Lebaran 2019, Pemudik Bisa Lewat Tol Trans-Sumatera

Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Bintang Perbowo (Sumber: WISNU NUGROHO/Kompas.com)

Medan, Baranews.co – Proyek pembangunan Tol Trans-Sumatera kian menunjukkan perkembangan signifikan. Progres konstruksi fisik hingga akhir Februari 2019 sepanjang 571 kilometer sudah selesai dibangun.

Dengan demikian, pemudik yang ingin pulang ke kampung halaman di kota-kota Pulau Sumatera, bisa melintasi jalan bebas hambatan ini.

Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Bintang Perbowo memastikan hal itu kepada Kompas.com, usai acara Kupas Tuntas Tol Trans-Sumatera, di Medan (6/3/2019).

“Saat mudik Lebaran tahun ini akan beroperasi sepanjang 571 kilometer. Mudik dari Bakauheni hingga Palembang 350 kilometer cuma 3 jam. Sebelumnya bisa seharian,” ujar Bintang.

Bintang menuturkan, Tol Trans-Sumatera merupakan proyek strategis nasional (PSN) yang ditugaskan pemerintah kepada Hutama Karya berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 117 Tahun 2015 yang merupakan revisi atas Perpres Nomor 100 Tahun 2014.

Jalan yang membentang dari Bakauheni hingga Banda Aceh ini dirancang sepanjang 2.765 kilometer yang terbagi dalam 24 ruas.

“Investasi yang dibutuhkan untuk membangun jalan sepanjang itu senilai Rp 476 triliun,” ungkap Bintang. Dia mengharapkan, hingga akhir tahun ini panjang jalan tol yang terbangun sekitar 1.130 kilometer.

Dengan demikian target beroperasi penuh pada 2024 mendatang dapat terpenuhi.

Kehadiran infrastruktur konektivitas di Pulau Sumatera ini diyakini bakal menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

“Dengan adanya Jalan Tol Trans-Sumatera, akan mengubah pola koleksi distribusi yang awalnya menyebar, menjadi linerie. Tentu saja ketimpangan ini berubah, karena pesisir timur dan barat Sumatera itu akan terbangun jalan,” kata Direktur HC dan Pengembangan Hutama Karya Putut Ariwibowo.

“Selain itu ada integrasi di pelabuhan pantai barat dan timur, sehingga memudahkan arus barang dan jasa,” imbuh Putut.

Lebih jauh, bila dilihat dari pola jalannya, maka Tol Trans-Sumatera ini menyerupai ‘sirip ikan’. Artinya, jalan utama yang berada di tengah akan menjadi tulang punggung utama, sementara pecahan dari jalan-jalan tersebut akan menjadi jalur penghubung antar wilayah.

“Ini akan menimbulkan titik baru, titik pertemuan baru antara akses ini yang akan membawa suatu pertumbuhan daerah baru, di mana daerah baru tersebut akan berubah cara pengembangannya,” ucap Putut.

Saat ini, Pulau Sumatera memiliki jaringan perkotaan yang terdiri atas sembilan kota dengan kategori Pusat Kegiatan Nasional, 57 kota dengan kategori Pusat Kegiatan Wilayah, dan empat kota dengan kategori Pusat Kegiatan Strategis Nasional.

“Nantinya, pengembangan tidak lagi berdasarkan kota tapi klastering, sehingga memunculkan enam klaster kota. Klaster itu akan menghubungkan sentra kawasan yang akan meningkatkan efisiensi pergerakkan barang dan jasa,” tutup Putut. (Wisnu Nugroho/kompas.com/bh).

Be the first to comment

Leave a Reply