REHABILITASI LOMBOK: Ada Usulan Alternatif di luar Rumah Tahan Gempa di Lombok

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayan Puan Maharani memimpin rapat koordinasi tingkat menteri di Jakarta, Senin (12/11/2018). Rapat ini bertujuan mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa bumi Lombok, NTB (Sumber: STEFANUS ATO UNTUK KOMPAS)

Jakarta, Baranews.co – Pemerintah konsisten membangun rumah tahan gempa di masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ada pula usulan untuk membangun rumah model lain pascagempa Lombok.

“Kami masih berpegangan pada rumah tahan gempa dan memang harus seperti itu,” kata Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta (12/11/2018), usai mengikuti rapat koordinasi tingkat menteri untuk percepatan penanganan rehabilitasi rekonstruksi pascagempa bumi Lombok, NTB.

Rapat dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, yang dihadiri Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, dan Gubernur NTB Zulkieflimansyah. Hadir juga perwakilan dari kementerian lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Polri, TNI, dan sejumlah badan usahah milik negara.

Agus mengatakan, meski ada usulan dari pemerintahan daerah untuk mencari alternatif lain, pada dasarnya rapat itu masih konsisten membangun rumah yang tahan gempa di Lombok. “Ada beberapa masukan dari Gubernur (NTB). Semua masukan itu menjadi bahan evaluasi kami,” tuturnya.

DOK. HUMAS PEMKAB LOMBOK BARAT

Panel rumah instan sederhana sehat (Risha) siap dipasang di Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur, Nusa Tenggara. Namun, baru sebagian panel yang didatangkan ke desa itu.

Zulkieflimansyah mengatakan, pembangunan rumah tahan gempa di Lombok tidak mudah dilaksanakan sebagaimana yang direkomendasikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR). Hal itu karena masyarakat takut menyalahi aturan yang dipersyaratkan untuk membangun konstruksi rumah tahan gempa.

“Rumah tahan gempa itu ada persyaratan-persyaratan. Persyaratan ini tidak gampang juga,” ucapnya.

Kementerian PUPR telah merekomendasikan model rumah tahan gempa yang disebut Risha (Rumah Instan Sederhana Sehat). Sistem pembangunan rumah tahan gempa ini merupakan pembangunan rumah tumbuh bongkar pasang dengan tiga panel beton tulangan pracetak untuk kolom, balok, dan lainnya.

Masyarakat tinggal memasang panel kerangka tersebut menggunakan baut. Sementara untuk dinding, bisa diisi sendiri dengan batu bata, batako, papan, ataupun bambu. (Kompas, 27/8/2018)

Zulkieflimansyah mengakui kendala lain yang dihadapi, yaitu sebagian masyarakat masih trauma dengan perumahan beton. Di satu sisi, pembangunan rumah menggunakan kayu juga dikhawatirkan merusak lingkungan dan menimpulkan bencana baru.

“Mudah-mudahan dengan rapat ini kita diberikan ruang agar fasilitator dapat dibantu daerah (pemda) mencari solusi. Kami yakin semua masih di jalur yang benar,” katanya. (E13)/Kompas Cetak

Be the first to comment

Leave a Reply