LIGA INGGRIS: Serakah Itu Tidak Baik, Liverpool

Para pemain Liverpool merayakan gol Georginio Wijnaldum (tengah) dalam pertandingan Liga Inggris melawan Bournemouth di Anfield, Sabtu (9/2/2019). Liverpool kembali ke puncak klasemen Liga Premier Inggris setelah unggul tiga poin atas Manchester City seusai menumbangkan Bournemouth. (Sumber: Kompas/AP PHOTO/RUI VIEIRA)

Liverpool kembali ke puncak klasemen Liga Primer Inggris, unggul tiga poin atas Manchester City, seusai menumbangkan Bournemouth. Dengan hasil itu, nasib perburuan gelar yang menyisakan 12 pekan lagi berada di tangan ”The Reds”. Tim asuhan Jurgen Klopp ini berpeluang besar juara setelah puasa 28 tahun, dengan catatan, jangan serakah.

Mohamed Salah dan rekan-rekan menang telak 3-0 saat menjamu Bournemouth di Anfield pada pekan ke-26 Liga Primer, Sabtu (9/2/2019) malam WIB. Tiga gol dari Sadio Mane, Georginio Wijnaldum, dan Salah mengembalikan takhta puncak klasemen ke tangan Liverpool.

Kini, Liverpool unggul tiga poin dari City dengan jadwal yang menyisakan 12 laga. Peluang mereka sangat besar memenangi trofi Liga Primer. Dalam 12 laga itu hanya terdapat empat laga besar, melawan Manchester United, Everton, Tottenham Hotspurs, dan Chelsea. Sisanya, termasuk empat laga terakhir, bisa dilewati dengan mudah.

Kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum Klopp menentukan prioritas. Mereka harus memilih fokus ke satu kompetisi, Liga Primer atau Liga Champions. Dalam situasi ini, tentunya Liga Primer jauh lebih realistis.

Mengapa tidak fokus saja ke dua kompetisi itu? Jawabannya, Liverpool bukanlah Manchester City. Skuad asuhan Klopp cukup tipis musim ini. Kualitas antara pemain inti dan cadangan agak timpang. Tentunya hal itu sulit ketika 11 pemain utama harus bermain tiga kali dalam sepekan.

AP/JON SUPER
Manajer Liverpool Jurgen Klopp memeluk pemain tengah Georginio Wijnaldum seusai pertandingan melawan Leicester City di Anfield, Kamis (31/1/2019). Liverpool hanya bisa bermain imbang 1-1 melawan Leicester dan membuang peluang memperlebar jarak dengan pesaing terdekatnya di puncak klasemen, Manchester City.

Pengalaman berdampaknya kehilangan pemain sudah dirasakan Liverpool sejak Januari 2019. Joe Gomez, Trent Alexander-Arnold, Wijnaldum, dan pelapis Jordan Henderson, yang mengalami cedera, signifikan memengaruhi penampilan mereka.

Sejak Januari, mereka terpeleset tiga kali dari enam laga, dua kali seri dari Leicester City dan West Ham dan satu kali kalah dari Manchester City. Padahal, dalam 20 pertandingan sebelumnya, Liverpool hanya seri tiga kali tanpa kekalahan.

Jumlah kemasukan barisan pertahanan yang dikomando Virgil Van Dijk naik drastis. Sejak Januari, mereka kemasukan tujuh gol dari enam laga, dibandingkan 20 laga sebelumnya, gawang Alisson Becker hanya kemasukan delapan gol.

Tipisnya pelapis sangat mengkhawatirkan jika cedera atau kelelahan melanda trisula, Salah, Mane, dan Roberto Firminho. Kualitas pemain yang menggantikan, seperti Daniel Sturridge, Divock Origi, ataupun Xherdan Shaqiri, masih berada satu level di bawahnya.

AFP/PAUL ELLIS
Pelatih Liverpool Juergen Klopp (kiri) memeluk pemain tengah asal Mesir, Mohamed Salah, seusai melawan Napoli pada laga lanjutan Grup C Liga Champions yang digelar di Stadion Anfield, Liverpool, Inggris, Rabu (12/12/2018) dini hari WIB. Kemenangan 1-0 atas Napoli itu cukup membuat Liverpool lolos dari lubang jarum dan melaju ke babak selanjutnya. Satu-satunya gol dalam laga itu dicetak Mohamed Salah.

Klopp menyadari pentingnya pemain utama. Dia menilai hal itu sebagai salah satu penyebab hilangnya poin pada beberapa laga terakhir. ”Saya sangat tidak senang dengan dua laga sebelumnya. Memang terlihat seperti alasan, tetapi tidak, memang ada masalah dalam tim,” katanya.

Di sisi lain, Klopp harus cerdas bermain strategi dengan Josep ”Pep” Guardiola. City sedang memburu quadruple atau empat gelar dalam semusim. Meski skuad mereka cukup tebal, keserakahan itu justru bisa menguntungkan Liverpool. Belum lagi orientasi Pep yang lebih memprioritaskan Liga Champions.

City terkadang kewalahan saat bermain dalam empat kompetisi. Terkadang mereka harus bermain empat kali dalam 10 hari. Contohnya, dalam jadwal padat itu, mereka dikalahkan Newcastle, beberapa pekan lalu. Juga saat boxing day, City kalah dua kali beruntun dari Crystal Palace dan Leicester.

Belajar dari musim 2013/2014, saat itu Liverpool hanya fokus di satu kompetisi sejak awal Februari. Hasilnya, pada musim itu, The Reds paling mendekati trofi juara setelah 28 tahun lalu. Mereka bisa fokus menjalani satu laga per pekan.

Sayangnya, Steven Gerrard dan rekan-rekan saat itu terpeleset pada akhir musim. Hasilnya, mereka tertinggal dua poin dari sang juara Manchester City.

AFP/OLI SCARFF
Kiper Red Star Belgrade, Milan Borjan, berusaha menyelamatkan gawangnya dengan merebut bola dari kaki penyerang Liverpool, Mohamed Salah, pada laga Grup C Liga Champions di Stadion Anfield, Liverpool, Inggris, Kamis (25/10/2018) dini hari WIB. Salah mencetak dua gol dalam laga yang dimenangi Liverpool dengan 4-0 itu.

Musim lalu pun Liverpool nyaris hanya fokus pada Liga Champions. Mereka sudah gugur sejak babak awal Piala FA dan Piala Liga Inggris. Sementara itu, di Liga Primer, mereka terlalu jauh tertinggal dari City. Hasilnya, setelah tahun 2007, Liverpool kembali masuk final Liga Champions.

Setelah terakhir kali menjuarai liga pada 1989/1990, Liverpool nyaris juara pada 2002, 2009, dan 2014. Jika dilihat, pola itu terjadi lebih dari lima tahun sekali. Jika tidak sekarang, bayangkan berapa tahun lagi mereka butuhkan untuk menahan dahaga juara. Jadi, pilih yang mana penggemar Liverpool, fokus pada satu gelar atau kembali mengucapkan kalimat klise, ”Kami akan juara musim depan”? (REUTERS)/KELVIN HIANUSA/Kompas Cetak

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*