GUNUNG API: Memahami Erupsi Merapi 2018-2019, Seberapa Jauh Tingkat Bahayanya?

Sumber: jogja.tribunnews.com

Baranews.co – Selama beberapa waktu terakhir, aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menarik perhatian banyak pihak. Kondisi ini terjadi karena Merapi berkali-kali mengeluarkan guguran lava pijar dan awan panas guguran. Melihat fenomena itu, sejumlah pihak mungkin bertanya-tanya: seberapa besar sebenarnya ancaman akibat aktivitas Merapi saat ini?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus memahami secara komprehensif aktivitas vulkanik Merapi yang terjadi sejak tahun 2018. Sebab, fenomena guguran lava pijar dan awan panas guguran yang terjadi beberapa waktu belakangan merupakan bagian dari siklus baru Merapi yang dimulai sejak pertengahan tahun lalu.

Peristiwa yang disebut sebagai awal siklus baru itu adalah erupsi atau letusan freatik yang terjadi di Gunung Merapi pada 11 Mei 2018. Letusan freatik terjadi karena tekanan uap air di dalam tubuh gunung api sehingga berbeda dengan letusan magmatik yang dipicu keluarnya magma. Letusan freatik biasanya hanya menghasilkan hujan abu, pasir, dan kerikil.

Sebab, fenomena guguran lava pijar dan awan panas guguran yang terjadi beberapa waktu belakangan merupakan bagian dari siklus baru Merapi yang dimulai sejak pertengahan tahun lalu.

Letusan freatik pada 11 Mei 2018 bukanlah letusan freatik pertama yang terjadi di Merapi setelah erupsi besar tahun 2010. Sebelum letusan itu, Merapi telah mengalami enam kali letusan freatik pada tahun 2012-2014. Namun, letusan freatik pada 11 Mei 2018 dinilai memiliki perbedaan signifikan dengan enam letusan sebelumnya.

Pendapat ihwal perbedaan itu disampaikan oleh Sekretaris Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Antonius Ratdomopurbo, yang juga ahli kegunungapian. Saat berbincang dengan Kompas pada akhir Mei 2018, Ratdomopurbo menyebut, penyebab letusan freatik pada 11 Mei 2018 berbeda dengan enam letusan freatik lain pada kurun 2012-2014.

Ia menilai, letusan freatik Merapi pada kurun 2012-2014 terjadi akibat interaksi antara air atau uap air dan material magma sisa erupsi 2010. Material magma di zona dangkal Merapi itu masih memiliki panas sehingga bisa menimbulkan letusan freatik. Sesudah tahun 2014, material magma sisa erupsi 2010 diperkirakan telah dingin sehingga tidak bisa lagi menyebabkan letusan freatik.

Sementara itu, letusan freatik pada 11 Mei 2018 diduga terjadi karena pemanasan uap air yang terjebak di dalam tubuh gunung. Pemanasan itu terjadi akibat adanya panas yang bersumber dari magma di dalam Gunung Merapi, bukan material magma sisa erupsi 2010. Namun, material letusan freatik itu berasal dari sisa material erupsi sebelumnya.

Ratdomopurbo mengatakan, letusan freatik 11 Mei 2018 bisa disebut sebagai awal dari siklus baru Merapi setelah erupsi besar tahun 2010. Sebab, meski materialnya masih didominasi oleh material lama, panas yang memicu letusan itu bersumber dari magma baru, bukan sisa erupsi 2010.

Pada 21 Mei 2018, Merapi kembali mengalami letusan. Pada hari itu juga, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), lembaga pemerintah yang bertanggung jawab memantau aktivitas Merapi, menaikkan status Merapi dari Normal (level I) ke Waspada (level II).

Mulanya, BPPTKG menyebut letusan yang terjadi pada 21 Mei 2018 sebagai letusan freatik. Namun, belakangan diketahui bahwa material letusan itu tersusun atas material magmatik baru.

Adanya material magmatik baru dalam letusan 21 Mei 2018 makin menguatkan indikasi bahwa Merapi telah memasuki siklus baru setelah erupsi 2010. ”Kalau dari sisi proses, awal siklus baru itu adalah letusan 11 Mei 2018. Tetapi, kalau dari sisi material, awal siklus baru itu, ya, letusan 21 Mei 2018,” ujar Ratdomopurbo.

Pergerakan magma

Sesudah siklus baru Merapi dimulai, terjadi sejumlah peristiwa yang menandakan adanya pergerakan magma menuju ke permukaan. Kepala BPPTKG Hanik Humaida memaparkan, sejak 11 Mei sampai 1 Juni 2018, Merapi mengalami 12 kali letusan atau erupsi.

Menurut Hanik, rangkaian erupsi itu menjadi salah satu indikasi pergerakan magma dari dapur magma yang berada di kedalaman lebih dari 3 kilometer di Gunung Merapi. Selain itu, pergerakan magma juga ditandai dengan terjadinya sejumlah gempa di Merapi.

 
Kronologi aktivitas Gunung Merapi pada tahun 2018-2019 yang disampaikan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi.

Dari dapur magma, magma di Merapi kemudian bergerak menuju kantong magma yang berada di kedalaman 1,5 km sampai 2 km. Hanik menyatakan, pada periode Juli hingga 10 Agustus 2018, magma di Merapi diperkirakan telah bergerak dari kantong magma menuju ke permukaan.

