PSIKOLOGI: Minta Maaf yang Tepat

Ilustrasi (Sumber: Kompas)
Sawitri Supardi Sadarjoen (Sumber: KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Oleh: SAWITRI SUPARDI SADARJOEN

Seorang teman sekerja saya mengatakan kepada saya bahwa dirinya tidak pernah meminta maaf dan tidak juga mau menerima permintaan maaf. Menurut dia, jika seseorang meminta maaf, artinya ia sekadar mencoba menghentikan kemarahan orang lain.

Menurut teman saya itu, orang yang meminta maaf sebenarnya hendak mengatakan: ”Jadi, Anda jangan bicara lagi, saya sudah minta maaf. Berhentilah marah kepadaku. Lupakan sajalah apa yang terjadi”.

Teman sekerja saya itu memiliki pandangan bahwa permintaan maaf merupakan alat untuk membuat orang lain menutup mulut dengan cara memanfaatkan tatanan kesopanan dalam berelasi dan merasa bahwa dirinya adalah seseorang yang memiliki moral tinggi.

Setelah saya dengar cara pandang teman sekerja itu, saya merasa sedikit terpukul. Begitu besarnya perbedaan cara pandang saya dan teman saya itu tentang soal maaf dan memaafkan. Karena saat saya meminta maaf dengan cara yang tulus, saya benar-benar akan bisa melepas kejengkelan saya, seberapa besarnya kemarahan saya tersebut, dan segeram apa pun perasaan saya oleh perilakunya.

Saya juga merasa plong dan terlepas dari kondisi emosi negatif, apalagi jika saya merasa bahwa permintaan maaf yang saya lakukan benar-benar terkait dengan suatu ”keharusan”.

Untuk saya, permintaan maaf sangat penting untuk memperbaiki koneksi yang memburuk karena bisa saja sebagai manusia tanpa sadar saya berbuat salah atau perilaku saya saat itu benar-benar buruk.

Tanpa pemahaman tentang permintaan maaf yang disampaikan dengan tulus, kehidupan manusia bisa berakhir tragis. Permohonan maaf yang disertai kesopanan dan sikap merendah menjadi sumber kenyamanan penghayatan perasaan dan kepemilikan integritas manusia jika seseorang benar-benar merasa melakukan tindakan yang salah.

Permasalahan maaf dan memaafkan dapat terjabarkan dalam bahasan di bawah ini.

Pemintaan maaf kurang ”pas”

Tidak setiap permohonan maaf akan memberikan efek positif bagi perasaan kedua belah pihak yang sedang berkomunikasi. Sering terjadi justru permintaan maaf tidak disampaikan dengan hati tulus, hanya untuk basa-basi.

Bahkan, kadang justru melalui permintaan maaf seseorang dapat memojokkan lawan bicaranya.

Permintaan maaf seperti berikut ini, misalnya, bisa membuat kita merasa tidak puas terhadap ungkapan maaf seseorang: ”Saya minta maaf untuk komentar saya saat pesta kemarin”.

Ungkapan ini seolah menyatakan bahwa kita sangat sensitif. Mungkin yang ingin kita dengar adalah cara memaafkan seperti contoh ini: ”Saya minta maaf atas kritik yang saya sampaikan saat Anda menceritakan ’joke’ di pesta kemarin. Sepertinya saya bersikap keluar batas. Sepertinya saya berperan sebagai petugas yang harus memonitor perilakumu selama berada di pesta kemarin”.

Ada juga permintaan maaf yang mengandung unsur rasionalisasi. Kita sering mendengar permintaan maaf jenis ini dan hal itu membuat kita justru merasa tidak nyaman, seperti: ”Hai, sebenarnya saya ingin menelepon Anda, tapi tiba-tiba jari saya kaku dan tidak bisa menekan tombol telepon, sejujurnya!” Begitu pula dengan contoh berikut ini: ”Saya minta maaf… tapi kamu tidak pernah menanyakan apakah saya sudah menikah dan punya anak”.

Apabila kita ditantang oleh sesuatu yang tidak kita lakukan atau yang memang kita lakukan, sebaiknya kita hanya menyatakan: ”Waduh, saya minta maaf, ya…”, tanpa perlu menyertakan upaya rasionalisasi dari jawaban kita tersebut.

