FOMO, “Penyakit” Baru Pecandu Media Sosial

Ilustrasi (Sumber: 123rf.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Peron jalur 3 Stasiun KA Tanah Abang, 18/1-2019, pukul 20.30, penuh sesak. Bergeser pun nyaris tidak bisa. Informasi dari stasiun melalui pengeras suara mengatakan rangkaian KRL Commuter Line segera tiba.

Calon penumpang tujuan akhir Sta KA Bogor bukan bersiap-siap untuk naik ke gerbong, tapi tetap sibuk memainkan jari-jemari di papan ketik ponsel pintar mereka.

Lima pintu gerbong KRL terbuka. “Utamakan penumpang yang turun.” Itu suara dari pengeras suara. Setelah penumpang turun, calon penumpang yang berjejal di peron berebut naik. Tapi, lagi-lagi tetap memegang ponsel. Satu tangan pegang ponsel tangan lain pegang tas atau barang tentengan.

Kecanduan

Suasana di gerbong penuh sesak. Kata orang ‘ibarat ikan dencis’ (ikan makerel kalengan), saling berhimpitan. Tapi, lagi-lagi banyak penumpang yang tetap memainkan jari-jemari di keyboard layar sentuh ponsel.

Di bus TransJakarta juga pemandangan sama. Penumpang naik dari shelter atau halte satu tangan tetap memegang ponsel dan tangan lain memegang barang tentengan. Sering terjadi penumpang terdorong ke depan, maka mereka memakai siku menahan badan.

Kecanduan terhadap media sosial disebut sebagai FOMO (fear of missing out) yaitu perilaku yang dikaitkan dengan kecanduan terhadap media sosial karena mereka takut ketinggalan informasi. Akibatnya, mereka tidak bisa melepaskan diri dari ponsel dan tablet, bahkan ketika hendak tidur (abc.net.au, 9/11-2018).

Kalangan ahli sudah lama mengingatkan bahwa ketergantngan terhadap ponsel akan menyebabkan kecanduan. Bahkan, ada pula studi yang mengaitkan kecanduan media sosia dengan kesepian dan depresi. Disebutkan oleh peneliti di Universitas Pennsylvania, AS, bahwa gagasan tentang ada hubungan antara media sosial dan kesehatan mental telah menjadi pembicaraan selama beberapa tahun, tetapi belum banyak kajian yang berhasil menghubungkan keduanya (voaindonesia.com, 10/11-2018).

[Baca juga: Fenomena “Generasi Nunduk”, Apakah Kita Akan Berhenti Saling Menyapa?]

Hasil studi Universitas Pennsylvania, dipimpin oleh psikolog Melissa Hunt,  terkait dengan media sosial, khususnya FacebookSnapchat dan Instagram, disebutkan oleh Hunt temuan sebagai “ironi besar” dalam media sosial.

Studi yang melibatkan 143 pengguna media sosial, usia 18 – 22 tahun, yang sudah mengikuti survei tentang suasana hati mereka dengan petunjuk seberapa sering mereka memakai telepon dan mengakses media sosial. Kondisi penelitian dibuat seperti kehidupan di dunia nyata yang disebut secara ekologis.

Peserta dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama, mereka yang tetap melakukan kebiasaan mereka menggunakan media sosial. Sedangkan kelompok kedua akses ke tiga platform (FacebookSnapchat dan Instagram) dibahtasi hanya 10 menit setiap hari.

Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang sangat jelas antara penggunaan media sosial dan pertambahan tingkat depresi dan kesepian. Disebutkan oleh Hunt bahwa dengan menggunakan lebih sedikit media sosial dibanding dengan biasanya, akan menyebabkan penurunan depresi dan kesepian.

Penelitian dikatakan oleh Hunt menemukan dua hal penting.

Pertama, media sosial erat kaitannya dengan sikap ‘perbandingan sosial ke bawah’. Ketika sedang berselancar di media sosial terkadang muncul pikiran bahwa “setiap orang lebih keren, lebih sering bersenang-senang dan ini membuat Anda merasa ditinggalkan atau terkucil”. Inilah yang disebut Hunt sebagai demoralisasi (KBBI: kemerosotan akhlak; kerusakan moral).