”Indikasi pergerakan magma itu adalah terjadi peningkatan seismisitas (kegempaan) pada bulan Juli 2018,” katanya, Kamis (21/2/2019), di Yogyakarta.

Fase berikutnya adalah muncul kubah lava baru pada 11 Agustus 2018 atau sekitar tiga bulan setelah awal siklus baru Merapi. Kubah lava terbentuk dari tumpukan lava atau magma yang telah sampai di permukaan gunung api. Oleh karena itu, kemunculan kubah lava menandakan bahwa magma dari tubuh Gunung Merapi telah sampai ke permukaan sehingga fase erupsi magmatik gunung api itu telah dimulai.

Namun, erupsi magmatik Merapi saat ini bersifat efusif atau tanpa disertai ledakan. Kondisi ini berbeda dengan erupsi besar tahun 2010 yang bersifat eksplosif. Yang menarik, pola erupsi Merapi tahun 2018-2019 ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru.

Dalam buku The Geology of Indonesia Volume IA (1949), geolog Belanda, Reinout Willem van Bemmelen, mencatat adanya siklus erupsi di Merapi pada tahun 1939-1940 yang mirip dengan kondisi saat ini. Pada 1939-1940, siklus aktivitas Merapi juga diawali dengan letusan-letusan kecil yang kemudian disusul dengan erupsi efusif yang berujung pada terbentuknya kubah lava baru.

Yang juga perlu dicatat, erupsi tahun 1939-1940 dan 2018-2019 sama-sama terjadi beberapa tahun sesudah erupsi besar. Awal siklus erupsi 1939-1940 terjadi sekitar sembilan tahun sesudah erupsi besar tahun 1930, sementara siklus erupsi 2018-2019 dimulai sekitar delapan tahun setelah erupsi besar 2010.

Awan panas

Beberapa bulan setelah kubah lava terbentuk pada 11 Agustus 2018, Merapi mulai mengeluarkan guguran lava yang mengarah ke luar kawah, yakni ke wilayah hulu Kali Gendol di Kabupaten Sleman, DIY. Setelah itu, pada 29 Januari 2019, Merapi mulai mengeluarkan awan panas guguran. Hingga saat ini, Merapi telah mengeluarkan 12 kali awan panas guguran dengan jarak luncur terjauh 2 km.

Meski begitu, status Merapi sampai sekarang masih Waspada. BPPTKG belum menaikkan status itu karena sejumlah alasan, antara lain karena jarak luncur awan panas belum melebihi zona bahaya yang ditetapkan BPPTKG, yakni 3 km dari puncak.

Hanik memaparkan, berdasarkan kajian yang dilakukan BPPTKG, Merapi masih berpotensi mengeluarkan guguran lava dan awan panas dengan jarak kurang dari 3 km. Oleh karena itu, guguran lava dan awan panas itu belum mengancam keselamatan penduduk di sekitar Merapi. Sebab, tidak ada penduduk yang tinggal dalam radius 3 km dari puncak Merapi.

”Apabila terjadi atau berpotensi terjadi awan panas dengan jarak luncur melebihi 3.000 meter, rekomendasi tingkat aktivitas akan dievaluasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi kubah lava di Merapi juga masih stabil. Berdasarkan data per 22 Januari 2019, volume kubah lava Merapi adalah 461.000 meter kubik. Sampai saat ini, volume kubah lava itu relatif tetap karena material magma yang baru saja sampai ke permukaan—yang seharusnya menambah volume kubah lava—langsung meluncur membentuk guguran lava atau awan panas.

 

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan, berdasarkan pemodelan yang dilakukan, apabila sebagian besar material kubah lava yang ada saat ini runtuh bersamaan, awan panas yang berpotensi terbentuk diperkirakan memiliki jarak luncur kurang dari 3 km. Oleh karena itu, potensi ancaman akibat runtuhnya material kubah lava sebenarnya tidak terlalu dikhawatirkan.

Potensi ancaman yang dikhawatirkan justru berasal dari percepatan suplai magma baru yang menuju ke permukaan. Sebab, percepatan suplai magma itu berpotensi menghadirkan ancaman lebih besar. ”Yang kami khawatirkan sebenarnya adalah kalau ada percepatan suplai magma yang baru. Tetapi, sejauh ini tidak ada indikasi ke arah situ,” kata Agus.

Dalam sejumlah kesempatan, BPPTKG juga menyatakan bahwa erupsi Merapi dalam periode ini diperkirakan tak lebih besar daripada erupsi tahun 2006 yang juga bersifat efusif, apalagi erupsi besar tahun 2010 yang eksplosif. Meski begitu, kewaspadaan serta kesiapsiagaan masyarakat sekitar Merapi dan pihak terkait perlu terus ditingkatkan untuk mengantisipasi aktivitas lanjutan gunung api tersebut. (HARIS FIRDAUS/Kompas Cetak).

Yang kami khawatirkan sebenarnya adalah kalau ada percepatan suplai magma yang baru. Tetapi, sejauh ini tidak ada indikasi ke arah situ.

Be the first to comment

Leave a Reply