Capernaum: Film yang Menyayat Hati tentang Anak-anak dan Masa kecil

Capernaum mendapat penghargaan standing ovation selama 15 menit setelah diputar di Festival Film Cannes pada 2018. (Sumber: BBC Indonesia/PICTUREHOUSE ENTERTAINMENT)

Film Lebanon Capernaum mendapat nominasi Oscar. Arwa Haider melihat beberapa film yang mengisahkan konflik dan tragedi dari sudut pandang anak-anak.

Dalam beberapa menit pertama film Capernaum yang mendapat nominasi Oscar karya sutradara Nadine Labaki, kita melihat seorang anak kurus berusia sekitar 12 tahun (Zain Al Rafeea, yang nama karakternya mirip dengan namanya), dibawa ke ruang sidang.

Borgolnya dilepas; dan kemudian kita tahu bahwa ini bukanlah sidang pertama Zain, tapi kali ini dia adalah penuntut. “Saya mau menuntut orang tua saya,” kata Zain pada hakim. Rahangnya maju dengan berani, meski begitu tatapannya terluka saat dia menjelaskan, “Karena saya dilahirkan.”

Judul Capernaum merujuk ke istilah bahasa Prancis untuk ‘kekacauan’ (selain juga desa yang hancur di Injil).

Narasi yang berlatar Beirut modern ini membayangkan kemiskinan luar biasa di kalangan anak-anak, dan keterabaian, dengan begitu hidup dan tanpa sensasi; dan para bintangnya kebanyakan adalah orang-orang non-profesional.

Perspektifnya berpusat pada pengalaman Zain: kehidupan kumuhnya terbatas di sekitar orangtuanya dan kakak adiknya yang banyak; insting alamiah anak-anaknya untuk bermain terjadi di antara jadwal kerjanya yang berat; dia lebih dibayang-bayangi oleh kehidupan penjara (seperti abangnya) daripada kemungkinan bersekolah; kekurangan makanan, kehangatan dan rasa sayang.

Insting bertahan hidup Zain dan harga dirinya juga tercermin di Rahil (Yordanos Shiferaw), pekerja Ethiopia tanpa surat-surat resmi, yang berusaha merawat anaknya yang masih bayi, Yonas, dan menghindari deportasi.

Film ini merupakan bagian kuat dari tradisi sinema yang mewakili cara seorang anak melihat dunia dengan konflik-konfliknya.

“Saya sudah sejak lama memikirkan film ini,” kata Labaki — yang juga penulis dan aktris — mengatakan pada BBC Culture.

“Awalnya adalah krisis pengungsi Suriah; Anda melihatnya di mana-mana di jalanan Lebanon: anak-anak bekerja; menjual permen karet; menyeret-nyeret tabung gas. Anda merasa frustrasi, tapi juga tak berdaya. Saya ingat saat melihat Aylan Kurdi (pengungsi Suriah usia tiga tahun yang tenggelam pada 2015, saat menyeberang Laut Mediterania): apa kira-kira yang akan dikisahkan oleh anak ini tentang apa yang telah dialaminya? Karena kita membawa anak-anak ini seperti boneka dalam keputusan-keputusan yang akan kita ambil: perang apapun yang kita jalani; kekacauan sistematis yang kita ciptakan.”

Labaki kemudian ingat bahwa dia melihat anak kecil meminta-minta uang dengan ibunya tengah malam di jalanan Beirut — anak laki-laki ini terlalu lelah untuk terjaga, tapi terlalu gelisah untuk tidur.

“Saya menjadi sangat marah; bagaimana kita bisa sampai di titik di mana seorang anak tidak mendapat haknya yang mendasar, untuk menutup mata dan tidur? Beri saya kekuatan untuk melakukan sesuatu; apa yang bisa saya lakukan?”

Capernaum berawal dari sebuah sketsa yang digambar oleh Labaki pada suatu malam: “Saya menggambar wajah seorang anak dengan mulut terbuka lebar, dan dia berteriak dengan sangat keras pada orang-orang dewasa di sekitarnya. ‘Saya tidak cocok berada di duniamu; saya tidak ingin berada di sini’….Dan saya melihat bayangan ini, dan Zain berdiri di depan masyarakat dan mengatakan: ‘Cukup; kamu tak layak mendapatkan saya’.”

Dari bawah

Kisah film ini dibentuk oleh pekerjaan lapangan yang intensif, Labaki dan para penulisnya mengunjungi dan berbicara dengan anak-anak di penampungan, pusat penahanan, penjara anak-anak dan kawasan kumuh.

“Seorang anak bercerita pada saya: ‘Saya tidak tahu kenapa saya dilahirkan, jika tak ada yang akan menyayangi saya atau mengatakan satu hal yang baik pada saya seumur hidup, dan saya tidak pernah dicium sebelum tidur oleh siapapun’,” katanya.

“Tentu saja pengalaman itu mengubah saya. Saya bertemu anak-anak yang menggunakan kata-kata yang sangat kasar untuk menggambarkan dirinya sendiri; banyak dari mereka yang tidak tahu kapan mereka dilahirkan, karena mereka tak pernah terdaftar. Baru saya tersadar bahwa ini adalah kisah seorang anak yang menuntut dunia, lewat orangtuanya, karena memberinya hidup.”

Labaki merekrut aktor non-profesional: Boluwatife Treasure Bankole yang dideportasi ke Kenya dan Al Rafeea adalah pengungsi Suriah. FARES SOKHON/ PICTUREHOUSE ENTERTAINMENT
Labaki merekrut aktor non-profesional: Boluwatife Treasure Bankole yang dideportasi ke Kenya dan Al Rafeea adalah pengungsi Suriah.

Perekrutan aktor dari jalanan adalah hal penting untuk Capernaum; dan Labaki memainkan peran utama di film-film sebelumnya, Caramel (2007) dan Where Do We Go Now? (2011), di sini dia memainkan peran pendukung yang tampil singkat, sebagai pengacara Zain.

Selain itu, naskah ini juga mendukung para aktor non-profesional, dan hampir semua aktor ini membawa pengalaman hidup mereka dalam proses ini.

Al Rafeea adalah seorang pengungsi Suriah (“Berakting itu mudah,” katanya ceria dalam konferensi pers di Cannes, saat Capernaum memenangkan Jury Prize 2018); Haita Izam (yang memerankan adik perempuan Zain, Sahar) lahir di Aleppo. Saat dia direkrut untuk main di film ini, dia berjualan permen karet dijalanan Beirut.

Shiferaw dipaksa untuk membantu keluarganya sebagai anak yatim, dan kemudian tinggal secara ilegal di Lebanon — dia bahkan sempat ditahan saat pengambilan gambar film ini; Boluwatife Treasure Bankole (anak perempuan usia satu tahun yang berperan sebagai Yonas) dideportasi ke Kenya bersama ibunya.

Kehadiran para aktor-aktor tak terlatih ini memberikan semacam autentisitas, empati, dan sensitivitas yang penting dalam film ini; keberadaan mereka juga mengingatkan akan berbagai drama realis internasional lain yang melibatkan pemain muda non-profesional.

Beberapa contohnya termasuk bagian pertama dari Apu Trilogy karya Satyajit Ray (Pather Panchali, 1955); kisah keras tentang pemuda kelas pekerja dalam Kes (1969) karya Ken Loach atau Ratcatcher (1999) karya Lynne Ramsay; begitu pula dengan anak-anak di favela Rio yang memberikan kesan autentik dalam City of God (disutradarai oleh Fernando Meirelles dan Katya Lund, 2002), atau mantan tentara anak yang tampil di Johnny Mad Dog yang berlater di Liberia (disutradarai oleh Jean-Stéphane Sauvaire, 2008).

Apa sebenarnya yang bisa dimunculkan dari sudut pandang anak akan konflik bagi kita, orang dewasa? “Saya pikir ini membuat Anda merasakan kemurnian visinya, karena anak-anak belum tahu soal kode-kode masyarakat atau kemunafikan,” kata Labaki.

“Dalam bahasa Prancis ada ungkapan: La verité sort de la bouche des enfants — kejujuran muncul dari mulut anak-anak. Anda bisa lihat, Zain menjadi dirinya sendiri; dia anak yang luar biasa, istimewa dalam kehidupan sehari-hari. Caranya melihat dunia masuk akal, dan meski ini sangat simbolik, Anda mempercayainya.”

Dari mulut anak-anak

Capernaum juga mencerminkan banyak tema-tema klasik yang dieksplorasi oleh pembuat film dan kritikus film Mark Cousins lewat dokumenternya yang luar biasa soal sinema seputar anak-anak berjudul A Story of Children and Film (2013).

Tema-tema itu termasuk anak sebagai orangtua, isolasi, dan perbedaan kelas. Dalam filmnya, Cousins mencatat bahwa film paling sering berfokus pada masa kanak-kanak, jika dibandingkan dengan bentuk seni lainnya.

“Sinema adalah bentuk seni yang masih muda, masih dalam masa pertumbuhan, sehingga (format) ini cocok untuk anak-anak,” kata Cousins.

“Selain itu, film juga sangat berfokus pada masa sekarang, saat ini, seperti halnya anak-anak. Ada poin lain, sebagian besar kesenian dibuat oleh orang dewasa. Saat orang dewasa menulis novel atau melukis anak-anak, mereka tak selalu butuh anak-anak dalam proses tersebut. Tapi saat Anda membuat film tentang anak-anak, kecuali filmnya animasi, Anda harus membawa anak-anak menjadi fokusnya. Anak-anak mengubah bentuk film dengan cara yang positif, sehingga memberi kekhasan sendiri.”

Perspektif anak ini harus bisa dipahami secara universal — namun juga mampu menembus berbagai nilai yang kita pendam sebagai orang dewasa. “Kata Picasso, ‘Semua anak adalah seniman’,” kata Cousins.