Kita sendiri seyogianya mempraktikkan cara meminta maaf seperti: ”Ibu, lama sekali saya tidak kontak ibu, maaf, ya” tanpa harus menambahkan kalimat berikut ini: ”Saya sibuk sekali, jadi tidak ada waktu bebas sedetik pun untuk kontak ibu”.

Ada kemungkinan seseorang yang terlibat dalam perlakuan yang memberikan efek dahsyat kurang memiliki empati dan rasa haru yang penting untuk menunjukkan rasa penyesalan. Namun, hal itu belum tentu benar karena kapasitas manusiawi untuk mengelabui diri begitu besar.

Bahkan, terkadang bersifat adaptif dan membuat orang itu terbiasa menyelamatkan kehidupannya dengan cara tertentu tadi. Terutama jika orang itu secara faktual merasa kesulitan untuk mengelola permasalahan yang dihadapinya dengan baik.

”Itu bukan salahku”

Hal lain yang perlu kita simak adalah apakah konteks permasalahan yang kita hadapi bersifat personal atau politis. Setiap orang yang terlibat akan menciptakan landasan pertahanan diri dan menghindarkan diri jika ternyata perilaku yang kita ungkap membuat orang lain merasa terancam.

Orang tersebut akan mengatakan: ”Itu bukan kesalahan saya”, atau ”Saya tidak bisa berbuat lain”, atau ”Itu penting sekali”, atau ”Hal itu bukan sesuatu yang harus dibesar-besarkan”, atau bahkan mengatakan sebenarnya ”Hal itu tidak pernah terjadi”.

Perlu pula kita simak bahwa semakin serius keterancaman kondisi dan semakin tidak terkelolanya masalah yang dihadapi, semakin dalamlah tingkat upaya mengelabui diri sendiri dengan mengolahnya sebagai game (permainan).

Akibatnya, seseorang bisa mengatakan kepada dirinya hal sebagai berikut: ”Dia yang menyuruh saya melakukan hal itu” atau ”Saya tidak lakukan hal itu”, bahkan menyatakan ”Hal itu tidak pernah terjadi”.

Semakin tidak terkelolanya rasa salah dan malu, semakin sulit bagi pelaku untuk mengakui bahwa justru perilakunya yang mengakibatkan suasana jadi penuh keterancaman.

Sulit pula baginya untuk berempati kepada orang-orang yang merasa terancam dalam suasana itu, apalagi untuk menghayati dan menyesali perbuatannya.

Sementara itu, orang tersebut akan tampak semakin berupaya untuk rasionalisasi, mengabaikan, dan memberikan berbagai penerangan yang membuat orang yang diancam dan jadi korban menjadi justru merasa dirinyalah yang bersalah.

Isu lain yang terpenting adalah ketika kita merasa paling butuh didengar dan dipahami menjadi teralihkan oleh pelecehan kepercayaan oleh orang yang kita cintai dan sebetulnya kita harapkan menjadi tempat bergantung.

Biasanya proses untuk membuka percakapan tentang masalah yang ingin kita bicarakan terasa lamban dan justru menyakitkan hati kita. Apabila pelecehan akan kepercayaan itu menjadi sangat serius, maka untuk memecahkan masalah itu dengan solusi tepat sangat dibutuhkan bantuan profesional.

Orang yang bersalah dalam kaitan dengan masalah tersebut di atas membutuhkan perawatan psikologis spesifik. Dengan begitu, dia mendapatkan kesempatan merasa bertanggung jawab dan serta-merta menjadi lebih fokus dalam percakapan yang terjadi.

Sementara itu, korban yang terancam membutuhkan pertolongan dan dukungan, perspektif, strategi, dan perencanaan jangka panjang agar terhindar dari perlakuan lanjut membuka peluang mengalami trauma kembali.

Masalah dibuka melalui percakapan yang tulus, hal yang menyakitkan dihilangkan secara tuntas, dan korban diberi kesempatan untuk bicara jujur sesuai dengan kenyataan yang dialaminya.

Nah, dari uraian di atas, kita menemukan cara yang pas untuk meminta maaf sehingga hubungan dan koneksitas yang terjalin menjadi baik kembali.

Kebijakan dalam proses maaf-memaafkan yang disertai niat tulus yang tepercaya akan menciptakan kadar integritas fungsi kepribadian yang optimal pula. Bravo. (Kompas Cetak)

Be the first to comment

Leave a Reply