TENIS: Federer Menatap Musim 2019

Roger Federer mengusap wajahnya setelah kehilangan poin pada semifinal turnamen Final ATP melawan Alexander Zverev di O2 Arena, London, Sabtu (17/11/2018) (Sumer: Kompas/AP PHOTO/TIM IRELAND)

Berusia 37 tahun, meraih gelar juara grand slam ke-20 di Australia Terbuka, dan nomor satu dunia. Meski tersingkir pada semifinal turnamen Final ATP, tiga hal yang dicapainya pada 2018 itu membuat Roger Federer tetap semangat melanjutkan perjalanan pada musim 2019.

“Saya katakan pada Anda, saya sangat bangga ketika  berusia 37 tahun masih bisa kompetitif dan menikmati bermain tenis. Meski kecewa karena tersingkir di sini, tetapi jika melihat ke belakang, saya puas dengan musim ini,” kata Federer di The O2 Arena, London, Inggris, Sabtu (17/11/2018).

Di tempat yang memberinya dua gelar juara, dari total enam juara Final ATP, itu, Federer disingkirkan Alexander Zverev, 5-7, 6-7 (5-7).  Dalam final yang berlangsung Minggu malam waktu setempat, petenis Jerman berusia 21 tahun itu berebut gelar juara dengan Novak Djokovic yang menang atas Kevin Anderson, 6-2, 6-2.

“Saya kecewa karena dalam beberapa pertandingan, kalah dengan skor ketat. Tetapi, dalam beberapa hal, ini telah menjadi tahun yang bersejarah. Menjadi nomor satu dunia menjadi momen besar dalam hidup saya karena saya tak pernah menduga bisa berada di sana lagi,” kata Federer dalam laman resmi ATP.

AP PHOTO/TIM IRELAND

Roger Federer (kiri) menyalami Alexander Zverev (Jerman) yang mengalahkannya pada semifinal turnamen Final ATP di O2 Arena, London, Inggris, Sabtu (17/11/2018). Setelah tersingkir dari turnamen akhir musim itu, Federer mulai menatap musim 2019.

Selain kekalahan dari Zverev, Federer merujuk pada kekalahan dari Anderson di perempat final Wimbledon. Federer memenangi dua set pertama dan mendapat match point, tetapi akhirnya dia kalah, 6-2, 7-6 (7-5), 5-7, 4-6, 11-13. Meski kecewa, Federer menilai, kekalahan ketat itu membuatnya percaya diri masih bisa meraih kemenangan. “Kekalahan seperti itu membuat saya percaya, saya masih bisa menang,” katanya.

Pada Januari 2017, Federer berada pada peringkat ke-17 dunia setelah enam bulan sebelumnya tak bertanding karena cedera lutut. Dia tak pernah berada pada peringkat serendah itu selama 15 tahun.

Januari 2018, Federer mempertahankan gelar juara Australia Terbuka. Itu menjadi gelar grand slam ke-20 sejak bermain di arena tenis profesional pada 1998. “Kata Pete Sampras, jika masih bisa menjuarai grand slam, berarti itu musim yang bagus,” katanya. 

Pada 19 Februari, Federer kembali ke puncak peringkat dunia setelah memenangi turnamen di Belanda. Terakhir kali, posisi itu ditempati Federer pada 9 Juli 2012.

Dengan usia 36 tahun 6 bulan, Federer pun menjadi petenis nomor satu tertua. Dia akan mengakhiri musim 2018 pada peringkat ketiga dunia. Untuk ke-14 kalinya, dia berada pada tiga besar di akhir musim.

Berdasarkan pengalaman tahun ini, Federer pun tak sabar menanti musim berikutnya. Pernyataan itu menjadi kabar baik bagi penggemar Federer karena maestro tenis asal Swiss itu belum berencana menggantung raket. Dia mengatakan, akan berdiskusi dengan tim pelatih untuk menentukan jadwal 2019.

Direncanakan, Federer akan bermain di lapangan tanah liat, turnamen yang tak diikutinya pada musim 2018 dan 2017. Turnamen di lapangan berkarakter lambat itu dilewatkan agar Federer bisa menjaga kondisi tubuhnya karena pertandingan di lapangan tersebut kodisi fisik yang lebih prima.

“Mungkin saya akan bermain lagi, disesuaikan dengan jadwal keluarga dan Mirka (istrinya). Saya harus membagi waktu antara tenis dan keluarga. Saya senang memiliki waktu bersama mereka,” katanya. (ap/reuters)/Kompas Cetak

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*