RISET 80 DAPIL: Tanpa Wakil Perempuan

Aktivitas di pasar tradisional Wae Kesambi, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (31/12/2018). Pasar yang tidak mengenal libur tersebut menjadi tempat interaksi warga asli dan pendatang. Di sana terjadi pertukaran informasi dan komunikasi yang harmonis di tengah perbedaan. (Sumber: KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Pada Pemilihan Umum 2019 nanti, tampaknya calon anggota legislatif perempuan di daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur 1 harus bekerja keras untuk menembus Senayan. Hal ini terlihat dari rekam jejak dua kali pemilu pada 2009 dan 2014.

Tidak ada satu kursi pun yang berhasil direbut oleh calon anggota legislatif (calge) perempuan. Nama-nama besar kaum pria mendominasi seluruh atau enam kursi selama dua pemilu terakhir, berikut dengan para pengganti antarwaktu (PAW) yang juga laki-laki.

Terlebih pada Pemilu 2019 nanti, enam nama tersebut kembali mencalonkan diri, termasuk dua nama lain yang sebelumnya digantikan PAW. Delapan tokoh ini memiliki nama besar dan basis pendukung yang mumpuni.

Bahkan, empat di antaranya adalah petahana sejak Pemilu 2009, yakni Melchias Marcus Mekeng, Honing Sanny (kini Partai Golkar), Pius Lustrilanang, dan Benny Kabur Harman yang pada 2018 lalu mundur karena mencalonkan diri sebagai Gubernur NTT dan digantikan Yosef B Badeoda.

Yosef juga telah bertarung pada Pemilu 2009, tetapi gagal ke Senayan. Sementara Andreas Hugo Pareira dan Ahmad Yohan yang sebelumnya PAW juga kembali maju. Ditambah Johnny G Plate, genap delapan petahana dari enam partai akan bertarung kembali di dapil ini.

Pada Pemilu 2014, caleg perempuan di dapil ini hanya mampu berada di urutan ke-21. Masih sangat jauh untuk bisa berada di enam besar. Adapun pada Pemilu 2009, kondisinya jauh lebih baik, terdapat caleg perempuan yang berada di urutan ke-8.

Pada 17 April nanti terdapat 36,1 persen atau 30 caleg perempuan yang akan bertarung memperebutkan enam kursi untuk mewakili NTT 1. Sementara caleg laki-laki sebanyak 53 orang. (LITBANG KOMPAS)/IDA AYU GRHAMTIKA SAITYA/Kompas Cetak

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*