Ulah (Sebagian) Perempuan Penumpang Taksi Daring

Ilustrasi: Seorang penumpang taksi di Iran menyerahkan pembayaran ke sopir yang juga perempuan (Sumber: gettyimages.com)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Hujan mengguyur Kota Jogja sejak menjelang subuh. Padahal, hari ini (22/11-2018) adalah hari bersejarah bagi banyak orang tua karena anak-anak mereka akan diwisuda di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sambil menunggu anak saya, Putri, dirias teman-temannya di kamar sebuah hotel di Jalan Kaliurang, lebih dikenal sebagai Jakal, Km 4,5 saya mencari taksi melalui aplikasi Grab.

Selain karena taksi cepat dapat, yang bikin saya kaget adalah nama driver taksi online, Go-Car, itu ternyata nama seorang perempuan. Ini kejutan di pagi hari yang diwarnai hujan rintik-rintik.

“Saya sudah di depan, Pak.” Suara di ponsel kian jelas menunjukkan bahwa driver Go-Car itu memang seorang perempuan. Sedikit pun tidak terbayang di pikiran saya bahwa ada driver taksi online perempuan di Yogyakarta.  Di Jakarta pun saya pernah kaget karena nama driver Gojek yang saya pesan ternyata nama seorang perempuan.

Dulu ada juga perempuan sopir bus antarkota dari Jakarta-Surabaya. Di Jakarta sendiri tidak sedikit perempuan yang jadi sopir bus Transjakarta.

Kita tidak perlulah menyoal sopir atau driver motor dan mobil daring seorang perempuan karena kemampuan untuk menyetir tidak ditentukan oleh kekuatan fisik. Kemampuan mengemudikan kendaraan bermotor bisa dilatih. Bahkan, tidak sedikit perempuan yang jadi pilot dan copilot pesawat tempur dan komersial.

Di Brunei Darussalam ada ironi. Perempuan dilarang mengemudikan motor dan mobil di jalan raya. Tapi, ada perempuan warga Brunei yang jadi pilot dan kopilot Royal Brunei Airlines. Mereka menerbangkan jumbo jet lintas benua, tapi di negaranya tidak boleh mengemudikan mobil,

Semula saya terpikir driver perempuan akan mengalami perlakuan yang tidak layak dari penumpang, terutama laki-laki, misalnya pelecehan verbal. Tapi, dugaan saya itu meleset karena, “Justru penumpang perempuan yang paling rewel bahkan judes, Pak,” kata Ayu, bukan nama sebenarnya, driver Go-Car tadi.

Pengalaman Ayu, 30-an tahun, itu sejalan dengan kondisi di gerbong khusus perempuan di KRL Jabodetabek. Beberapa perempuan lebih memilih berdesak-desakan dengan laki-laki karena di gerbong khusus perempuan suasananya jauh lebih ‘kasar’ dan ‘keras’. “Duh, Pak, tidak ada toleransi sesama perempuan,” kata seorang penumpang KRL yang memilih gerbong umum tentang alasannya tidak di gerbong khusus.

Semula Ayu bekerja di kantor, tapi dia merasa terikat dan membosankan. Maka, dia memilih driver taksi daring. Bagi suaminya, karyawan swasta, tidak masalah, tapi ibunya tidak setuju, “Sudah disekolahkan tinggi-tinggi kok malah jadi sopir,” kata Ayu menirukan keluhan ibunya.

“Saya permah menurunkan penumpan perempuan di tengah perjalanan, Pak,” kata Ayu sambil melihat celah untuk masuk ke halaman Gedung GSP di Bulaksumur. Hujan kian deras yang membuat laju kendaraan lambat karena yang akan turun terhalang hujan.

Pengalaman Ayu itu jadi ironi karena sesama perempuan ternyata tidak saling berempati. “Justru penumpang laki-laki lebih sopan dan menghargai,” kara Ayu dengan nada kecewa. Ibu dua anak ini, satu di SD dan satu lagi di TK, merasa nyaman jadi driver taksi online. Tapi, dia tetap berharap ada regulasi yang melindungi mereka dalam bekerja.

Ya, sabarlah, Mbak Ayu, karena itu realitas sosial yang kita hadapi sehari-hari di tengah masyarakat yang belum mumpuni dalam menghargai sesama dalam kancah empati. * [kompasiana.com/infokespro] *

*GSP UGM, Bulaksumur, Kota Jogja, DI Yogyakarta ….

Be the first to comment

Leave a Reply