Cegah AIDS di Gresik dengan Razia Warung Remang-remang

Ilustrasi (Sumber: tribune.com.pk)

Oleh: Syaiful W. HARAHAP

Ancaman penularan virus HIV/AIDS muncul dari keberadaan warung remang-remang di sudut Kota Santri, Gresik, Jatim. Ini lead pada berita Satpol PP Razia Cegah Penularan HIV/AIDS di jpnn.com (8/11-2018).

Data Dinkes Gresik menunjukkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Kab Gresik sampai Oktober 2018 berjumlah 88.

Judul berita ini sama sekali tidak menggambarkan realitas sosial tentang risiko penularan HV/AIDS karena sebelum dirazia bisa saja sudah terjadi penularan HIV/AIDS kalau di tempat itu terjadi hubungan seksual tanpa kondom.

Biar pun perempuan penghibur ditangkap dan dimasukkan ke penjara penyebaran HIV/AIDS tidak akan (pernah) selesai karena:

(a). Yang menularkan HIV/AIDS ke perempuan penghibur itu adalah laki-laki dewasa pengidap HIV/AIDS. Dalam kehidupan sehari-hari laki-laki ini bisa sebagai seorang suami sehingga berisiko pula menularkan HIV ke istrinya (horizontal). Kalau istrinya tertular HIV ada pula risiko penularan HIV ke bayi yang dikandungnya kelak (vertikal), terutama saat persalinan dan menyusui dengan air susi ibu (ASI).

(b). Ada laki-laki dewasa yang berisiko tertular HIV/AIDS dari perempuan penghibur pengidap HIV/AIDS jika hubungan seksual mereka lakukan dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom. Dalam kehidupan sehari-hari laki-laki ini bisa sebagai seorang suami sehingga berisiko pula menularkan HIV ke istrinya (horizontal). Kalau istrinya tertular HIV ada pula risiko penularan HIV ke bayi yang dikandungnya kelak (vertikal), terutama saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI).

Nah, ketika Satpol PP Gresik merazia warung remang-remang sebelummya sudah terjadi hubungan seksual yang berisiko terjadi penularan HIV/AIDS dari laki-laki ke perempuan penghibur dan sebaliknya.

Lead berita ini tidak akurat karena:

Pertama, penularan HIV/AIDS terjadi, al. melalui hubungan seksual penetrasi tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, baik seks vaginal, seks anal dan seks oral dari yang mengidap HIV/AIDS ke pasangannya.

Kedua, ancaman penularan HIV/AIDS bukan karena keberadaan warung remang-remang, tapi karena terjadi hubungan seksual tanpa kondom dari pengidap HIV/AIDS ke pasangannya.

Ketiga, penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bukan karena keberadaan warung remang-remang, tapi juga bisa terjadi di sembarang tempat, seperti penginapan, losmen, hotel melati dan hotel berbintang jika terjadi hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pengidap HIV/AIDS.

Disebutkan dalam berita: Sebagian warung dipergoki menyiapkan perempuan penghibur. Saat dirazia, sebagian cepat-cepat kabur. Mereka dicurigai menjadi penyebar virus.

Yang menyebarkan virus (HIV) bukan perempuan penghibur. Mereka justru korban karena ditulari HIV/AIDS oleh laki-laki pelanggan yang seks tanpa kondom. Selanjutnya ada pula laki-laki yang berisiko terular HIV/AIDS yaitu pelanggan perempuan penghibur yang juga seks tanpa kondom.

Di bagian lain disebutkan: Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gresik dr Mukhibatul Khusnah, mengatakan: ”Jika mereka menjadi penjaja seks, sangat mungkin menularkan. Itu yang dikhawatirkan.”

Yang lebih mengkhawatirkan adalah laki-laki yang menularkan HIV/AIDS ke perempuan penghibur dan laki-laki yang tertular HIV/AIDS dari perempuan penghibur. Mereka ini jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, tanpa kondom. Ini terjadi karena pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi tidak menyadari dirinya mengidap HIV/AIDS karena tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan.

Untuk memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS di Kab Gresik, bulan merazia warung remang-remang, tapi mendeteksi warga yang mengidap HIV/AIDS. Dengan pendampingan pengidap HIV/AIDS akan menghentikan penyebaran HIV/AIDS mulai dari dirinya. * [kompasiana.com/infokespro] *

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*