“Semakin kita mendekat ke usia remaja, kita menjadi semakin menahan diri, dan semakin taat aturan. Masa dewasa menuntut kita untuk profesional dan punya tanggung jawab. Keseriusan membuat kita tertutup. Etos kerja menggantikan etos bermain. Saya setuju bahwa orang dewasa harus tahu banyak soal dunia dan bertanggung jawab, tapi tidak harus mengorbankan spontanitas. Anak-anak dan sinema bagus untuk urusan spontanitas.”

Kru film Capernaum berupaya untuk tak menonjol dan membaur dengan latar yang sesuai kenyataan dan mendorong spontanitas. PICTUREHOUSE ENTERTAINMENT
Kru film Capernaum berupaya untuk tak menonjol dan membaur dengan latar yang sesuai kenyataan dan mendorong spontanitas.

Ada spontanitas yang hidup dalam banyak adegan Capernaum; kru film yang berjumlah sedikit membaur dengan latar yang sesuai kehidupan nyata.

Musik latar yang kaya dan ekspresif serta kesunyian digunakan dengan tepat; kita merasakan kebingungan masa kecil Zain di tengah brutalitas, rasa sayangnya pada adiknya, dan kedekatannya pada Rahil dan Yonas (ikatan lintas budaya muncul di banyak film-film Labaki).

“Penting bagi kami untuk mengambil gambar film secara kronologis,” kata Labaki.

“Beberapa adegan pertama saat kita melihat Zain dan Treasure hampir seperti hewan liar membaui satu sama lain — itu sungguhan; mereka ditaruh dalam satu adegan bersama tanpa saling mengenal dengan baik. Treasure agak curiga dengan anak laki-laki ini, Anda bisa melihat dia sedang bertanya-tanya ini siapa, dan dia tidak mau memberi mainan, mereka saling menatap dan berusaha kenal. Lalu saat film mulai berlanjut, Anda melihat bagaimana hubungan ini berubah, cara Zain memegang Treasure berbeda. Kami mengambil gambar selama enam bulan, dan akhirnya, Zain menjadi lebih protektif daripada kru-kru lain!”

Apa film-film tentang masa kecil lain yang menginspirasi Labaki?

“Saya selalu terkagum-kagum dengan cara Iran membuat film,” katanya, menyebut sutradara-penulis seperti Jafar Panahi (The White Balloon, 1995), Abbas Kiarostami dan Mohammed-Ali Talebi (yang bekerjasama dengan Willow and Wind, 2000).

“Karena rasanya sangat nyata; Anda tak melihat bagaimana film itu dibuat, Anda terbenam dalam realita mereka.”

Saat film memberikan pada kita sudut pandang anak-anak akan konflik, sisi emosi yang blak-blakan bisa membuat film sulit ditonton; banyak dari penggambaran politik dan kemiskinan yang paling menyedihkan terjadi dari sudut pandang anak-anak, seperti drama Ivan’s Childhood (1962) karya Andrei Tarkovsky dengan Nikolai Burlyayev memerankan pramuka tentara Soviet berusia 12 tahun; anime Jepang menyayat hati keluaran 1988, Grave Of The Fireflies, (berdasarkan kisah semi-autobiografis Akiyuki Nosaka yang terbit pada 1967, yang mengisahkan anak-anak yang kelaparan sampai mati pada Perang Dunia Dua); atau karya sutradara Kurdi, Bahman Ghobadi, Turtles Can Fly (2004), yang gambarnya diambil di Irak sesaat setelah invasi AS.

Dalam Capernaum, detil terkecilnya bisa menjadi sangat menusuk; dalam satu adegan, Zain berteman dengan penjual souk muda, Maysoun, yang bermimpi bahwa dia bisa mengumpulkan cukup uang untuk kabur menggunakan perahu dengan “lampu-lampu indah”.

Perjuangan Zain begitu menyedihkan, namun kehadiran dan pesonanya memunculkan semangat: dia berada bersama kita dalam beberapa frame terakhir yang menyentuh.

Dalam film, ada kekuatan yang terus ada dan menuntut perhatian kita; dan kehadiran itu menantang betapa sementaranya feed berita yang kita lihat, di mana kita selalu dihadapkan dengan gambar-gambar tragis — anak-anak kecil yang syok saat diselamatkan dari reruntuhan; anak-anak dengan orangtuanya di perbatasan; atau tubuh-tubuh kecil di pantai — tapi kita jarang diizinkan untuk mengenal mereka sebagai manusia.

“Saya benar-benar percaya dengan kekuatan film,” kata Labaki.

“Film bisa berdampak pada hidup Anda, terlepas dari seberapa sinis Anda. Dan saya ingin menggunakan kekuatan itu. Ketakutan akan ‘sosok asing’ ini telah begitu melumpuhkan. Kita telah menciptakan sistem dan aturan; absurd untuk membayangkan bahwa anak-anak ini tidak ada jika mereka tak punya sehelai kertas ditandatangani oleh manusia lain. Bagaimana bisa mereka dianggap tidak ada? Mereka ada di depan kita.” (BBC News Indonesia/swh).

Be the first to comment

Leave a Reply