Pendaftaran SNMPTN Diperpanjang hingga 29 Januari

Suasana ruang bimbingan dan konseling SMAN 6 Depok, Jawa Barat, Jumat (25/1/2019). Siswa kelas XII berdiskusi mengenai program studi dan perguruan tinggi negeri yang cocok dengan minat dan bakat mereka. (Sumber: KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR)

Jakarta, Baranews.co – Sistem Pangkalan Data Sekolah dan Siswa di laman pendaftaran seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri mengalami hambatan akibat lonjakan data yang mengantre untuk diunggah. Tenggat pendaftaran yang semestinya berakhir pada Jumat, 25 Januari 2019, pun diperpanjang hingga 29 Januari pukul 10.00.

”Ini kebiasaan menahun, sekolah baru beramai-ramai memasukkan data pada saat-saat terakhir,” kata Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Ravik Karsidi saat dikontak di Solo, Jawa Tengah, Jumat.

Data LTMPT hingga Kamis (24/1) malam menunjukkan, dari 27.189 SMA dan Madrasah Aliyah, baru 17.074 yang mengisi data. Akan tetapi, hanya 8.235 sekolah yang sudah memverifikasi data dan mengunggahnya sebagai data final.

LTMPT akhirnya mengambil kebijakan bahwa pada Selasa tanggal 29 Januari semua data sudah harus terverifikasi dan final pada pukul 20.00. Sekolah yang gagal memenuhi tenggat tambahan tidak akan bisa mengikuti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Siswanya hanya boleh mengikuti seleksi bersama masuk PTN dan ujian mandiri.

Pada Selasa tanggal 29 Januari semua data sudah harus terverifikasi dan final pada pukul 20.00. Sekolah yang gagal memenuhi tenggat tambahan tidak akan bisa mengikuti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri.

”Tahun ini semua sekolah yang terdaftar berkomitmen mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) secara daring. Jadi, tidak ada lagi pengisian secara manual. Akan tetapi, kedisiplinan sekolah memenuhi tenggat ternyata belum banyak berubah,” tutur Ravik. Dari segi jaringan internet relatif tidak bermasalah karena umumnya SMA terletak di pusat kabupaten/kota.

Verifikasi lama

Sekolah-sekolah mengungkapkan, proses paling lama dalam pemasukan data adalah verifikasi nilai oleh siswa. Tahap awal adalah operator sekolah memasukkan nama dan nilai seluruh siswa kelas XII. Adapun nilai yang dimasukkan adalah nilai setiap siswa sejak semester I hingga V.

”Di SMAN 6 Depok saja siswa kelas XII ada 395 orang. Walaupun ada enam orang operator yang mengunggah nilai ke PDSS, tetap akan memakan waktu,” kata Panti Nur Abadi, guru Bimbingan Konseling SMAN 6 Depok, Jawa Barat.

Setelah semua berkas diunggah ke PDSS, setiap siswa kelas XII mendapat nama pengguna dan kata sandi agar mereka bisa mengakses laman PDSS. Mereka kemudian harus memeriksa data nilai yang sudah dimasukkan oleh operator sekolah agar benar-benar sesuai dengan nilai rapor. Jika sesuai, siswa mengklik pernyataan bahwa data tersebut final. Jika ternyata ada satu atau beberapa nilai yang tidak sesuai dengan rapor, siswa melapor kepada operator agar segera meralat sebelum dinyatakan final.

Setelah semua berkas diunggah ke PDSS, siswa kelas XII mendapat nama pengguna dan kata sandi agar bisa mengakses laman PDSS. Mereka  harus memeriksa data nilai yang sudah dimasukkan operator sekolah.

”Kendala tahunan ialah siswa sudah diinformasikan untuk segera memverifikasi data, tetapi biasanya mereka suka menunda. Guru-guru BK harus terus menegur dan mengingatkan. Apabila sudah tenggat, tetapi ada satu siswa belum verifikasi, keseluruhan data sekolah tidak bisa difinalkan,” tutur Panti menjelaskan.

Setelah data sekolah difinalkan, sistem PDSS SNMPTN secara otomatis menyaring nama-nama siswa yang berhak mengikuti SNMPTN. Sebagai sekolah berakreditasi A, SMAN 6 Depok berhak atas kuota 40 persen dari total siswa, yakni sekitar 160 orang.

Ketika nama-nama siswa yang masuk dalam kuota diumumkan, sekolah memberi siswa waktu satu pekan untuk memutuskan hendak lanjut mendaftar ke PTN atau tidak mau. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, ada siswa yang memutuskan tidak mau mengikuti SNMPTN.

”Siswa yang memutuskan untuk mengikuti SNMPTN diwajibkan menandatangani surat pernyataan bermaterai,” ujar Panti.

Surat itu menjabarkan komitmen siswa dan orangtua untuk mengikuti SNMPTN di PTN dan program pendidikan pilihan mereka. Apabila siswa diterima di PTN tersebut, ia tidak boleh menolak dan harus mendaftar ulang sebagai mahasiswa di PTN tersebut.

Apabila siswa diterima di PTN tersebut, ia tidak boleh menolak dan harus mendaftar ulang sebagai mahasiswa di PTN tersebut.

Panti mengatakan, tiga tahun lalu ada siswa yang diterima SNMPTN di Institut Teknologi Bandung (ITB). Akan tetapi, siswa itu tidak mau mengambil posisi tersebut. Akibatnya, hingga kini SMAN 6 Depok tidak diizinkan mendaftar SNMPTN di ITB. Apabila siswa ingin kuliah di perguruan tinggi itu, mereka hanya bisa masuk melalui jalur SBMPTN dan ujian mandiri.

Hal serupa juga dikemukakan Kepala SMAN 78 Jakarta Saryono. Sekolah itu dilarang mendaftar SNMPTN di Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember akibat dahulu ada siswa yang diterima di PTN-PTN itu, tetapi tidak jadi mengambil posisinya.

”Siswa dan orangtua harus tahu tindakan mereka berpengaruh kepada angkatan di bawah. Sebelum mendaftar SNMPTN benar-benar dipikir dulu PTN dan prodi yang akan diambil,” ucapnya. (LARASWATI ARIADNE ANWAR/Kompas Cetak).

Be the first to comment

Leave a Reply