Mendagri Sebut Blangko KTP-El Dicuri Anak Mantan Pejabat Dukcapil

Sejumlah blangko KTP elektronik yang beredar dan diperoleh di Pasar Pramuka Pojok, Jakarta Pusat, dan pasar daring Tokopedia, Rabu (5/12). Peredaran blangko KTP-el di kedua pasar ini melanggar hukum karena dokumen negara dilarang diperjualbelikan dan diedarkan secara bebas. (Sumber: ARSIP KOMPAS)

Jakarta, Baranews.co – Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan, ditemukannya penjualan blangko KTP-el melalui toko dalam jaringan Tokopedia dan sejumlah toko di Pasar Pramuka tidak disebabkan oleh jebolnya sistem jaringan basis data Kemendagri.

Setelah dilacak, penjual blangko KTP-el di Tokopedia diketahui anak mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tulang Bawang yang mencuri 10 keping blanko dari ruangan ayahnya.

Hal itu ditegaskan Tjahjo dalam rapat kerja Persiapan Pemilu 2018 dengan Komisi II DPR, Komisi Pemilihan Umum, dan Badan Pengawas Pemilu, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (6/12/2018).

“Data NIK-nya aman. Sistem data base kami tidak jebol. Yang benar ada anak mantan pejabat Dukcapil yang mencuri 10 KTP itu dan dijual. Itu sudah kami laporkan ke polisi,” kata Tjahjo.

Direktur Jenderal Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh menambahkan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan penjual yang bernama Nur Ishadi Nata melalui telepon. Menurut Zudan, yang bersangkutan sudah mengakui menjual 10 keping blangko yang ia ambil dari ruangan ayahnya.

“Jadi semua sudah tertangani dan pelaku yang menjual di Tokopedia sudah teridentifikasi sampai ke nomor rekening dan nama pemilik rekeningnya,” kata Zudan.

Zudan menuturkan, setelah mendapat informasi dari Tim Kompas yang sedang melakukan laporan investigasi terkait penjualan blangko KTP-el, pada 3 Desember 2018, pihaknya segera melacak data pelaku yang menjual blangko KTP-el. Pada 4 Desember 2018, Ditjen Dukcapil bertemu dengan perusahaan pencetak blangko serta berkoordinasi dengan Tokopedia, yang mengunggah penjualan blanko secara online tersebut.

Bersamaan dengan itu, Kemendagri juga melaporkan ke Polda Metro Jaya dugaan penjualan blangko KTP-el tersebut. Per 5 Desember, Tokopedia pun sudah menurunkan penawaran penjualan blanko KTP-el dari lamannya.

Zudan memaparkan, begitu Kemendagri mendapatkan data pelaku dari Tokopedia, data awal itu langsung dicek dengan database kependudukan. Sejak kemarin sore dan pagi ini, Kadis Provinsi Lampung dan Kadis Kabupaten Tulang Bawang sudah mendatangi rumah pelaku yang menawarkan blanko tersebut untuk mendalami motif dan modus tindakannya. “Setiap blanko KTP-el ada cip dan nomor serinya sehingga mudah dilacak,” kata Zudan.

Sebelumnya, liputan investigasi Kompas mengungkap peredaran dan jual beli blangko KTP-el asli di pasaran. Blangko KTP elektronik asli dengan spesifikasi resmi milik pemerintah beredar dan diperjualbelikan di pasaran. Padahal, sebagai dokumen negara, blangko KTP-el tidak boleh beredar di pasaran dan diperjualbelikan.

Tim liputan Kompas memperoleh blangko KTP-el asli di Pasar Pramuka Pojok, Jakarta Pusat, dan salah satu penjual di platform e-dagang Tokopedia. Blangko tersebut identik dengan blangko resmi yang hanya dikeluarkan pemerintah. Hologram di blangko pun menyerupai hologram KTP-el asli.

Saat ditempelkan ke telepon pintar yang dilengkapi NFC (peranti komunikasi antardua perangkat), cip di semua blangko mengidentifikasi diri sebagai NXP, sama dengan cip di KTP-el asli.

Pengujian secara teknis yang dilakukan ahli cip Eko Fajar Nur Prasetyo mengidentifikasi bahwa satu blangko dan satu KTP-el yang diperoleh dari Pasar Pramuka Pojok serta satu blangko yang diperoleh dari Tokopedia memakai cip NXP. (AGNES THEODORA/Kompas Cetak)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*