PIALA AFF 2018: Timnas Keok Edy Rahmayadi “Kambinghitamkan” Wartawan

Ilustrasi (Sumber: football-tribe.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Indonesia gugur di Piala AFF, Edy Rahmayadi: Kalau wartawannya baik, timnasnya baik. Ini judul berita di “BBC News Indonesia” (24/11-2018). Ini benar-benar ngawur dan di luar jangkauan akal sehat serta menohok nalar.

Pertama, kesebelasan, sekarang disebut timnas (tim nasional) sepakbola, tidak dilatih oleh wartawan sehingga tidak ada kaitan langsung antara (berita) yang ditulis wartawan berupa kritik terhadap persepakbolaan.

Kedua, kritik yang dilancarkan oleh wartawan terhadap timnas PSSI, dalam hal ini yang berlaga di Piala AFF 2018, adalah bagian dari kerja wartawan dengan catatan sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik.

Ketiga, kalau pengurus PSSI, dalam hal ini Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, merasa ada berita yang merugikan PSSI, pribadi dan sebagai ketua, maka sampaikan nota protes ke Dewas Pers (media cetak dan media online) atau ke IJTI (media televisi) atau tempuh jalur hukum.

Keempat, kalaupun disebut kesalahan sebagai ulah sebagian media massa dan media online adalah menulis berita dengan pijakan hiperrealitas yaitu prestasi dan kemampuan semu timnas. Ini dialami oleh Timnas PSSI ketika berlaga di Piala AFF 2010 ketika itu PSSI dikalahkan Malyasia di final.

[Baca juga: Timnas PSSI Korban Hyperreality Stasiun Televisi Nasional]

Dengan cara Edy menjadikan wartawan sebagai ‘kambing hitam’ kekalahan PSSI merupakan cara-cara yang tidak profesional. Kalau ternyata PSSI memakai tulisan wartawan sebagai pedoman dalam pembinaan dan pelatihan pemain sepakbola itu pun bukan salah wartawan karena yang dilakukan wartawan adalah mengulas dengan sumber-sumber yang kompeten.

Disebutkan pernyataan Edy itu sebagai jawaban terhadap wartawan yang  bertanya tentang langkah yang akan dilakukan PSSI setelah timnas kandas di babak penyisihan grup.

Semula dikabarkan Edy yakin bahwa Timnas lolos dari fase penyisihan grup, tapi fakta berbicara lain. Indonesia ditumbangkan Singapura 1-0 dan dikalahkan Thailand 4-2. Minggu (25/11) Indonesia akan menghadapi Filipina. Apa pun hasilnya tidak bisa lagi mengangkat Timnas Indonesia ke babak selanjutnya.

Menyalahkan wartawan, bahkan di awal tahun 1990-an ada wartawan yang ditendang oleh ajudan pengurus PSSI, agaknya bagian dari ‘pembelaan diri’ (pengurus) PSSI.

Ini berbeda jauh dengan bulu tangkis di tahun 1980-an sampai 1990-an. Pelatih sekelas alm. Tahir Djide dan Christian Hadinata tidak pernah ‘memusuhi’ wartawan ketika gelombang kritik dilancarkan terhadap perbulutangkisan. Tahir, misalnya, meladeni penulis ketika meliput Tahir melatih Icuk Sugiarto menghadapi kejuaraan Thomas Cup 1984 di (waktu itu) Stadion Utama Senayan, sekarang GBK. Ketika itu dia menghargai kehadiran wartawan Indonesia di pertandingan bulu tangkis internasional. “Saudara ikutlah nanti (meliput kejuaraan Thomas Cup di Kuala Lumpur-pen.),” kata Tahir mengajak penulis. Rupanya, Tahir menjadikan berita sebagai salah satu alat memantau kelemahan pelatihan.

Bang Ali, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, sebagai organisasi dengan anggota klub profesional sering melontarkan pernyataan yang sama sekali tidak mendukung persepakbolaan nasional.

Ada Ketua Umum PSSI Bardosono yang menyebut ‘Sepakbola Pancasila’. Ada pula pengurus yang ‘dibela’ pengawalnya dengan menendang dada wartawan dalam menanggapi kritik. Ada pula pengurus yang menyebut ‘sepakbola ngotot’, dan sekarang menyalahkan wartawan.

Selama cara-cara yang ditempuh PSSI hanya mencari ‘kambing hitam’, maka selama itu pula persebapakbolan nasional menjadi penghuni titik nadir. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply