasan di San Diego, California yang berbatasan dengan Meksiko tahun lalu (Sumber: VOA Indonesia/AP)

Presiden Trump  (11/3) akan meminta tambahan 8,6 miliar dolar lagi dari Kongres untuk membangun tembok yang dijanjikannya di perbatasan Amerika-Meksiko untuk mencegah imigran gelap dan lalulintas narkoba. Demikian kata beberapa pejabat yang tahu tentang anggaran tahun 2020 yang akan diajukan presiden.

Permintaan itu lebih dari enam kali dari yang dialokasikan Kongres bagi tembok perbatasan dalam tiap anggaran selama dua tahun terakhir, dan 6% lebih besar dari yang dikehendakinya dengan mendeklarasikan keadaan darurat tahun ini.

Fraksi Demokrat yang menentang pembangunan tembok sebagai tidak perlu dan imoral, mendominasi Dewan Perwakilan sehingga tidak mungkin permintaan presiden dari Partai Republik akan lolos di Kongres meskipun Senat didominasi fraksi Republik.

Permintaan itu diajukan menyusul perdebatan sengit dengan Kongres tentang anggaran bagi tembok itu yang berakhir dengan penutupan sebagian kegiatan pemerintah Federal sampai lima pekan dan berakhir bulan Januari dan mungkin bisa terjadi lagi.

Sewaktu ditanya dalam acara Fox News hari Minggu (10/3) apakah bakal terjadi perdebatan dalam soal anggaran untuk tembok itu, penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow mengatakan ‘ya bisa terjadi sebab presiden akan tetap bertahan dalam soal tembok dan keamanan perbatasan. Kudlow sendiri berpendapat tembok dan keamanan itu penting.

Secara luas dalam anggaran itu, kata Kudlow, presiden mengusulkan dilakukan pengurangan 5% secara merata dalam anggaran belanja domestik.

Terlepas dari apakah Kongres akan menyetujuinya, usul tentang anggaran itu dapat membantu Trump menyusun argumennya mengenai keamanan perbatasan sementara persaingan untuk pemilihan presiden tahun 2020 mulai membentuk, dan Trump sendiri akan maju untuk masa jabatan ke-2. (al)/Reuters/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply