PSIKOLOGI | Keluarga Pertama Kita: Tempat Kita Belajar untuk (Tidak) Berucap

Ilustrasi (Sumber: Kompas)
Sawitri Supardi Sadarjoen (Sumber: Kompas/RON)

Oleh: SAWITRI SUPARDI SADARJOEN

Awalnya, kita memang anak perempuan dan anak laki-laki sesaudara kandung. Ketahuilah, keluarga pertama kita paling memengaruhi kehidupan kita selanjutnya, dan biasanya pengaruhnya begitu kompleks. Sejak masa itulah kita biasanya merasa memiliki cara berpikir dan cara merasakan yang dapat kita ungkapkan dengan suara keras, bahkan cara tertentu inilah yang menjadi milik kita.

Ayah temanku bernama M, menceritakan bahwa: ”Dalam keluargaku terus terang relasinya mengarah pada komunikasi disfungsional apabila di antara anggota keluarga mengungkapkan suara individualnya/diri sendiri.” Walaupun mereka sudah dewasa, tidak satu pun dari mereka bersama memiliki keberanian untuk bertanya hal-hal sebagai berikut: ”Apakah Mama punya saudara perempuan dan laki-laki sekandung?” atau ”Siapakah nama orangtua Mama?”

”Sementara dalam keluarga saya sendiri pun saya tidak berani bertanya tentang nama kecil nenek. Sampai saat ini, saya tidak tahu siapa nama kecil nenek kandung.

Akhirnya reaksi terhadap keluarga yang memiliki iklim kehidupan keluarga seperti terungkap di atas membuat anggota keluarga menjadi mengabaikan rasa ingin tahu tentang kondisi keluarga besar dan menyempitkan perhatian dan pengamatan dalam konteks kebijakan keluarga sebagai berikut: ”Jangan bertanya dan jangan bercerita.”

Dengan demikian, dalam benak anak-anak dari keluarga dengan kebijakan tersebut di atas, secara mendalam dan otomatis mereka tidak diharapkan menceritakan apa pun yang mereka alami atau mengingat pengalaman hidup yang mereka peroleh.

Mereka akhirnya dengan loyal akan mengikuti aturan ”terdiam” dalam relasinya dengan anggota keluarga lainnya, apalagi dalam relasi sosial anak di mana dia berada.

Saat mereka dewasa pun, mereka tetap tampil ”terdiam” terutama terkait dengan masalah pribadi dan perasaan negatif yang muncul sehubungan dengan masalah pribadi.

Untuk itu, mereka cenderung mencari solusi sendiri dalam menghadapi permasalahan sosial yang mereka hadapi kelak atau dengan kata lain mereka akan membentuk dirinya sebagai diri yang introvertive.

Tanpa disadari, mereka akan menciptakan yang disebut ”pseudo-self”, artinya seolah-olah mereka setuju dengan untuk secara tetap memberikan reaksi ”diam seribu bahasa”.

Tentu saja pseudo-self ini, pada masa mendatang, menjadi sumber konflik apabila mereka di kemudian hari menikah. Contohnya, pihak istri berada dalam kondisi depresi berlanjut karena dalam waktu 10 tahun terakhir (pernikahan sudah mencapai usia 35 tahun perkawinan) mendapatkan reaksi tampilan suami yang enggan bahkan tidak mau memberikan respons positif terhadap rangsangan erotik seksual dari pihak istrinya tanpa memberikan alasan yang jelas.

Kilasan keluarga ideal

Keluarga yang ideal mendukung dan memberi peluang bagi setiap anggota keluarga untuk tampil jujur, memberikan suara yang otentik, meningkatkan rasa kebersatuan, dan kepemilikan dalam bentuk ”usness” atau ”the we” di mana mereka saling menghargai keterpisahan dan keberbedaan setiap anggota keluarga ”the I”.

Orangtua dengan penuh kasih membentuk tatanan relasi dalam keluarga sebagai bimbingan terhadap perilaku anak-anaknya, tetapi para orangtua tidak mencoba meregulasi emosi-emosi anak dan ide-ide anak.

Dengan cara ini, para orangtua mampu memberikan iklim keluarga yang aman, yakni setiap anggota keluarga memiliki perasaan bebas untuk mengungkap apa yang ingin mereka ungkapkan dan bebas menjadi diri mereka sendiri.

Setiap anggota keluarga tetap merasa nyaman dalam berbagi secara jujur tentang isi pikiran dan perasaan-perasaan mereka, bahkan terhadap masalah-masalah yang menyertakan aspek emosi negatif yang membuat mereka cemas oleh penyertaan emosi negatif tersebut.

Informasi akan mengalir dengan lancar, perbedaan perspektif tetap dihargai, dan isu yang menyulitkan dapat didiskusikan secara terbuka. Iklim emosi dalam kehidupan keluarga yang hangat, spontan, dan santai sehingga anak-anak bebas memberikan pertanyaan langsung setiap waktu tentang apa yang mereka pertanyakan.

Anak-anak percaya kepada orangtua bahwa orangtua akan memberikan masukan yang jujur dan benar tentang masalah- masalah penting atau saat yang tepat untuk mengungkapkan masalah-masalah yang bersifat pribadi dan tidak untuk dibagi ceritanya kepada siapa pun.

Anak-anak akan ditempatkan secara obyektif sebagaimana mereka tampil sebagai diri mereka sendiri dan tidak melalui ”lensa yang salah” terkait dengan harapan, ketakutan, dan kebutuhan orangtua tentang keberadaan anak-anaknya.

Para orangtua berada dalam hubungan antar-pasangannya dan keluarga asalnya dengan baik dan kebersamaan serta kesetaraan pasangan secara kreatif diciptakan dan diselesaikan dengan baik.

Kedua orangtua dapat membicarakan pemikiran-pemikirannya dan mengatasi perbedaan-perbedaannya. Secara berlanjut, kedua orangtua berada dalam iklim relasi yang baik.

Hal itu tidak berarti bahwa mereka tidak pernah bertengkar. Kalaupun mereka bertengkar, mereka akan berusaha untuk menuntaskan permasalahan yang mereka hadapi bersama untuk kemudian menjalin hubungan yang baik kembali.

Dengan iklim keluarga yang demikian, semua anggota keluarga akan berbahagia karena bisa tampil sebagai diri sendiri, menerima diri dengan segala kelebihan dan kekurangan, serta mampu mengambil manfaat dari kelebihan dan kekurangan di lingkungan keluarga dan lingkungan sosial mereka. Mampukah kita menciptakan keluarga ideal tersebut? Semoga. (Kompas Cetak)

Be the first to comment

Leave a Reply