Kedua, dikatakan oleh Hunt: Setiap menit yang Anda habiskan di dunia maya adalah menit-menit di mana Anda tidak bekerja, tidak bertemu teman untuk makan malam atau bicara panjang lebar dengan teman. Padahal kegiatan-kegiatan di dunia nyata merupakan kegiatan yang dapat meningkatkan kepercayaan diri dan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.

[Baca juga: Candu Baru Itu Bernama Media Sosial]

Pertemanan dan informasi yang diperoleh di dunia maya tidak menggambarkan kondisi nyata sebagai realitas sosial di social settings. Ribuan teman dan puluhan ribu yang me-like posting-an di dunia maya bukanlah teman di dunia nyata karena al. ada mesin yang bisa mencontreng tanda like.

Kabar Burung

Sedangkan yang terkait dengan informasi atau berita tidak perlu risau merasa ketinggalan karena ada media mainstream yang tidak akan pernah menyampaikan informasi bohong (hoax). Media-media massa cetak juga mempunyai situs online sehingga berita selalu aktual.

Informasi yang dikemas jadi berita di media massa mainstream adalah informasi yang sudah diverifikasi dan dikonfirmasi dengan sumber-sumber yang berkompeten sehingga tidak mungkin hoax.

[Baca juga: Bukan “Berita Bohong” tapi “Informasi Bohong atau Palsu”]

Celakanya, banyak pengguna media sosial justru pacandu hoax, terutama dari kalangan ‘the haters‘ yang selalu mencari-cari informasi sesuai dengan kata kunci kebencian mereka.

[Baca juga: “Penggemar” Hoax Justru Mengabaikan Berita Faktual di Media Mainstream]

Kemasan informasi di media massa dan media online terverifikasi di Dewan Pers Indonesia berbeda dengan cara netizen menulis informasi dan posting-an yang mereka lakukan hanya berdasarkan ‘kabar burung’, isu, posting-an, dll. Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian puluhan orang yang menyebarkan hoax dan ujaran kebencian jadi penghuni sel penjara di balik jeruji besi karena melawan hukum sesuai dengan larangan di UU ITE.

[Baca juga: Soal Tahun Kelulusan Jokowi, Inilah Beda antara (Kerja) Wartawan dan Netizen]

Salah satu cara yang mudah untuk mengetahui apakah sebuah media, media massa dan media online, sudah terverifikasi di Dewan Pers adalah dengan lihat informasi tentang media tsb. yaitu: (a) Alamat redaksi harus ada nama jalan lengkap dengan RT, RW, Kelurahan sampai kode pos, (b) Susunan redaksi mulai dari pemimpin umum sampai wartawan, (c) Nomor telepon berupa telepon rumah (fixed phone), dan (d) Penerbitnya harus berbentuk badan hukum berupa perseroan terbatas (PT).

Maka, kalau takut ketinggalan informasi diatasi dengan melihat status atau informasi di media sosial yang didapat bukan ketenangan tapi justru kegelisahan karena bisa jadi informasi yang diperoleh adalah hoax.

Satu kaki pengguna media sosial ada di penjara. Maka, ketika hoaxdisebarkan hanya karena kebencian itu artinya kaki yang satu lagi akan menyusul dan badan pun terkurung di sel penjara.

[Baca juga: Ujaran Kebencian yang Mengganjal Kemajuan Bangsa]

FOMO juga disebut sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi pola tidur. Padahal, beberapa studi dan penelitian menunjukkan pola tidur erat kaitannya dengan kesehatan. Pola tidur terganggu karena kecanduan terhadap media sosial apalagi kalangan penggemar hoaxdan ‘the haters‘.

Memang, apa pun risikonya banyak orang akan tetap hidup dengan kebiasaan mereka dalam menggunakan ponsel agar terhubung dengan media sosial. Itu artinya risiko ada risiko kesehatan, depresi dan kesepian yang akan jadi beban psikologis.

Maka, sudah selayaknya kita simak nasihat Hunt ini: Perlu sedikit perubahan. “Secara umum saya ingin mengatakan, lupakan telpon Anda dan habiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang.” (sumber: VOA IndonesiaABC News dan sumber-sumber lain). *[kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply