Tanpa “Hari Valentine” pun Perzinaan Tetap Merajalela

Ilustrasi (Sumber: rightquotes4all.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Disclaimer: Artikel ini bukan karena saya penggemar Hari Valentine, tapi hanya sebatas menyampaikan curahan hati berdasarkan fakta.

Entah apa yang ada di pikiran sebagian wartawan yang selalu mengaitkan kondom dengan Hari Valentine sebagai berita yang bombastis dan sensaional. Padahal, tanpa embel-embel valentine pun terjadi perzinaan (besar-besaran), seperti yang diungkap oleh Polda Jatim yang melibatkan 45 artis dan 100 model dalam pelacuran online.

Memang, banyak orang yang mengatakan di negeri ini tidak ada (lagi) pelacuran. Secara de jure itu benar karena sejak reformasi ada gerakan masif yang menutup lokalisasi pelacuran yang sebelumnya dijadikan sebagai pusat rehabilitasi dan resosialisasi pekerja seks komersial (PSK). Tapi, secara de facto zina, terutama dalam bentuk praktek pelacuran dengan berbagai modus bahkan melalui media sosial, terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu di Nusantara.

Polresta Banda Aceh berhasil mengungkap jaringan prostitusi online yang melibatkan perempuan cantik, al.mahasiswi dengan pelanggan mahasiswa, pejabat sampai pengusaha dengan tarif Rp 4 juta (bangka.tribunnews.com, 27/3-2018).

Begitu juga dengan di Provinsi Riau: Direktorat Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Riau membongkar jaringan prostitusi online. Salah satu pekerja seks komersial (PSK) diketahui masih dibawah umur berinisial S (16) (news.okezone.com, 14/3-2017). Sedangkan di Sumsel: Polisi membongkar prostitusi berbasis online di Palembang, Sumatera Selatan. Hamka (28), seorang muncikari, ditangkap petugas di salah satu hotel bintang di Palembang yang disebutkan tarif sekali kencan Rp 10 juta (news.detik.com, 12/12-2017).

Ini di Banten: Polresta Tangerang berhasil me ngungkap jaringan prostitusi via WhatsApp (radarbanten.co.id , 7/4-2018). Polrestabes Bandung menangkap empat orang wanita, Minggu (6/1/2019) malam.Polisi menduga keempat wanita tersebut terkait prostitusi online (jabar.tribunnews.com, 7/1-2019).

Ini lebih dahsyat: Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim) menjelaskan, 45 artis terlibat pelacuran online di bawah jaringan mucikari ES dan TN, berusia antara 19 hingga 30 tahun. Selain itu Polda Jatim juga memastikan ada 100 model yang terlibat prostitusi online. Polisi mengatakan mereka punya bukti berupa rekam jejak digital (inews.id, 12/1-2019).

[Baca juga: Prostitusi “Artis” (Bisa) Jadi Mata Rantai Penyebaran HIV/AIDS]

Ke kawasan Timur ada di Makassar, Sulsel: Resmob Polsek Panakukkang, Makassar, membongkar jaringan prostitusi online yang memakai media sosial Facebook dan WhatsApp (makassar.tribunnews.com, 4/10-2018). Sedangkan ini di Kalsel: Semua wilayah di Kalimantan Selatan ditengarai tak sepenuhnya bebas dari bisnis esek-esek dalam jaringan (daring) atau prostitusi online. Namun, aparat kepolisian mengaku sulit membuktikan lantaran kasus tersebut dinilai masih belum terjadi (apahabar.com, 15/1-2019).

Data di atas membuktikan tidak ada kaitan langsung antara Hari Valentine dengan zina dalam bentuk pelacuran atau prostitusi.

Lagi pula filososi Hari Valentine adalah memberikan permen, kembang dan hadiah lain kepada orang-orang yang dicintai pada setiap tanggal 14 Februari. Ada yang mengatakan ini berawal di Amerika Serikat dan di beberapa tempat di lain di Bumi. Pada awalnya Hari Valentine dirayakan oleh umat Kristen di Barat untuk menghormati orang-orang kudus. Tapi, belakangan bergeser dari sekedar perayaan agama ke nuansa romantisme cinta yang diselimuti oleh komersialisasi terkait perayaan kasih sayang.

Kasih sayang kepada orang-orang yang dicintai sama sekali tidak identik dengan hubungan seksual karena praktek pelacuran berupa transaksi seks dengan berbagai modus hanya karena uang bukan kasih sayang.

Hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK), misalnya, adalah bentuk ‘jual beli cinta’ (sesaat). Dikesankan hubungan seksual terjadi karena cinta, padahal itu hanyalah imitasi belaka. Cuma, tidak sedikit laki-laki yang tertipu geliat dan goyangan PSK. Untuk itu mereka membeli obat kuat dan ‘permak’ penis dengan harapan bisa ‘memuaskan’ PSK. Padahal, geliat dan erangan PSK hanyalah taktik agar permainan cepat selesai.

[Baca juga: Duka Derita PSK di ‘Sarkem’ Yogyakarta]

Jika kemudian ada yang memanfaatkan Hari Valentine dengan seks di luar nikah dan mabuk-mabukan itu merupakan dampak buruk yang merupakan ulah segelintir orang dengan pola pikir ‘iblis’. Jelas ‘kerusakan’ bukan pada Hari Valentine tapi pada perilaku orang per orang yang melakukan seks atas nama Hari Valentine.

Bagi remaja putri dan cewek dewasa diminta menolak ajakan seks di Hari Valentine karena seks di luar nikah, apalagi sama tidak terkait dengan reproduksi, karena bukan bagian dari kasih sayang. Seks yang diumbar dengan nafsu birahi tanpa tanggungjawab bisa berakhir dengan aborsi yang sangat merugikan perempuan.

Ketika epidemi IMS [infeksi menular seksual yang lebih dikenal sebagai ‘penyakit kelamin’, yaitu kencing nanah (GO), raja singa (sifilis), herpes genitalis, hepatitis B, klamidia, jengger ayam, virus  kanker serviks, dll.] dan HIV/AIDS sudah ada di semua sudut Bumi, tentulah seks yang disalahgunakan di Hari Valentine bisa jadi faktor risiko yang mendorong penularan (infeksi) IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus. Lagi-lagi cewek atau perempuan yang lebih besar risiko tertular karena bisa jadi laki-laki yang ajak seks juga punya pasangan seks lain, laki-laki dan/atau perempuan.

Tentu seks dalam nikah dengan pijakan Hari Valentine bisa lain maknanya karena ada emosi dan birahi yang meletup-letup seiring dengan hasrat untuk saling menunjukkan cinta (sumber: wikipediahistory.comscmp.com dan sumber-sumber lain). * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply