Berlindung di Balik Proteksi (Akan) Digilias Kemajuan Teknologi

Ilustrasi (Sumber: adomonline.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Suatu pagi sebulan yang lalu. Pintu toko itu terbuka sedikit. Jam menunjukkan pukul 09.00. Dari dalam toko di sekitar Mester, Jatinegara, Jakarta Timur, itu terdengar suara krekkkk …. krekkkkk….. krekkkkk yang menandakan tarikan lakban untuk mengikat bungkusan atau kardus.

Beberapa saat kemudian sebuah motor yang dikendarai seorang laki-laki memakai jaket dan helm bermerek Go-Jek berhenti di depan toko dan melihat catatan. Dia  mengetuk pintu toko. Pengemudi tadi masuk dan keluar membawa paket. Toko ini tidak lagi menunggu pembeli datang, tapi menyiapkan pesanan melalui pembelian online.

Ketika Internet sudah masuk ke semua sendi kehidupan, al. dalam kancah perdagangan yang dikenal sebagai e-commerce [electronic commerce yaitu teknologi, aplikasi, dan bisnis yang menghubungkan perusahaan atau perseorangan sebagai konsumen untuk melakukan transaksi elektronik, pertukaran barang, dan pertukaran informasi melalui internet atau televisi, web atau jaringan komputer lainnya (id.wikipedia.org)].

Belakangan ini di media massa dan media online sering ada berita tentang pusat perbelanjaan yang tutup atau mengurangi jumlah outlet atau toko. Bahkan, ada berita tentang sebuah jalan di Singapura (Orchad Road) yang dulu ramai belakangan mulai tidak ramai.

Seperti diberitakan kompas.com, 13/1-2019, Hero Supermarket menutup 26 gerai sebagai upaya efisiensi. Disebutkan omset penjualan sampai kuartal tiga tahun lalu turun satu persen. Gerai kelas dunia pun tidak sedikit yang mengalami hal yang sama. Maka, amatlah naif kalau kemudian ada ‘pengamat’ yang mengatakan resesi ekonomi nasional saat ini sebagai penyebab gerai dan retail ‘gulung tikar’.

Sekarang ini semua serba mudah. Hanya dengan dua jari melalui telepon pintar apa pun bisa dilakukan terkait dengan e-commerce. Iklan toko online besar-besaran dengan penawaran ‘bebas ongkir’ (ongkos kirim). Itu artinya tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos transportasi hanya untuk membeli barang keperluan sehari-hari.

Beli blender pun bisa melalui Go-Jek. Beli obat bebas juga tinggal kontak Go-Jek. Beli makanan ada Go-Food yang juga memberikan potongan harga. Online shopping akhirnya jadi pilihan banyak orang dengan pertimbangan waktu, biaya dan risiko di perjalanan. Ada yang bayar di tempat ketika pesanan diterima, bisa pula melalui ATM, gerai dan kartu kredit.

Ilustrasi (Sumber: telegraph.co.uk)
Ilustrasi (Sumber: telegraph.co.uk)

Ketika Internet merambah dunia, Indonesia malah apatis. Seorang menteri penerangan (Menpen) waktu Orde Baru, misalnya, justru mengusulkan untuk memblokkir Internet masuk ke Indonesia. Di era reformasi seorang menteri komunikasi dan informasi (Kominfo) malah menantang: Untuk apa Internet (yang) Cepat!

Ketika mengikuti acara berskala internasional di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 1999 kecepatan Internet di sana seperti kilat. Padahal, penulis memakai layanan di restoran, semacam Warnet di sini. Ternyata kala itu jaringan telepon di Malaysia sudah memakai serat optik. Kita sampai sekarang masih memakai kawat tembaga yang dipengaruhi oleh cuaca dan pekerjaan galian kabel, perbaikan jalan, gorong-gorong dan pipa air bersih.

Ketika sarana transportasi umum yaitu motor sebagai ojek dan mobil sebagai taksi juga memanfaatkan e-commerce, gelombang penolakan bahkan dengan cara-cara yang anarkis muncul di banyak daerah. Inilah akibat sosialisasi berupa informasi tentang kemajuan teknologi telekomunikasi yang dihambat dan dihadang, bahkan dahulu oleh pemerintah.

Akibatnya, banyak yang terlambat menyiapkan diri menghadapi gelombang perubahan karena ada proteksi dari pemerintah. Padahal, jauh-jauh hari dunia sudah menerapkan perdagangan bebas yang hanya mengandalkan sertifikasi bukan lagi proteksi.

Laporan “dw.com” (12/1-2019) tentang peluang berdagang secara online di Indonesia disebutkan bahwa tren perdagangan elektronik meningkat yang dimulai oleh Bukalapak. Pasar perdagangan elektronik juga diramaikan oleh banyak toko online, seperti Tokopedia, Lazada, dll. Perusahaan- perusahaan ini tentu memiliki caranya tersendiri dalam berkompetisi.

Dalam paparannya “dw.com” menyebutkan dalam kurun waktu delapan tahun bisnis perdagangan elektronik Bukalapak menggaji 1.500 karyawan dengan total 2,4 juta pedagang online bergabung. Nilai pasar mencapai 1 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 14,2 triliun. Angka ini sejajar dengan perusahaan sekelas Indosat.

Gerai dan retail akan berhadapan dengan e-commerce yang tidak lagi memerlukan kedatangan secara fisik ke gerai. Cukup melihat di layar telepon pintar atau laptop semua sudah memenuhi keinginan.

Pada kesempatan silaturrahmi dengan pengemudi ojek online (Ojol) di Kemayoran, Jakarta Pusat (12/1-2019) Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan pekerjaan masa depan adalah transportasi online. “Saya bangga karena Bapak/Ibu adalah orang yang berani menembus batas, berani keluar dari zona nyaman, berani keluar dari tradisi,” ujar Presiden pada acara itu.

Berbagai kawasan di dunia sudah menerapkan perdagangan bebas, bahkan ASEAN pun sudah sepakat mulai diterapkan mulai 1 Januari 2016 yang dikenal sebagai MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau ASEAN Economic Community (AEC). Yang terjadi adalah   integrasi sistem perdagangan di kawasan ASEAN.

[Baca juga: Era Komunitas Ekonomi Asean 2015: Salon ‘Sri’ vs Salon ‘Thai’]

Berbagai persoalan yang dihadapi dunia usaha, bisnis dan sektor lain di Indonesia terkait dengan kemajuan teknologi, dalam hal ini tekenologi informasi dan telekomunikasi, menunjukkan ketidaksiapan kita dan selalu berlindung di balik proteksi. Berbaga kalangan pekerjaan pun selalu meminta pemerintah membuat proteksi.

Celakanya, pasar bebas dunia tidak lagi mengenal batas fisik negara dan proteksi tapi sertifikasi. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply