Edukasi Mitigasi Bencana Jangan Abaikan Informasi Penyebab Bencana

Ilustrasi: Warga berada di antara kayu yang terbawa arus sungai pascabanjir bandang di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Mandailing Natal, Sumatra Utara (13/10-2018). [Sumber: kalbarupdates.com/ANTARA/Holik Mandailing]

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Ketika terjadi bencana alam, kecuali letusan gunung berapi, seruan yang muncul selalu bermuatan moral dan anjuran untuk bersabar. Kamerawan televisi tidak pernah memperlihatkan saluran drainase yang tidak berfungsi ketika ada laporan berupa liputan banjir.

Setiap ada banjir bandang ada potongan batang atau pohon besar yang hanyut. Wartawan dan kamerawan televisi tidak menunjukkan asal potongan kayu tsb. dan seperti apa kondisi hulu sungai yang membawa banjir bandang tsb.

Tsunami yang menerjang permukiman berada di zona tumbukan lidah gelombang pasang tsunami. Apakah hal ini disampaikan ke masyarakat yang jadi korban atau di tempat lain yang juga ada di zona tumbukan tsunami?

Permukiman yang ‘hilang’ ditelan bumi di Palu, Sulteng, sebagai likuefaksi (tanah mencair karena gempa) ternyata ada di atas sungai kuno dan patahan.

Televisi “National Geographic” (25/1-2019) menyiarkan laporan tentang ‘tsunami’ yang terjadi karena air melimpah melewati bendungan Diga del Vajont di Italia pada 9 Oktober 1963 yang menewaskan 2.000 warga. Bendungan tidak jebol, tapi runtuhan pegunungan di hulu sungai yang mengalir ke bendungan menyebabkan air melewati bendungan dan menerjang permukiman. Kalangan ahli mengatakan bencana itu karena ulah manusia bukan karena alam.

Rupanya, ketika bendungan dibangun tidak diperhitungkan kondisi pegunungan di sepanjang aliran sungai, Sungai Piave, yang terjadi terjadi dari laporan batu kapur dan lempung. Ketika bendungan ditutup genangan air menyebabkan pegunungan seakan terapung dan terjadilah longsor atau runtuh ke genangan bendungan yang menyebabkan air melewati bendungan.

Gambar-gambar yang disiarkan televisi dan media massa serta media onlie menunjukkan pantai yang diterjang tsunami di Palu, Banten bagian barat dan Lampung bagian selatan tidak ada hutan bakau. Pantai yang dijadikan permukiman dan kegaitan ekonomi terbuka ‘menantang’ samudra.

Hutan Mangrove Tongke-tongke Sinjai, Sulsel, yang terekam kamera drone tim Tribun Timur Celebes Explore 2016 (25/4/2016). (Sumber: makassar.tribunnews.com)
Hutan Mangrove Tongke-tongke Sinjai, Sulsel, yang terekam kamera drone tim Tribun Timur Celebes Explore 2016 (25/4/2016). (Sumber: makassar.tribunnews.com)

Hutan bakau bisa melindungi kawasan pesisir pantai dari bencana alam, seperti topan dan tsunami. Tapi, justru kawasan inilah yang dikorbankan untuk membuka kawasan penangkaran ikan atau udang (dw.com, 22/12-2013). Selain itu di bibir pantai juga dibangun sarana dan prasarana pariwisata, seperti hotel dan restoran.

Hutan bakau juga dibabat habis untuk permukiman, reklamasi, kawasan indusrri, pelabunan dan bandar udara. Maka, tidaklah mengherankan, seperti dilaporkan dw.com, sejak dekade 1980-an hutan bakau di seluruh dunia berkurang 35 persen. Sedangkan di Indonesia, seperti disebutkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, 52 persen kondisi huatan bakau di Indonesia saat ini kurang baik. Padahal hutan bakau merupakan ekosistem paling produktif dan banyak manfaat (news.detik.com, 22/4-2017).

Kondisi tanah longsor di kawasan dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jateng (16/12-2014). (Sumber: nasional.republika.co.id /Antara/Anis Efizudin)
Kondisi tanah longsor di kawasan dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jateng (16/12-2014). (Sumber: nasional.republika.co.id /Antara/Anis Efizudin)

Sedangkan banjir bandang dan longsor juga terjadi karena campur tangan manusia. Lereng di atas 30 derajat pun dijadikan lahan pertanian yang ditanami tanaman palawija. Tentu saja dengan membabat hutan di lereng tsb. Dengan kasat mata bisa dilihat permukiman dan lahan pertanian di lereng-lereng pegunungan. Di sisi kiri dan kanan jalur Puncak, misalnya, dengan jelas bisa dilihat punggung gunung atau perbukitan yang gundul.

Di ujung atau bibir lereng pun tidak lagi ada bambu atau aur yang selama ini jadi penahan longsor karena tanah diikat oleh akar bambu. Bahkan, ada pepatah: bagai aur dengan tebing. Ini bermakna saling bantu. Bambu (aur) hidup di tebing atau lereng, dan tanah tidak longsor.

Tapi, ketika punggung gunung dan pegunungan sudah tandus dan tebing tanpa aur air hujan pun jadi run off sebagai air permukaan.  Karena lereng sudah jadi areal terbuka air hujan tidak lagi dihadang daun tanaman sehingga air tidak masuk ke tanah. Ari permukaan pun mengalir deras menerjang semua rintangan yang ada di aliran air.

Ilustrasi: Permukiman warga di lereng Merapi yang rawan longsor (Sumber: Ragil Ajiyanto/detikcom)
Ilustrasi: Permukiman warga di lereng Merapi yang rawan longsor (Sumber: Ragil Ajiyanto/detikcom)

Dengan memberikan informasi tentang latar belakang bencana diharapkan masyarakat juga bisa menimbang-nimbang untung rugi membabat hutan pada lereng di atas kemiringan 30 derajat. Hasil pertanaian membangun rumah, tapi ketika banjir bandang rumah hanyut dan permukinan pun rata dengan tanah.

Selain itu pemerintah daerah pun, ini era Otonomi Daerah (Otda), diharapkan membuat regulasi dengan penegakan hukum yang ketat. Setiap ada bencana selalu jadi urusan Pusat, padahal ini era Otda dan izin pengelolaan lahan ada di daerah. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply