PENDIDIKAN KARAKTER: Permainan Tradisional Perkuat Pendidikan Karakter

Seorang remaja memainkan permainan tradisional yang dikenal sebagai ‘engklek’. (Sumber: ERIKA KURNIA UNTUK KOMPAS)

Jakarta, Baranews.co – Permainan rakyat dan olahraga tradisional perlu diperkenalkan kembali secara masif kepada masyarakat luas. Upaya ini dilakukan sebagai Pemanfaatan Obyek Pemajuan Kebudayaan, yang salah satunya bertujuan untuk membangun karakter bangsa.

Asisten Deputi Nilai dan Kreativitas Budaya, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Alfredo Sani, di Jakarta (14/11/2018), mengatakan dalam rapat koordinasi Pembangunan Karakter Melalui Pemanfaatan Obyek Pemajuan Kebudayaan beberapa waktu lalu dikoordinasikan terkait berbagai kebijakan agar permainan rakyat sebagai salah satu obyek pemajuan kebudayaan kembali jaya dan mampu diubah jadi soft power bangsa.

Manfaat strategis dalam permainan rakyat adalah sebagai sarana pembangunan karakter karakter bangsa, sebagaimana amanat dalam Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

“Nilai-nilai penguatan pendidikan karakter seperti jujur, bekerja keras, peduli sosial dan peduli lingkungan akan lebih mudah tertanam bila dimasukkan dalam konsep permainan rakyat yang menghibur dan menyenangkan, dan pastinya lebih nyata dari pada permainan virtual,” kata Alfredo.

Indonesia punya banyak permainan tradisional atau rakyat. Petak umpet, kelereng, egrang, lompat tali, layangan, gelasing, gatrik, pletekon, rangku alu, engklek dan meriam bambu merupakan beberapa permainan rakyat dari 2.600 permainan tradisional Indonesia yang sering dimainkan anak-anak sebelum munculnya era internet dan ponsel pintar. Sayangnya, generasi bangsa sekarang lebih tertarik bermain melalui dunia virtual.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghadirkan Pameran Permainan Tradisional di Terminal 3 Internasional Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (27/8/2018). Ragam alat permainan tradisional dari sejumlah daerah di Nusantara, seperti congklak, englek, gasing, wayang, egrang, bola bekel, dan dam-daman disuguhkan lengkap dengan informasi terkait sejarah, asal-usul, makna, filosofi dan perkembangannya. Penyelenggaraan pameran ini di ruang publik yang menjadi pintu gerbang bangsa ini untuk memperkenalkan budaya asli Indonesia kepada khalayak luas.

Dalam penjelasan di Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan disebutkan bahwa permainan rakyat adalah salah satu dari 10 Obyek Pembangunan Kebudayaan, yang diartikan sebagai berbagai permainan yang didasarkan pada nilai tertentu dan dilakukan oleh kelompok masyarakat secara terus menerus dan diwariskan pada generasi berikutnya, yang bertujuan untuk menghibur diri.

Guru Besar Antropologi Universitas Hasanuddin Makassar, Hamka Naping, mengatakan, melalui permainan rakyat, pendidikan karakter akan terinternalisasi dengan mudah terserap oleh pemain permainan, baik secara sadar atau tidak sadar.

“Manusia itu Homo Ludens, yakni makhluk yang memainkan permainan. Karena itu, perlu disiapkan kebijakan khusus terkait membangkitkan kembali permainan rakyat akan mempermudah dalam mendidik generasi masa depan yang lebih unggul,” tutur Hamka. (ESTER LINCE NAPITUPULU/Kompas Cetak).

Be the first to comment

Leave a Reply