Gunung Merapi Belum Membahayakan, Aktivitas Gunung Soputan Juga Mereda

Ilustrasi: Gunung Merapi (kiri) dan Merbabu dapat terlihat dari ruas tol Salatiga-Boyolali yang masih dalam tahap penyelesaian di Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (25/9/2018). (Sumber: KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)

Yogyakarta, Baranews.co – Gunung Merapi kembali mengeluarkan guguran lava pada Minggu (16/12/2018), pukul 19.08. Itu bukan peristiwa luar biasa dan belum membahayakan, sehingga  masyarakat diminta tak khawatir dengan aktivitas gunung di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu.

“Ini fenomena Merapi yang biasa dengan intensitas dan guguran yang masih  kecil,” kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida di Yogyakarta, Senin (17/12/2018).

Hanik menjelaskan, guguran lava kembali mengarah ke bukaan kawah Merapi wilayah hulu Sungai Gendol, Sleman. Guguran itu menyebabkan luncuran lava pijar sekitar 300 meter.

“Sebenarnya, guguran lava  terjadi sejak 22 Agustus 2018. Hanya  saja dominan mengarah ke dalam kawah atau barat laut. Sesekali ke arah tenggara,” kata dia.

ARSIP BPPTKG

Rekaman visual guguran lava Gunung Merapi, Minggu (16/12/2018) malam, yang terekam dari kamera pemantau (CCTV) milik BPPTKG di wilayah Deles, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Guguran lava yang mengarah ke luar kawah, di sisi tenggara puncak Merapi juga terjadi 23 November 2018. BPPTKG mencatat guguran lava itu terjadi empat kali. Jarak luncur terjauh hanya 300 meter. Di wilayah itu tidak ada aktivitas penduduk.

Menurut Hanik, guguran lava terjadi akibat pertumbuhan kubah lava. Namun, laju pertumbuhan itu masih lambat sehingga  belum membahayakan.

Volume kawah Merapi itu  diperkirakan  10 juta meter kubik, sedangkan kubah lava yang terbentuk baru sekitar 350.000 meter kubik.

“Pertumbuhan kubah lava masih sangat rendah,  2.000-3.000 meter kubik per hari. Jadi, belum ada perubahan signifikan,” katanya. Status Merapi juga masih pada tingkat Waspada (Level II). Masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius tiga  kilometer dari puncak Merapi.

“Aktivitas wisata yang ada di atas radius tiga kilometer,  seperti wisata jip lava tour masih diperbolehkan. Tetapi, untuk pendakian, kami belum menganjurkannya,” ucapnya.

Pihak BPPTKG  meminta masyarakat tetap tenang dan waspada. Jangan sampai masyarakat terpengaruh informasi-informasimenyesatkan dan membuat panik. Melalui media sosial, BPPTKG secara berkala menginformasikan perkembangan status  Gunung Merapi.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS

Informasi terkait guguran lava Gunung Merapi, Minggu (16/12/2018) malam, yang disampaikan melalui akun Twitter resmi milik BPPTKG.

Secara terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta (BPBD DI Yogyakarta) Biwara Yuswantana mengatakan, salah satu upaya mitigasi dilakukan dengan membentuk desa tangguh bencana (destana). Warga desa dilatih langkah awal evakuasi diri jika sewaktu-waktu terjadi erupsi.

“Saat ini, semua desa yang berada di KRB (Kawasan Rawan Bencana) Merapi sudah menjadi destana. Ada sistem yang dibentuk untuk  evakuasi. Ada titik evakuasi di mana saja, bagaimana menyiapkan kendaraan, hingga mengakses barak pengungsian. Mereka juga sudah diberitahu menyiapkan tas berisi surat-surat penting ketika harus mengevakuasi diri,” jelas Biwara.

Lurah Kepuharjo Heri Suprapto menyampaikan, warga desa sudah mendapat pelatihan evakuasi mandiri bila Merapi erupsi. Desa Kepuharjo juga telah ditetapkan sebagai destana. Desa itu ada dalam KRB III jika mengacu erupsi Merapi tahun 2010.

“Desa kami sudah jadi destana. Sudah siap mengevakuasi mandiri dengan panduan BPBD, jika kondisi memang membahayakan. Misalnya, kalau status Merapi sudah di Level III menuju Level IV, kami siap mengungsi ke barak saat sudah dapat informasi radius lokasi rawan itu mencapai tujuh kilometer dari puncak Merapi,” kata Heri.

Soputan mereda

Dari Manado, Sulawesi Utara,  dilaporkan, setelah meletus dahsyat Minggu lalu,  aktivitas  Gunung Soputan (tinggi 1.784 mdpl) di Kabupaten Minahasa Tenggara dan Minahasa Selatan,   mereda. “Soputan mendadak diam, tremor amplitudo rendah,” kata petugas pengamat Gunung Api Soputan Asep Syaifullah.

Amplitudo pada seismograf tercatat satu milimeter. Bandingkan dengan gerak tremor amplitudo Minggu dini hari saat meletus, yakni  40 milimeter.

BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA

Gunung Soputan yang terletak di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara meletus pada Rabu (3/10/2018) pukul 08.47 WITA. Pada Minggu (16/12/2018) letusan kembali terjadi, tetapi sehari kemudian, Senin, sudah mereda.

Meski demikian, ujar Asep, status Soputan masih Siaga (level III), naik dari status Waspada. Warga juga dilarang melakukan aktivitas di kaki gunung hingga radius enam kilometer.

Penurunan aktivitas Soputan juga  jangan membuat warga lengah, karena  belum benar-benar berhenti. Masih ada gempa vulkanik dalam dan dangkal yang mengindikasikan suplai magma.

Meredanya aktivitas Soputan diikuti hujan deras di sebagian Minahasa Tenggara, Minahasa Selatan, Tomohon, dan Kota Manado. Sejumlah wilayah di Tomohon longsor, menutup ruas jalan Manado-Tomohon.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut Joi Oroh mengatakan, pihaknya mengumpulkan data longsor. Belum ada laporan korban jiwa. “Jalan Manado-Tomohon sudah terbuka,” katanya. (NINO CITRA ANUGRAHANTO/JEAN RIZAL LAYUCK/Kompas Cetak)

Be the first to comment

Leave a Reply