CUACA SELAT SUNDA: Angin Kencang Perluas Sebaran Abu Vulkanik

Peta ketinggkan dan arah gelombang air laut di Indonesia pada 29 Desember 2018, oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (Sumber: Kompas/BMKG)

Jakarta, Baranews.co – Angin kencang diperkirakan berembus di wilayah perairan Selat Sunda sampai Minggu (30/12/2018). Meski tak memicu kenaikan gelombang laut, hal itu bisa memperluas sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kamis (27/12/2018), kecepatan angin tertinggi terpantau akan terjadi di perairan Selat Sunda. Kecepatan angin permukaan 10-50 kilometer per jam. Kecepatan angin tertinggi terpantau akan terjadi di wilayah perairan lain Indonesia, seperti Kepulauan Seribu, Laut Sulawesi, dan Laut Banda.

Di perairan Selat Sunda bagian selatan dan perairan lain berbatasan dengan Samudra Hindia, kecepatan angin bisa meningkatkan gelombang setinggi 1,25-2,5 meter. Gelombang setinggi 2,5-4 meter muncul di perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Barat, serta sebagian kawasan timur Indonesia.

Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Nelly Florida Riama, di Jakarta, menjelaskan, ketinggian gelombang di area itu tak dipengaruhi penjalaran gelombang dari lokasi jauh dan aman untuk aktivitas penyeberangan laut. ”Ini berbahaya bagi nelayan dengan kapal kecil, apalagi jika curah hujan tinggi,” ujarnya.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018).

Abu vulkanik

Sejauh ini, kecepatan angin yang bergerak di perairan Selat Sunda memicu abu vulkanik Anak Krakatau hingga mencapai Kota Cilegon, Banten. Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau meletus disertai lontaran lava pijar dan awan panas.

Kepala Subbidang Prediksi Cuaca BMKG Agie Wandala Putra mengatakan, sebaran debu terpantau di ketinggian 7-12 kilometer oleh angin ke arah barat daya. ”Perlu diantisipasi pergerakan angin di permukaan sampai 7 kilometer. Angin ini bergerak ke utara dan timur laut menuju kawasan Banten hingga pesisir utara Banten,” ujarnya.

Perlu diantisipasi pergerakan angin di permukaan sampai 7 kilometer. Angin ini bergerak ke utara dan timur laut menuju kawasan Banten hingga pesisir utara Banten.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, dalam siaran pers, menambahkan, warga yang berpotensi terdampak sebaran abu vulkanik diimbau memakai masker atau kacamata saat keluar rumah. Warga dan wisatawan dilarang beraktivitas di radius 5 kilometer dari puncak kawah agar terhindar dari materi erupsi, seperti awan panas dan abu vulkanik pekat.

Peringatan dini tsunami

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, potensi tsunami di area Selat Sunda meningkat karena gempa tektonik akibat subduksi lempeng dan pergeseran sesar-sesar di darat dan laut. Bencana itu juga terjadi karena aktivitas vulkanik Anak Krakatau pada Sabtu (22/12/2018).

Terkait hal itu, BMKG mengembangkan sistem peringatan dini tsunami di kawasan tersebut untuk memperingatkan warga di kawasan itu agar menyelamatkan diri sebelum tsunami menerjang pantai. Rencana itu direalisasikan pada Selasa (25/12) dengan memasang sistem pemantau gempa di enam lokasi, yaitu Liwa, Kalianda, Bandar Lampung, Serang, Cigeulis, dan Tangerang.

”Sistem ini terpisah dari sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) yang beroperasi sejak 2008,” kata Rahmat. Sistem itu memantau tsunami berbasis gempa tektonik skala 5 Magnitudo ke atas. Sementara perangkat dioperasikan di Selat Sunda dengan intensitas gempa minimal M 2,5. Itu menjadi dasar peringatan tsunami.

Kepala Subbidang Manajemen Operasi Tsunami BMKG Yanuar Arifin mengatakan, di area Selat Sunda, ada beberapa sumber gempa dan bisa memicu tsunami, yakni subduksi lempeng, sesar, dan aktivitas vulkanik. Karena gempa vulkanik kecil, skala pemantauan diturunkan. ”Frekuensi gempa 1-3 hertz dan longsoran material dan tremor karena naiknya magma hanya 0,01-0,1 hertz,” ujarnya. (ERIKA KURNIA)/YUNI IKAWATI/Kompas Cetak

Be the first to comment

Leave a Reply