AIDS di Karawang, Tidak Kaitan Antara Desa dan Kota dengan Penularan HIV/AIDS

Ilustrasi (Sumber: indiatoday.in)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

“Pengidap penyakit berbahaya itu (maksudnya HIV/AIDS-pen.) telah menyebar sampai ke pedesaan.” Ini dikatakan oleh Bupati Karawang, Jawa Barat, dr Cellica Nurrachadiana (kompas.com, 13/12-2018).

Jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Kab Karawang sejak 1992 sampai November 2018 tercatata 1.062.

Dengan menyebutkan bahwa HIV/AIDS sebagai penyakit berbahaya dikesankan penyakit lain tidak berbahaya. Padahal, semua penyakit berbahaya bahkan ada yang dalam hitungan jam bisa mematikan. Sedangkan kematian pada pengidap HIV/AIDS terjadi di masa AIDS yang secara statistik setelah 5-15 tahun tertular HIV.

Selain itu tidak ada kaitan langsung antara kota dan desa dengan (risiko) penularan HIV/AIDS karena penularan HIV/AIDS terkait langsung dengan perilaku seksual orang per orang. Risiko tertular HIV bisa terjadi di kota dan di desa jika melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS.

Persoalan HIV/AIDS di Karawang mulai merebak ketika ada pekerja seks komersial (PSK) asal Karawang yang dipulangkan dari Batam, waktu itu masih dalam wilayah Provinsi Riau sekarang masuk Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Di awal tahun 1990-an ada tiga perempuan yang dipulangkan dari Batam karena mereka terdeteksi HIV-positif melalui survailans tes HIV terhadap PSK.

Yang tidak masuk akal surat dari Dinkes Riau ke Dinkes Jabar ‘bocor’ ke wartawan. Akibatnya, rumah tiga perempuan itu ‘diserbu’ wartawan media massa. “Aneh,” kata ayah salah seorang perempuan tsb. “Anak saya belum sampai di rumah tapi beritanya sudah menyebar.”

[Baca juga: Media Massa Menceraiberaikan Keluarga Kartam*]

Sedangkan perempuan yang lain juga heran karena dia yakin betul tidak pernah diwawancarai wartawan tapi beritanya muncul di media massa

[Baca juga: Derita Panjang Seorang Odha]

Dikatakan bahwa Cellica meminta masyarakat menjauhi perilaku seks bebas. Sebab, katanya, penyebaran HIV/AIDS di antaranya melalui hubungan seks bebas dan jarum suntik.

Lagi-lagi pernyataan Cellica ini mitos (anggapan yang salah) karena risiko tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (seks bebas), tapi karena kondisi saat terjadi hubungan seksual yaitu salah satu atau dua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom. Ini fakta (medis).

Lagi pula tidak jelas apa yang dimaksud dengan seks bebas. Jika seks bebas dimaksudkan zina atau melacur, maka yang menyebabkan terjadi penularan bukan karena seks dengan PSK, tapi karena PSK mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom.

[Baca juga: Karawang ‘Digoyang’ AIDS]

Di bagian lain disebutkan oleh Cellica: “Upaya kami untuk menekan jumlah pengidap HIV/AIDS yang meningkat ini,dengan melakukan pencegahan populasi khusus atau rentan, penyebarluasan informasi HIV/AIDS di sekolah, lapas (lembaga pemasyarakatan), hingga lingkungan masyarakat.:

Pernyataan di atas menunjukkan sasaran yang tidak tepat. Orang-orang dengan perilaku berisiko tertular HIV/AIDS adalah laki-laki dewasa yang melakukan hubungan seksual berisiko, tidak pakai kondom, dengan PSK di Karawang atau di luar Karawang. Kalau hanya PSK yang disasar tidak ada manfaatnya karena mereka tidak bisa menolak ajakan laki-laki untuk seks tanpa kondom karena uang.

Selama Pemkab Karawang tidak melakukan intervensi terhadap laki-laki pelanggan PSK yaitu memaksa mereka memakai kondom, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru akan terjadi di Karawang yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply